Bagaimana pandangan ilmuwan terhadap Adam? Seperti kita tahu, di Kitab Suci disebutkan bahwa Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Tetapi rupanya banyak sekali ilmuwan yang menyanggahnya dengan berbagai bukti yang mereka duga sebagai dasar proses penciptaan alam semesta. Demikian pula dengan Teori Darwin yang menganggap bahwa manusia itu merupakan evolusi dari sejenis kera. Bagaimana menanggapi hal ini?
Kebetulah aku sudah menulis sedikit tentang topik ini di: Benarkah Adam Manusia Pertama? Di sana dibahas tentang upaya para ilmuwan untuk menjelaskan proses penciptaan alam semesta (termasuk manusia). Dan penjelasan dari para ilmuwan ini sangat berseberangan dengan apa yang telah ditulis di Kitab Suci.
Ada pula seseorang yang berusaha mengkompromikan antara teori para ilmuwan dengan Kitab Suci. Kompromi ini berusaha menyatukan proses penciptaan alam semesta dengan proses penciptaan yang dari Allah dengan interpretasi pribadi. Tetapi bagaimana pun juga, aku menemukan banyak kejanggalan dengan teori kompromi ini.
Akhirnya sekali lagi Kitab Suci lah yang seharusnya menjadi panutan. Kita tidak perlu lagi bimbang dengan kebenaran Kitab Suci. Berikut adalah keberatan-keberatan yang dapat dijawab oleh Kitab Suci:
- Pernikahan sedarah/sekandung.
- Hukum di Kitab Suci yang melarang perkawinan sedarah/sekandung.
- Usia Bumi.
Jika Adam adalah manusia pertama bersama dengan Hawa, maka seharusnya ada pernikahan sedarah sehingga manusia menjadi bangsa yang besar. Benar! Pada awalnya manusia itu secitra dengan Allah. Manusia generasi pertama masih memiliki kesempurnaan sebagai manusia sehingga tidak ada penyakit atau pun masalah kesehatan. Jadi mereka masih dapat melakukan perkawinan sedarah/sekandung tanpa ada kerusakan genetis yang besar.
Yap, pada jaman Musa dikeluarkan hukum yang melarang perkawinan sedarah/sekandung. Pada dasarnya karena manusia (Adam) telah berdosa sehingga manusia kehilangan kemuliaan dan juga karena telah dikutuk oleh Allah, maka melekatlah “dosa asal” ini pada manusia. Kutukan Allah ini bahkan sampai ke tingkat genetis manusia. Secara perlahan manusia rusak gen-nya masa demi masa. Tidak heran jika dewasa ini semakin banyak penyakit yang mendera manusia. Tidak terbilang penyakit baru yang timbul. Kerusakan secara genetis ini semakin diperparah dengan adanya perkawinan sedarah/sekandung.
Masalah genetis ini ternyata telah timbul pada masa-masa awal sehingga perlu bagi Musa untuk menerapkan hukum ini sehingga kerusakan genetis tidak menjadi parah dan meluas. Jadi tidak ada yang bertentangan antara perilaku perkawinan sedarah yang dilakukan oleh manusia mula-mula dengan larangan pernikahan sedarah pada generasi selanjutnya.
Ini juga menjadi masalah dengan banyaknya teori para ilmuwan yang menyatakan bahwa bumi ini telah berusia 4,5 milyar tahun. Ini tentu bertentangan dengan usia perkiraan bumi dari proses penciptaan dari Kitab Suci yang berkisar hanya beberapa ribu tahun saja (kurang lebih 6.000 tahun). Sedangkan para ilmuwan mendasarkan pendapatnya pada pengukuran material dalam bumi. Para ilmuwan sangat teguh berpendapat tentang usia bumi ini terutama dengan metode pengukuran usia dengan radio aktif atau karbon.
Tetapi walau pun pengukuran dengan radio aktif atau pun dengan karbon menunjukkan angka milyaran tahun, sebenarnya kita tidak bisa yakin 100% bahwa bahan/material yang kita ukur benar-benar telah berumur milyaran tahun. Kita hanya tahu bahwa alat ukur menunjukkan usianya milyaran tahun. Kenyataannya proses penuaan sesuatu dapat berlangsung dengan lebih cepat dengan adanya tekanan yang tinggi atau pun pada panas yang sangat tinggi.
Ilmuwan beranggapan bahwa berlian adalah proses tekanan yang sangat tinggi yang terjadi pada karbon yang berlangsung selama ribuan tahun. Tetapi tahukah Anda bahwa proses itu mungkin tidak berlangsung selama ribuan tahun? Mungkin hanya 1 hari saja! Proses tekanan yang tinggi dan suhu yang sangat tinggi dapat mempercepat proses kristalisasi. Misalnya saja pada kristalisasi pasir menjadi kaca yang dapat kita lakukan dalam beberapa jam dengan suhu dan tekanan yang tinggi.
Proses yang melibatkan suhu dan tekanan sangat tinggi ini pernah beberapa kali terjadi di bumi dan sudah tertulis dalam Kitab Suci dengan adanya hujan meteor di bumi kita ini (seperti peristiwa Sodom & Gomorah). Hujan meteor ini dapat menciptakan kondisi tekanan yang sangat kuat dan panas yang sangat tinggi sehingga dapat mempercepat proses penuaan secara sekejap. Sedangkan kita menganggapnya terjadi ribuan tahun.
Itulah sekedar gambaran tentang pertentangan teori ilmiah yang dapat dijawab oleh Kitab Suci. Penjelasan lebih lanjut dapat ditemukan di tulisanku sebelumnya. Ada pendapat lain?
Tak ada yang bertentangan antara Alkitab dengan para ilmuwan soal asal usul manusia. Para ilmuwan BENAR bahwa Adam BUKAN manusia pertama yang menghuni dunia, sebab sebelum Adam, sudah ada manusia lain di bumi. Faktanya: fosil manusia purba yang ditemukan di berbagai pelosok bumi. Berkat ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Tuhan pada manusia, para ilmuwan dapat mengetahui bahwa fosil-fosil itu adalah BENAR manusia BUKAN monyet, gorila dsb. Mereka (fosil-fosil itu)adalah manusia yang pernah hidup di bumi puluhan bahkan ratusan ribu tahun yang lalu. Mereka jelas bukan keturunan Adam, karena dari Alkitab (Firman Tuhan) kita dapat memperkirakan kalau Adam ada didunia ini antara 10 sampai 20 ribu tahun yang lalu.
