Posted by: agamaku on: Maret 12, 2006
Seorang anak mengeluh karena dia harus bangun pagi pada hari Minggu dan ke Gereja bersama keluarganya. Baginya itu sangat membosankan. Terlebih karena pada hari Minggu pagi acara TV selalu bagus. Baginya ke Gereja setiap hari Minggu tidak berguna. Lagi pula bacaan Kitab Suci yang didengarnya dan juga kotbah Pastur setiap Misa selalu dia lupa. Jangankan untuk mengingatnya, sering pula dia tidak mendengarkan. Dalam kebosanan itulah dia bertanya pada neneknya.
“Nenek setiap hari Minggu ke Gereja?” tanya anak itu kepada neneknya ketika keluarganya berkunjung ke rumah neneknya.
“Selalu, Cucuku. Seringkali juga nenek mengikuti Misa Harian dan juga Jumat Pertama.” jawab nenek itu.
“Apakah nenek ingat setiap bacaan Kitab Suci dan juga kotbah Pastur ketika Nenek pulang?” tanyanya lagi dengan nada menyelidik.
“Nenek tidak ingat.” jawab nenek itu dengan agak heran.
“Kalau begitu buat apa Nenek ke Gereja? Bukankah Nenek selau tidak ingat lagi bacaan Kitab Suci dan juga kotbah Pastur ketika Nenek pulang ke rumah?” tanya sang cucu dengan nada menyindir.
Sang Nenek hanya menghela nafas dengan sedih. Tapi kemudian dia beranjak mengambil sebuah keranjang buah yang sudah usang dan kotor dari gudang dan memberikannya kepada sang cucu.
“Tolong ambilkan nenek air dari sumur dengan keranjang buah ini.” kata nenek sambil menyodorkan keranjang buah itu kepada cucunya.
Ketika sang anak akan memprotesnya, nenek hanya meletakkan telunjuknya di bibirnya sambil mendesis, “Sshhhh….” dan kemudian mengusir sang anak dengan lambaian kedua tangannya agar sang anak segera melaksanakan perintahnya.
Dengan agak terpaksa sang anak berlari ke sumur. Dalam benaknya agak aneh juga perintah nenek. Keranjang buah kan berlubang-lubang sehingga sulit membawa air dalam keranjang seperti ini.
Dan benar saja, saat sang anak sampai ke tempat neneknya duduk, air di keranjang sudah habis. Tapi nenek memberi isyarat agar sang anak mencobanya sekali lagi. Dan demikianlah sang anak mencoba melakukannya lagi tetapi sang anak mendapati keranjang itu telah kosong ketika sampai di tempat neneknya.
“Aduh, Nenek. Apa sih maksudnya perintah Nenek ini? Mana mungkin keranjang terisi air?” protes sang anak ketika telah beberapa kali dia melakukan perintah neneknya itu.
“Coba engkau lihat keranjang itu.” kata nenek.
“Memang kenapa, Nek?” tanya sang anak sambil memperhatikan keranjang itu dengan seksama sambil memutar-mutar keranjang itu tetapi tidak mendapati apa-apa.
“Bukankah sekarang keranjang itu bersih? Bukankah tadinya keranjang itu usang, kotor dan penuh debu?” tanya nenek kemudian.
“Iya, Nek.” Jawab sang anak dan kemudian merasa heran dan akhirnya bertanya lagi, “Tapi apa artinya, Nek?”
“Seperti ketika engkau pergi ke Gereja setiap hari Minggu, engkau seolah tidak mendapatkan apa-apa di sana. Tetapi seperti air yang membersihkan keranjang ini dari kotoran, Tuhan akan membersihkan hidup kamu dari segala kotoran.”
Sang anak kemudian termangu dan menyadari kesalahannya. Akhirnya dia setiap hari Minggu pergi ke Gereja. Bahkan lebih rajin dengan mengikuti Misa Harian dan Misa Jumat Pertama.
Jikalau yang seminggu sekali saja sudah berat, apalagi yang sehari lima kali ?
hihihihi boleh aja tp kan doi jg ada kewajiban terhadap anaknya and ga boleh diajak
@Rioma,
Iya, ke Gereja Jumat Pertama atau Sabtu sore juga sepi. Asyiknya kalau ke Misa Jumat Pertama Hosti-nya kita sendiri yang nyemplungin ke anggur. Jadi rasa anggurnya berasa banget.
Salam.
Memang kita akan merasa bosan jika ke gereja hanya karena kewajiban, tapi pergi ke gereja karena dorongan kebutuhan saya rasa bukan alasan yang cukup tepat pula, justru bisa menjadi bahaya, sebab orientasi kebutuhan sangat rentan memunculkan kekecewaan dan kemunduran. Banyak yang kemudian menjadi anggota gereja jalan-jalan hanya karena demi memenuhi kebutuhan.
Akan lebih indah jika kita ke gereja didorong oleh kerinduan dan kesadaran untuk menyembah Tuhan.
Jadi pertannyaannya bukan lagi apa yang bisa aku peroleh dari gereja, namun apa yang bisa aku berikan untuk memuliakan Tuhan.
1 | Pipit
April 6, 2006 pada 5:22 am
Good story, Wok. Seringkali kita ke gereja hanya untuk melaksanakan “kewajiban” tetapi bukan karena “kebutuhan”. Sejak kecil telah tertanam bahwa ke gereja itu wajib, sehingga ketika melakukan rutinitas itu kita sudah tak peka lagi, kadang mengikuti misa sambil sms, bercanda, ngobrol, bahkan makan permen. Sungguh harus kita sadari bahwa ke gereja juga merupakan kebutuhan, di mana kita bisa mendengarkan bacaan kitab suci (yang tak sempat kita lakukan di rumah), menerima tubuh dan darah Kristus, melantunkan pujian syukur pada Allah, n banyak lagi. Tapi, sudahkan kita melakukan itu dengan sungguh-sungguh? Belum! Bahkan aku cuma ke gereja kalo Natal, Jumat Agung, n Paskah! Banyak alasan yang sebetulnya semua bisa diatasi kalo kita niat. Berdoa tiap hari kulakukan tapi ke gereja tidak tiap minggu. Kamu tau alasanku kan? Anyway, tulisanmu dah membuka hatiku bahwa bila kita tak bisa datang ke gereja setidaknya kita pertebal iman dengan membaca kitab suci. Aku senang kamu bikin blog ini, at least menambah wawasan spiritualku. GBU.