Kesimpulannya : Adam BUKAN manusia pertama yang DICIPTAKAN Tuhan, melainkan manusia pertama yang DIBENTUK Tuhan (dari Tanah). Manusia pertama adalah manusia sebelum Adam, yang kita tahu kapan Tuhan menciptakannya. Tapi yang jelas, manusia pertama TIDAK dibuat dari tanah melainkan diciptakan Tuhan lewat ucapannya (Firmannya). Manusia pertama langsung ada dari sebelumnya tiada karena Tuhan menghendakinya. Itulah yang disebut DICIPTAKAN.
Sedangkan Adam, Alkitab memberitahu kita bahwa ia dibentuk (bukan DICIPTAKAN) dari debu tanah. Jadi, Adam dibentuk dari material yang sudah ada di bumi ini yakni debu tanah, BUKAN tercipta atas perkataan Tuhan.
Namun ada perbedaan yang jelas antara manusia YANG DICIPTAKAN (manusia sebelum Adam)dengan Adam (plus Hawa).Manusia sebelum Adam hanya terdiri dari raga dan jiwa (Tidak memiliki Roh), sehingga kehidupan mereka seperti hewan, tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Oleh karena itu, Tuhan tidak meminta pertanggung jawaban terhadap perbuatan mereka selama hidup. Dalam arti, tidak ada surga dan neraka untuk mereka.
Sebaliknya Adam. Dia adalah manusia yang sempurna. Punya tubuh, jiwa dan ROH sehingga bisa membedakan mana yang baik - mana yang jahat dan yang lebih penting lagi, TAHU dan mengenal Tuhan !!
Nah, hampir sebagian besar (90-95 persen) manusia yang ada sekarang adalah hasil perkawinan dari keturunan ADAM + HAWA dengan anak-cucu manusia purba (manusia sebelum ADAM)sehingga muncullah keaneka ragaman ras manusia. Namun tak berarti pula, semua manusia yang ada sekarang adalah hasil perkawinan campur tersebut. Mungkin saja, karena terisolasi letak geografis, masih tersisa keturunan asli manusia sebelum Adam misalnya saja: suku-suku primitif yang masih ada di pulau Papua, aborigin atau suku-suku di pedalaman Afrika. Secara phisik, toh mereka tidak jauh beda dengan fosil-fosil manusia purba yang direkonstruksi para ilmuwan.
Kita tidak bisa mengatakan perkiraan para ilmuwan SALAH. Mereka menyimpulkan usia fosil-fosil yang ditemukan TIDAK SEMBARANGAN melainkan dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu dan teknologi. Kita juga harus sedikit berlogika. Mana mungkin hanya dalam kurun waktu 10 ribu - 20 ribu tahun, manusia bisa berkembang hingga 6 milyaran dari cuma 2 manusia; Adam dan Hawa. Pun dengan berbagai ras, suku dan bangsa. Kalau memang Adam dan Hawa manusia pertama dan kedua, pastilah TIDAK AKAN ADA keaneka ragaman tersebut. 10 ribu - 20 ribu tahun TIDAK akan cukup untuk sebuah evolusi yang bisa membuat keaneka ragaman tersebut. Butuh waktu lebih lama. Dengan kata lain, keaneka ragaman terjadi karena perkawinan silang keturunan ADAM + Hawa dengan para manusia purba yang telah menghuni bumi sebelumnya.
Lantas, SALAHKAH Alkitab ? TIDAK. Alkitab sebagai Firman Tuhan tidak mungkin salah.
Kitab Kejadian sendiri menyiratkan, sebelum Adam sudah ada manusia dibumi ini. Manusia pertama DICIPTAKAN (dari tidak ada menjadi ada) dalam 6 masa penciptaan. Jadi, prosesnya sama seperti Tuhan menciptakan langit, bumi, tumbuh-tumbuhan dan hewan.
Sedangkan Adam, bukan diciptakan melainkan DIBENTUK dari debu tanah di taman Firdaus (sebuah tempat di bumi, bukan di surga).
Coba lihat di kitab Kejadian. Ada tersirat, dua kali Tuhan BIKIN manusia. Pertama, menciptakannya setelah alam semesta (langit, bumi dan segala isinya diciptakan. Kedua, membentuk manusia dari debu tanah (Adam) di taman Firdaus.
Kejadian juga menyebutkan, saat Kain diusir dari orang tuanya (Adam dan Hawa) karena membunuh Habel, Kain merasa ketakutan akan dibunuh oleh orang lain. Menjawab ketakutan Kain, Tuhan pun memberi tanda pada Kain supaya ia TIDAK dibunuh oleh bila bertemu orang lain. (Nah, bukankah itu artinya sudah ada manusia di luar lingkungan Adam+Hawa ???). Kalau memang BELUM ADA manusia lain saat itu, Kain tentunya tak perlu takut dibunuh dan tidak perlu pula Tuhan memeberinya tanda supaya Kain tidak dibunuh orang (manusia) lain !!! Dan memang, kalau saat itu TIDAK ADA manusia lain, Kain tentu tidak akan beranak pinak karena saat itu Adam baru punya dua anak, Kain dan Habel. (Habel sendiri sudah mati dibunuh Kain). Tapi Kitab Kejadian menjelaskan bahwa Kain pergi ke sebuah komunitas, menikah dan melahirkan anak cucu.
Masih di kejadian, (gak tahu pasal dan ayatnya) ada tertulis kurang lebih “saat itu di bumi masih hidup manusia-manusia raksasa yang gagah perkasa”. Mereka jelas bukan anak, cucu atau cicit Adam, karena Adam bukan seorang manusia raksasa. (Alkitab tidak pernah menyebut Adam sebagai manusia raksasa sehingga kita bisa simpulkan kalau Adam adalah manusia normal dengan tinggis seperti manusia jaman sekarang).
Dan yang lebih jelas lagi, Kejadian menyebut 2 jenis manusia yaitu anak-anak Allah dan Anak manusia. Siapa anak-anak Allah ? Anak-anak Allah adalah keturunan Adam dan Hawa yang telah dikarunia Roh oleh Tuhan sehingga bisa membedakan yang baik dan yang jahat.
Sedang ‘anak manusia’ adalah keturunan manusia purba yang hanya memiliki Raga dan Jiwa.
Jadi alkitab dan ilmuwan TIDAK BERTENTANGAN.
Demikian pendapat saya.
Dear Herman,
Penjelasan yang luar biasa. Saya juga pernah membaca buku yang saya lupa judulnya tersebut. Saya juga sudah pernah mengulasnya di: Benarkah Adam Manusia Pertama?
Memang ada 3 aliran, yaitu:
1. Percaya secara mutlak terhadap Kitab Suci,
2. Percaya secara mutlak terhadap ilmu pengetahuan dan menolak Kitab Suci,
3. Berkompromi terhadap point 1 & 2. Rasanya Pak Herman dan pengarang buku yang pernah saya baca tersebut termasuk kategori ini.
Saya sendiri tetap berpegang teguh terhadap no 1. Bagi saya, bab 2 dari Kitab Kejadian lebih memperjelas proses pembuatan manusia. Lebih lanjut, dalam membentuk bangsa yang besar, Adam & Hawa memang memiliki kinerja reproduksi yang luar biasa. Tidak hanya beranak 3, tetapi bisa saja puluhan (bahkan ratusan). Lihat saja umur Adam yang hampir 1000 tahun. Pada masa itu sesama saudara sekandung masih bisa saling menikah karena secara genetis mereka masih sempurna.
Sedangkan mengenai “anak-anak Allah”, Kitab Kejadian 4:26 menyatakan bahwa pada jaman anak Set, yaitu Enos, manusia mulai memanggil nama Allah. Dari sinilah diperkirakan bahwa istilah “anak-anak Allah” merujuk pada keturunan Enos. Tetapi hal ini memang masih bisa diperdebatkan secara ilmiah, tetapi secara sejarah mungkin itulah yang terjadi.
Salam.
cerita adam dan hawa bersifat analog
Hallo Mbak Risa,
Maksudnya “bersifat analog” apa ya?
Salam.
[...] Manusia memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki kemampuan berkembang yang luar biasa karena buah dari Pohon Pengetahuan ini. Berbekal pengetahuan ini pulalah yang menyebabkan manusia ingin menyamai Allah dan bahkan tidak mengakui Allah dan penciptaan-Nya (Kej 3:22). Ingat teori Darwin yang menolak proses penciptaan Allah dalam 6 hari? Kalau tidak ingat, silakan baca teori Evolusi Darwin atau di “Benarkah Adam Manusia Pertama?“ [...]
Please deh, alkitab khan buatan manusia juga, so pasti ada tambahan bullshit2nya dikit
Menurut saya, Adam itu benar-2 manusia pertama. banyak kejadian alam yang belum diketahui. Sehingga fosil itu sama sekali tidak bisa ditentukan umurnya. Mungkin saja ada kejadian alam yang menyebabkan tengkorak di kuburan menjadi fosil hanya dalam beberapa tahun.
Artinya pada masa Adam memang terjadi perkawinan keluarga. Pada waktu itu kondisi fisik manusia masih relatif sempurna sehingga perkawinan sedara tidak menyebabkan cacad keturunannya.
Namun, seraya waktu berlalu, kondisi fisik manusia semakin merosot dan perkawinan antar keluarga dapat menghasilkan keturunan yang tidak baik, dan begitu seterusnya turun temurun. Oleh sebab itu, kemudian ada larangan incess.
Kenapa kondisi merosot ? Karena melanggar larangan Tuhan untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan buruk itu.
Mengenai manusia lain selain keluarga Adam, tidak ada. Mereka adalah keturunan Adam yang tidak disebutkan dalam sejarah. Kan Adam berumur 900an tahun.
sebenarnya apakah Adam manusia pertama atau bukan jangan ditanyakan lagi karena semua itu hanya ALLAH yang tahu fosil yang ditemukan para ilmuwan adalah orang mengetahui bahwa ada makhluk lain yang diciptakan ALLAH sebelum kita dan mengapa dengan alkitab seharusnya orang harus melihat pada alquran karena alquran berasal dari ALLAH dan tidak bisa ditambahi atau dikurangi dan apakah Adam manusia pertama atau bukan WALLAHU ALAM BISHAWAB
Iya, kita lebih baik percaya pada Allah (lewat Kitab Suci) dari pada pada manusia yang masih hanya dalam tataran teori belaka.
Salam.
memang kita lebih baik percaya ALLAH daripada manusia karena manusia adalah makhluk ciptaan ALLAH dan pengetahuan manusia tidak bisa menjangkau sampai apakah adam manusia pertama atau bukan karena pada kenyataannya manusia hanyalah makluk ciptaan ALLAH,WASALAM
jika orang ingin nyaman dan tenang, imanlah
jika orang ingin kebenaran, carilah
begitu kata pak de nietzsche yang gila hehehe…
tabik
weha
bener…..
dan sebenarnya segala sesuatu didunia itu sudah ada yang mengatur kita tinggal mengikutinya tapi kita juga harus berusaha wassalam
Seri Taddabur Al Qur’an
MASYARAKAT MANUSIA
DI PLANET LUAR BUMI
Drs. MINARDI MURSYID
Karanganyar 2005
MASYARAKAT MANUSIA DI PLANET LUAR BUMI
Allah menciptakan manusia sudah dilengkapi dengan Petunjuk-Nya, sehingga manusia tidak perlu repot-repot mencari atau menyusun Hukum dalam menjalani hidupnya, bahkan tinggal meneliti dan mempelajari Petunjuk Allah untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan Hukum Allah itu menerangkan hal-hal yang berlaku sampai nanti kehidupan di Akhirat.
Dalam era globalisasi dan informasi sudah saatnya bagi umat Islam untuk berpikir kritis dan dinamis demi kemajuan Islam. Hal yang perlu dipahami bahwa sesungguhnya Al Qur’an bukan hanya menerangkan ibadah saja, tetapi lebih jauh dia juga menerangkan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu tingkat tinggi yang justru lebih lengkap dan sempurna.
Akan tetapi selama ini yang dipelajari para ilmuwan Muslim baru sebatas hal yang berkaitan dengan ibadah, dikiranya Al Qur’an tidak mampu menerangkan hal-hal berkaitan dengan segala yang ada di semesta. Padahal kalau Al Qur’an dipahami dengan sungguh-sungguh maka akan muncul Sarjana-sarjana Al Qur’an dari berbagai disiplin ilmu yang berkualitas tinggi dan handal. Dengan begitu Ilmu Pengetahuan akan maju pesat sejalan dengan tingkat kemampuan dalam pemahaman Al Qur’an oleh para pemeluk Islam atau para Ilmuwan itu sendiri.
Kenapa demikian? Karena proses dan langkah yang dilakukan oleh orang yang memahami Al Qur’an akan berbeda dengan yang tidak memahami. Setiap orang Islam yang memahami Al Qur’an dalam melakukan penelitian tentang apapun senantiasa mendasarkan Petunjuk Allah dalam Al Qur’an, sehingga semuanya akan berjalan dengan kepastian dan tidak meraba-raba. Sementara orang yang tidak mengenal Al Qur’an akan berjalan dengan mencari-cari dan meraba-raba walaupun akhirnya diantara mereka juga ada yang menemukan tapi prosesnya sangat panjang dan cukup lama.
Al Qur’an merupakan wahyu dari Allah yang sengaja diturunkan sebagai petunjuk bagi semua manusia sampai akhir zaman. Petunjuk itu meliputi ibadah, muamalah dan juga tentang berbagai Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi tingkat tinggi termasuk didalamnya tentang ruang angkasa. Namun pada umumnya manusia kurang mengerti makna dari petunjuk itu, sehingga mereka memahami dengan cara-cara tradisional dengan melakukan upacara-upacara tertentu secara turun temurun, secara hafalan tanpa mengetahui apa yang mereka hafal itu. Cara seperti itu berjalan sangat lamban tanpa perkembangan bahkan cenderung mundur. Hal seperti itu sudah berjalan cukup panjang selama ratusan atau mungkin sudah ribuan tahun, karena memang Al Qur’an diturunkan hampir 1.500 tahun yang lalu.
Sebagai bahan pemikiran maka perhatikan petunjuk Allah SWT berikut ini :
Surat Al-Maidah (5) ayat 3
Artinya :
…. Hari ini kami sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu dan Aku ridho Islam menjadi agamamu…..
Surat Al-An’am (6) ayat 115
Artinya :
Dan selesailah (sempurnalah) Kalimat Tuhanmu dengan benar dan adil, tiada perubahan bagi Kalimat-Nya. Dia mendengar mengetahui.
Surat Ar-Rum (30) ayat 30
Artinya :
Dirikanlah wajahmu untuk agama itu sempurnanya, fitrah Allah yang memfitrahkan manusia atasnya, tiada perubahan bagi ciptaan Allah, itulah agama yang kokoh (tegak). Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Surat At-Taubah (9) ayat 32
Artinya :
Mereka ingin memadamkan Nur (petunjuk) Allah dengan mulut mereka dan Allah menolak kecuali menyelesaikan petunjuk-Nya, walaupun orang-orang kafir merasa benci.
Surat An-Nahl (16) ayat 89
Artinya :
Pada hari Kami bangkitkan pada setiap umat, pemberi bukti atas mereka dari diri mereka, dan Kami datangkan kamu pemberi bukti atas orang-orang itu. Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al Qur’an) yang menerangkan atas tiap sesuatu serta petunjuk dan rahmat dan kegembiraan bagi Muslimin.
Dari ayat-ayat tersebut diatas dapatlah dipahami bahwa sesungguhnya Al Qur’an itu telah lengkap, sempurna, benar dan adil tidak ada perubahan sepanjang masa serta menerangkan semua persoalan yang ada di semesta raya ini. Namun kebanyakan manusia belum sepenuhnya mengakui dan meyakini atas kebenaran Al Qur’an, karena minimnya informasi yang diperoleh dari Ayat-ayat Al Qur’an. Sebagian dari umat Islam sendiri masih berpendapat bahwa Al Qur’an belum lengkap karena masih bersifat global, padahal Al Qur’an sendiri menyatakan lengkap sempurna.
Jika orang diberi informasi tentang Al Qur’an umumnya mereka menolak dengan alasan yang tidak logis. Seharusnya kalau kita belum sanggup untuk memahami dengan benar janganlah cepat-cepat membuat vonis bahwa dalam Al Qur’an tidak ada dalilnya, justru kita dituntut untuk lebih giat meneliti agar memperoleh keterangan yang logis sesuai dengan maksud yang sebenarnya, karena pemahaman manusia itu berkembang sesuai dengan tingkat peradaban yang berlaku secara bertahap.
Misalnya tentang adanya masyarakat manusia di Planet lain di luar Bumi ini, orang-orang barat begitu serius mengadakan penelitian dengan biaya yang sangat mahal dan mereka yakin bahwa diluar Bumi ini pasti ada kehidupan atau ada makhluk hidup. Padahal sebenarnya jauh-jauh sebelumnya Al Qur’an telah memberikan informasi yang menunjukkan bahwa di Planet selain Bumi ini juga telah berkembang masyarakat manusia seperti halnya di Bumi ini. Sementara para ilmuwan muslim hanya bertindak selaku penonton dan menunggu hasil penelitian orang Barat.
Sebenarnya sejak 15 abad yang lalu Al Qur’an telah menerangkan berbagai persoalan yang ada di jagad raya ini, cuma masalahnya sistem pendidikan yang selama ini diajarkan hanyalah berupa hafalan-hafalan sehingga pada umumnya anak didik kita banyak yang tidak bisa memahami tentang sesuatu. Seringkali orang dipaksa untuk percaya begitu saja secara taklid buta walaupun kadang-kadang keterangan yang disampaikan tidak sejalan dengan pemikiran secara wajar. Ironisnya para Sarjana kitapun masih banyak yang kurang kritis dan teliti, bahkan mereka juga mengikuti pemahaman ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, sehingga posisi kita sering selalu ketinggalan, terutama dalam hal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Bahkan tidak jarang para ‘Ulama kita pun dalam menjelaskan tentang sesuatu sering menemui jalan buntu dan terbentur pada hal-hal yang tidak terjawab, akibatnya orang hanya percaya tanpa mengerti yang dipercayai bahkan sering bertentangan dengan alam pikirannya sendiri. Padahal yang namanya “SOAL” pasti ada “JAWABNYA”, maka sekali lagi bahwa Al Qur’an pasti bisa menjawab segala persoalan (periksa kembali Surat An-Nahl (16) ayat 89).
Selama ini kita telah terkunci oleh doktrin-doktrin (ajaran) yang disampaikan oleh orang tua kita, atau seorang yang dituakan, para guru atau Mubaligh, Kyai dan yang sejenis itu. Karena umumnya orang beranggapan bahwa apapun yang disampaikan oleh mereka itu pasti benar dan tidak pernah ada yang salah. Kalau kita mau memperhatikan kondisi di sekitar kita, bahwa saat sekarang ini umat Islam bahkan para Da’i kita pun jarang sekali menggunakan Al Qur’an sebagai rujukan dalam menjawab setiap persoalan.
BENARKAH ADA KEHIDUPAN MANUSIA DI PLANET LAIN?
Jika hal ini ditanyakan kepada seseorang di antara kita, ternyata satu sama lain memberikan jawaban yang berbeda. Tetapi kebanyakan di antara mereka memberikan jawaban tidak ada, belum yakin, ragu-ragu karena dikatakan oleh mereka bahwa sekarang ini Amerika atau orang Barat belum menemukan. Inilah kenyataan yang terjadi, bahwa orang cenderung lebih percaya kepada orang Amerika daripada kepada Wahyu yang ada dalam Al Qur’an.
Hal demikian memang wajar-wajar saja, karena :
1. Pihak Amerika-lah yang memang getol mengadakan penelitian tentang keadaan ruang angkasa, maka mereka yang dianggap lebih mengetahui kondisi ruang angkasa itu.
2. Dari hasil penelitian pihak Amerika maupun Negara lain yang juga menyelidiki ruang angkasa belum ada tanda-tanda tentang kehidupan di luar Bumi ini.
3. Para ilmuwan Muslim sendiri hampir tidak ada yang mengadakan penelitian ke ruang angkasa, sehingga mereka lebih baik menunggu hasil penelitian mereka.
4. Para ilmuwan Muslim dalam penyelidikan tentang Al Qur’an barangkali masih belum menyeluruh, sehingga kalau diberi informasi tentang Kitab Sucinya sendiri masih ragu, bahkan cenderung menolak karena kata mereka di Al Qur’an tidak ada yang menyatakan begitu.
Itulah fenomena yang terjadi dalam masyarakat kita, terutama masyarakat Islam sendiri karena kurangnya informasi tentang Al Qur’an, tetapi anehnya kalau diberi tahu tentang Al Qur’an juga belum tentu mau menerima atau paling tidak merupakan bahan kajian, tetapi itulah faktanya. Sementara bagi orang-orang yang memang benar-benar beriman kepada penjelasan Allah yang disampaikan oleh Nabi tentu menanyakan kepada Nabi. Akan tetapi karena sekarang Nabi sudah tiada, maka kita harus menanyakan kepada yang mengutus Nabi yaitu Allah dimana Allah telah menjelaskan semua itu melalui Wahyu dalam Al Qur’an.
Memang dalam menanggapi keterangan yang sangat mengejutkan ini haruslah dengan kejernihan hati, dan jangan ditanggapi dengan keangkuhan kepala (otak), dengan hati yang jernih, maka kepala pun akan dingin. Ada beberapa hal yang perlu dipahami secara cermat dan hati-hati agar kita benar-benar memperoleh pengertian yang sewajarnya dan dimengerti oleh semua pihak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Pengertian tentang DUNIA
2. Pengertian tentang SAMA’/SAMAWAT.
3. Pengertian tentang DABBAH
ad.1. DUNIA
Selama ini orang menganggap seolah-olah yang dimaksud dunia ini hanyalah “BUMI” ini saja, padahal dunia itu begitu luasnya, sedangkan Bumi ini hanyalah merupakan debu yang sangat kecil jika dibandingkan dengan dunia. Dunia adalah semesta raya ini dan bukannya hanya Bumi saja, karena itu kalau kita sering mendengar bahwa dunia ini nantinya akan dihancurkan pada hari kehancuran total dengan istilah “Yaumus Sa’ah”, maka yang dihancurkan bukan hanya Bumi ini, tetapi seluruh jagad raya yang ada di semesta ini.
Semesta raya ini terdiri dari milyaran Bintang, setiap Bintang di angkasa merupakan satu solar sistem (Tata Surya). Oleh karena itu hendaklah kita merubah cara berpikir dalam memahami suatu persoalan sehingga pengertian itu bisa diterima oleh pikiran secara wajar dan sejalan dengan ilmu pengetahuan.
Informasi yang selama ini telah berkembang di kalangan masyarakat, baik masyarakat Islam maupun umum bahwa Hari Qiyamat itu adalah hari kehancuran total, padahal pengertian seperti itupun harus diadakan koreksi, agar bisa dipahami secara rasional. Sehubungan dengan hari kehancuran total ada dua istilah yang harus dipahami dengan hati yang jernih yaitu : Yaumul Qiyamah dan Yaumus Sa’ah. Qiyam artinya “berdiri” sedangkan Sa’ah artinya “waktu”. Maka Hari Qiyamat adalah suatu hari berdiri atau hari kebangkitan di akhirat nanti, maka dia bukanlah hari kehancuran total. Sedangkan Sa’ah yaitu hari dimana yang hidup ini akan mati, termasuk dunia atau jagad raya ini akan dihancurkan maka itulah yang dimaksud dengan Yaumus Sa’ah atau hari kehancuran total tadi. Maka antara Hari kehancuran total dengan hari kiamat jelas waktunya sangat berbeda. Pemahaman demikian juga termasuk point tentang pengertian suatu istilah dalam Ayat Al Qur’an. Jika dalam memahami suatu istilah kurang tepat maka akan terjadi kesalahan dalam penentuan kesimpulan.
Maka semakin jelas bahwa yang dimaksud dengan DUNIA adalah semesta raya ini atau jagad raya ini dan bukan Bumi ini saja. Sebagai bahan penganalisaan perhatikan petunjuk Allah dalam surat Al-Mulk (67) ayat 5 berikut ini :
Terjemahan Departemen Agama RI. Pelita II/1977-1978:
“Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelempar setan. Dan Kami sediakan mereka siksa Neraka yang menyela-nyala”.
Terjemahan Lembaga Percetakan Al Qur’an Raja Fahd di Madinah al Munawarah; Surat Mulk ayat 5, hal : 956:
“sesungguhnya Kami telah menghiasai langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa Neraka yang menyala-nyala”.
Selanjutnya terjemahan Proff. Mahmud Yunus, penerbit Alma ‘Arif, Bandung:
“Sesungguhnya Kami hiasi langit yang hampir ke dunia dengan beberapa pelita (bintang-bintang) dan Kami jadikan tahi-tahi bintang untuk pelempar syetan-syetan, dan Kami sediakan untuk mereka siksa neraka”.
Secara wajar Ayat tersebut sebaiknya diartikan sebagai berikut:
“Dan sungguh Kami hiasi ANGKASA DUNIA = angkasanya semesta raya (langitnya semesta raya ini) dengan bintang-bintang (pelita-pelita) dan Kami jadikan dia (bintang-bintang itu) ancaman (rujuman) bagi setan-setan. Dan kami sediakan atas mereka siksa yang membakar”.
Jika “sama’a dunya” diartikan dengan “langit yang dekat dengan Bumi” atau “langit yang hampir ke dunia” maka langit manakah yang jauh dari dunia, atau bahkan pengertian dunia seolah-olah hanyalah Bumi ini. Maka semestinya dia harus diartikan “angkasa dunia”, dia adalah angkasanya atau langitnya semesta raya ini dan bukan hanya langitnya Bumi.
Jadi petunjuk Allah pada surat Al-Mulk (67) ayat 5 tersebut diatas memberikan penjelasan kepada manusia bahwa semua bintang-bintang itu merupakan hiasan yang sangat indah yang ada di angkasa atau langitnya dunia atau langitnya semesta raya. Coba perhatikan ketika malam hari betapa jumlah bintang yang milyaran itu tak terhitung banyaknya, sangat indah menghiasi angkasa (langit) di semesta raya jika dipandang dari Bumi maupun dari planet lain. Semua bintang itu tidak hanya diatas Bumi saja tetapi tersebar di seluruh jagad raya, maka benarlah kalau demikian bahwa yang dimaksud dengan dunia adalah seluruh jagad raya ini, karenanya kalau nanti dunia akan dihancurkan pada Hari Sa’ah adalah seluruhnya bukan hanya Bumi.
Kemudian dalam Ayat tersebut diatas dijelaskan bahwa bintang-bintang itu merupakan ancaman bagi setan-setan, tentunya nanti di Akhirat dan bukannya sebagai pelempar setan. Kapan Allah pernah melempar setan dengan bintang yang sangat besar itu? Padahal keadaan bintang itu sama dengan Surya (Matahari) kita, maka setan mana yang dilempar dengan benda sebesar itu. Untuk memahami pengertian tentang setan maka perhatikanlah petunjuk Allah berikut ini:
Surat Al-Baqoroh (2) ayat 14
Artinya :
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka berlalu kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami bersama dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
Surat Al-An’am (6) ayat 112
Artinya :
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka mewahyukan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang mewah fatamorgana. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.
Dari dua ayat diatas dapat dipahami bahwa setan itu adalah terdiri dari setan jin dan setan manusia, maka dia adalah sifat yang dimiliki oleh jin dan manusia yang senantiasa melanggar atau menolak hukum-hukum Allah, karena itu setan-setan itu diancam dengan Neraka (API) tetapi itu baru ancaman, dan pelaksanaannya adalah nanti di Akhirat. Tentunya yang berlaku bagi manusia bukanlah setan jin tetapi setan manusia, karena itu banyak Ayat yang menyatakan bahwa setan itu adalah musuh nyata bagimu, artinya setan itu nyata dan kongkrit berupa setan manusia yang senantiasa menentang hukum Allah dan mengajak manusia lain untuk kafir atau menolak.
Maka yang dimaksud dengan dunia bukanlah hanya Bumi ini tetapi seluruh semesta atau jagad raya. Kalau ada orang mengatakan bahwa hidup di dunia ini, berarti hidup di jagad raya ini dan bukan hanya di Bumi saja. Kalau dunia akan dihancurkan, maka yang dihancurkan bukan hanya Bumi ini saja tetapi seluruh semesta. Sedangkan Bumi ini hanyalah salah satu planet dari anggota Tata Surya kita, sedangkan Tata Surya kita ini hanyalah merupakan gugus Bima Sakti berarti hanya bagian kecil dari Bima Sakti itu.
Coba kita perhatikan ada berapa Galaksi di angkasa itu yang di dalamnya ada milyaran bintang-bintang, untuk apa semua itu diciptakan Allah kalau dibiarkan kosong tanpa penghuni, Mubazirkan ? padahal semua itu diciptakan Allah bukan untuk main-main ?
Ad.2. SAMA’ / SAMAWAT
Memang benar bahwa berdasarkan arti bahasa bahwa Samawat adalah bentuk jamak dari Sama’ yang pada umumnya diartikan “langit” atau “angkasa”. Namun sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka sama’ belum tentu selalu berarti langit. Sedangkan yang dimaksud langit adalah awang-awang kosong begitu luasnya. Tiap-tiap planet memiliki langit, sedangkan planet-planet itu tak terhitung jumlahnya di semesta raya ini. Di dalam wilayah Tata Surya kita saja ada 10 planet dan baru 9 yang diketemukan dan masing-masingnya memiliki langit.
Sebagai ilustrasi kami berikan keterangan lain yang hampir mempunyai nilai pandang yang sama. Kalau orang membuat balai untuk tempat tidur yang terbuat dari kayu biasa (bukan Spring Bed) maka ketika tempat tidur itu dipasang, dibawahnya ada suatu ruangan yang biasa disebut “kolong” atau orang Jawa bilang “longan”. Ketika orang sedang membuat balai tempat tidur tadi, maka dia sama sekali tidak merencanakan untuk membuat kolong atau longan tadi. Tetapi setelah tempat tidur itu dipasang maka mau tidak mau longan atau kolong itu pasti jadi dengan sendirinya. Dan kalau tempat tidur itu dibongkar maka longan tadi pun akan hilang dengan sendirinya.
Ilustrasi ini seperti halnya langit tadi. Ketika dulunya semesta raya ini belum ada yang ada hanyalah kekosongan, dan tidak ada yang namanya langit. Tetapi setelah Allah menciptakan seluruh bintang dan planet-planet itu maka muncullah yang namanya langit tadi. Akan tetapi kalau nantinya Allah menggulung semua benda-benda angkasa itu maka yang disebut langit itu akan lenyap dengan sendirinya. Maka Allah tidak pernah menciptakan langit, karena langit itu ada dengan sendirinya. Demikian juga orang yang membuat tempat tidur tadi tidak pernah membuat longan tetapi jadi dengan sendirinya ketika tempat tidur itu dipasang. Itulah gambarannya langit menurut logika dan juga menurut Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Berdasarkan keterangan para ahli astronomi/ahli ruang angkasa bahwa langit Bumi ini saja ada tiga lapis:
• Lapisan s.d. 11 mil di atas Bumi disebut TROPOSFIR/ATMOSFIR.
• Lapisan 11 s.d. 300 mil di atas Bumi disebut STRATOSFIR
• Lapisan di atas 300 mil disebut : IONOSFIR.
Kesemuanya itu disebut dengan “LANGIT” yang menurut Al Qur’an disebut : SAMA’. Sekiranya orang mau memperhatikan Ayat-ayat Al Qur’an maka masing-masing istilah Sama’ ternyata mempunyai arti yang berbeda satu sama lain. Tetapi dalam memahami pengertian ini hendaknya dengan kejernihan hati, sehingga pikiran menjadi tenang.
Surat Al-An’am (6) ayat 99
Artinya :
DIA-lah yang menurunkan air (hujan) dari sama’ (atmosfir) lalu Kami keluarkan dengannya tetumbuhan….
Surat Al-Baqoroh (2) ayat 29
Artinya :
DIA-lah yang menciptakan untukmu apa-apa di Bumi semuanya, kemudian menyelesaikan atas sama’ (Tata Surya) lalu DIA sempurnakan tujuh Samawat (planet-planet) dan DIA mengetahui tiap sesuatu.
Surat An-Nahl (16) ayat 79
Artinya :
Tidaklah mereka memperhatikan pada yang melayang diedarkan pada kekosongan angkasa (yaitu Tata Surya), tiada yang menahan kecuali DIA (ALLAH). Bahwa pada yang demikian merupakan Ayat bagi kaum yang beriman.
Surat Al-Furqon (25) ayat 25
Artinya :
Dan pada hari terpecah sama’ (Tata Surya) dengan bencana besar dan diturunkan Malaikat dengan turunnya.
Surat Fushilat (41) ayat 11
Artinya :
Kemudian menyelesaikan atas sama’ (Tata Surya) dan dia berupa gumpalan api (waktu itu) lalu DIA katakan padanya (sama’) dan pada Bumi, datanglah (berfungsilah) secara patuh atau terpaksa. Keduanya berkata: “kami datang secara patuh (berfungsi menurut orbitnya masing-masing).
Kalau diperhatikan, maka sama’ mempunyai berbagai arti:
• Sama’ bisa berarti atmosfir
• Sama’ bisa berarti Tata Surya
• Sama’ bisa berarti semesta raya ini
• Sama’ bisa berarti angkasa / langit.
Kalau kita perhatikan dengan seksama maka: Surat Al-An’am (6) ayat 99, menyatakan bahwa hujan diturunkan dari sama’, maka dia pasti turun dari atmosfir. Karena tidak mungkin hujan itu turun dari stratosfir apalagi dari ionosfir.
Surat Al-Baqoroh (2) ayat 29 dinyatakan bahwa Bumi ini banyak dengan istilah “Ardhu jami’an” (Bumi semuanya), sebab kalau Bumi hanya satu tidak mungkin dikatakan semuanya. Kemudian dinyatakan diselesaikan atas sama’ berarti Bumi yang jumlahnya banyak itu menjadi satu susunan sama’ yang mestilah satu Tata Surya, dengan keterangan ada tujuh Samawat (planet-planet) di atas Bumi ini. Maka sama’ pada ayat ini berarti adalah Tata Surya.
Surat An-Nahl (16) ayat 79 yang menyatakan benda yang melayang pada kekosongan angkasa berarti adalah seluruh benda-benda angkasa atau Tata Surya itu memang melayang yang diedarkan pada kekosongan angkasa berarti di semesta raya itu, maka sama’ disini adalah semesta raya.
Surat Al-Furqon (25) ayat 25 menyatakan : “Pada hari terpecah sama’ dengan bencana besar, ….. maka sama’ pada Ayat tersebut tidak mungkin diartikan “langit” yang terpecah, tapi yang terpecah adalah Tata Surya itu. Yaitu pada saat terjadinya bencana besar (kehancuran total) maka seluruh Tata Surya itu akan terpecah susunannya, tidak beraturan karena adanya benturan dan goncangan yang sangat dahsyat waktu itu. Maka seluruh Tata Surya akan tidak berfungsi sebagaimana mestinya akibat adanya benturan dan goncangan tadi, semuanya menjadi kacau balau, terpecah dan tidak teratur.
Surat Fushilat (41) ayat 11 Allah menyelesaikan Sama’ yang berupa gumpalan api (dukhonun) waktu itu. Hal ini lebih jelas lagi bahwa langit tidak mungkin berupa gumpalan api, karena yang namanya gumpalan api pastilah benda kongkret. Maka dia adalah Tata Surya yang memang wajar pada putaran pertama berupa gumpalan api (2000 tahun pertama) dan kemudian mendingin setelah 4 hari atau 4000 tahun kemudian, setelah itu berfungsi sebagaimana mestinya, maka Tata Surya termasuk Bumi ini berproses selama 6 hari (fii sittati ayyam) (lihat petunjuk Allah pada surat Hud (11) ayat 7, dan surat As-Sajdah (32) ayat 4-5).
Lalu kenapa Samawat diartikan planet-planet? Padahal Samawat adalah bentuk jamak dari sama’. Sudah dijelaskan didepan bahwa memang sama’ tidak selalu berarti langit, tetapi ternyata mempunyai beberapa arti. Tetapi Samawat memang seharusnya berarti planet-planet. Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat Ayat berikut ini :
Surat At-Tholaaq (65) ayat 12
Artinya :
Allah yang menciptakan tujuh Samawat, dan dari Bumi ini permisalannya (persamaannya). Akan naik turun (simpang siur) urusan antara keduanya (Samawat dan Ardh) agar kamu ketahui bahwa Allah menentukan tiap sesuatu dan Allah sungguh menguasai ilmu tiap sesuatu.
Surat Al-Mu’minun (23) ayat 17
Artinya :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).
Ayat tersebut sebenarnya cukup jelas bahwa Allah menciptakan Samawat, berarti yang diciptakan Allah adalah benda kongkrit. Sebagaimana tersebut di atas bahwa yang namanya langit itu tidak pernah diciptakan, tetapi jadi hanya sebagai akibat adanya benda-benda angkasa itu.
Kemudian pada ayat tersebut selanjutnya menjelaskan bahwa Samawat itu semisal atau sama dengan Bumi ini. Maka kini jelas bahwa yang semisal dengan Bumi pastilah bukan langit tetapi adalah planet-planet itu. Oleh karena itu maka pengertian Samawat adalah memang planet-planet dan bukan langit-langit (periksa kembali Surat/Ayat : 65/12).
Selanjutnya diterangkan bahwa akan naik turun atau simpang siur antara Samawat dan Bumi, maksudnya adalah bahwa di masa mendatang setelah perkembangan Teknologi sudah mencapai puncaknya maka masyarakat yang ada di Samawat (planet-planet itu) akan berurusan dengan masyarakat yang ada di Bumi ini tentang berbagai hal, mungkin hubungan dagang, mungkin hubungan antar agama, mungkin juga perang.
Selama ini hampir sebagian besar orang-orang Islam beranggapan bahwa Samawat memang artinya langit, sehingga Allah menciptakan langit itu berlapis tujuh. Namun kenyataannya bahwa langit lapis tujuh itu sampai saat ini tidak pernah diketemukan, dimanakah dia?
Maka keterangan yang seperti itu menjadikan para ilmuwan Barat tidak akan bisa mempercayai, karena memang langit yang lapis tujuh itu tidak ada. Kalaupun dicari pasti tidak akan ketemu. Dikatakan berulang kali bahwa Al Qur’an itu diturunkan oleh Allah itu memang sengaja untuk memberikan petunjuk kepada manusia tentang berbagai persoalan, baik menyangkut masalah ibadah maupun tentang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kalau ternyata ayat Al Qur’an tidak bisa dipahami menurut akal maupun ilmu pengetahuan dan misalnya langit itu belum diketemukan atau mungkin dianggap dirahasiakan Allah, untuk apa Al Qur’an itu diturunkan? Padahal sesungguhnya langit itu memang benar-benar awang-awang kosong dan Allah tidak pernah menciptakan langit tetapi yang diciptakan adalah benda kongkrit yang kemudian muncul akibat lain yang melengkapi ciptaan Allah itu, misalnya langit tadi. Karena itu yang dimaksud dengan jalan pada Surat/Ayat : 23/17 adalah “garis orbit” yang dilalui oleh Samawat atau planet-planet itu.
Untuk melengkapi keterangan tersebut selanjutnya perhatikan petunjuk Allah berikut :
Surat Nuh (71) ayat 15-16
Artinya :
Tidakkah engkau perhatikan, betapa Allah menciptakan tujuh Samawat bertingkat-tingkat. Dan DIA jadikan Bulan-Bulan padanya ada cahaya, dan DIA jadikan Surya itu sebagai pelita.
Surat An-Naba’ (78) ayat 12-13
Artinya :
Dan Kami bangun di atasmu tujuh (planet) yang kokoh. Dan kami jadikan pelita (Surya) sebagai pusat jatuh.
Kalau kita perhatikan pada Surat Nuh (71) ayat 15 dinyatakan bahwa Allah telah menciptakan tujuh Samawat itu bertingkat-tingkat. Memang keadaan planet-planet itu bertingkat-tingkat menurut garis orbitnya masing-masing. Kemudian pada ayat 16 dinyatakan DIA jadikan BULAN-BULAN padanya (fiihinna) berarti Bulannya banyak, padahal Bulan yang ada di Bumi ini hanyalah satu. Maka Bulan yang lain adalah Bulan dari masing-masing planet itu, karena tidak mungkin langit memiliki Bulan atau dikitari Bulan, karena itu yang dikitari Bulan pastilah planet-planet itu.
Selanjutnya perhatikan pada Surat An-Naba’ (78) ayat 12 yang menyatakan bahwa Allah membangun di atas Bumi ini tujuh yang kokoh (kuat), maka dia adalah benda kongkrit, dan tidak mungkin Allah membangun langit dan juga tidak mungkin langit keadaannya kokoh (kuat) seperti Bumi atau planet-planet itu. Kemudian Ayat 13 dinyatakan bahwa pelita (Surya) itu sebagai pusat jatuh, artinya bahwa planet-planet itu beredar mengelilingi Surya atau pelita itu, karena itu tidak mungkin langit beredar mengelilingi bintang atau dalam Tata Surya kita ini adalah Surya maka dia adalah planet bukan langit.
Sebenarnya sudah banyak hal yang ditunjukkan Allah kepada kita khususnya umat Islam dalam Kitab Suci Al Qur’an, namun karena kita kurang membuka hati dan menenangkan pikiran maka akibatnya kalau ada informasi yang tidak sama dengan pikirannya sendiri lantas dianggap salah. Sayangnya dalam menyalahkan itupun orang tidak mau peduli, tidak mau melihat dulu apakah benar hal itu salah. Bagaimana orang bisa menyalahkan kalau belum mengetahui keadaan yang sebenarnya? Padahal sesuatu yang tidak sama dengan yang sudah ada tidak selamanya mutlak salah. Maka dari itu marilah kita membuka hati dan menenangkan pikiran agar kita memperoleh pengertian yang sewajarnya dan tidak akan menyesal di kemudian hari.
Sebenarnya banyak istilah “Samawat” yang memang berarti “planet-planet” bukanlah “langit-langit” sebab kalau Samawat diartikan langit akan sulit untuk dipahami (perhatikan ayat-ayat petunjuk Allah dalam Surat Ali-Imron (3) ayat 83, An-Nahl (16) ayat 49, Az-Zumar (39) ayat 68 dan masih banyak yang lainnya).
Surat Ali-Imron (3) ayat 83
Artinya :
Apakah selain Agama Allah yang mereka cari ? Padalah bagiNya telah Islam orang-orang di Samawat dan Bumi dengan patuh dan terpaksa. Dan kepada-Nya mereka dikembalikan.
Surat An-Nahl (16) ayat 49
Artinya :
Dan bagi Allah sujud apa-apa yang ada di Samawat dan apa-apa yang ada di Bumi dari Dabbah dan Malaikat dan mereka tidak menyombong.
Surat Az-Zumar (39) ayat 68
Artinya :
Dan ditiupkan pada SUUR, maka matilah orang-orang di Samawat dan orang-orang di Bumi kecuali yang dikehendaki Allah, kemudian ditiupkan padanya yang lain, dan ketika itu mereka berdiri menantikan.
Pada surat Ali-Imron (3) ayat 83 Allah telah menyatakan bahwa telah Islam orang-orang yang di Samawat dan orang-orang yang di Bumi dengan patuh dan terpaksa. Kalau Samawat diartikan dengan langit, maka bagaimana orang bisa hidup di langit, dimana kakinya harus berpijak untuk berjalan, maka Samawat mestilah planet-planet itu. Jika orang suka memperhatikan Ayat-ayat Al Qur’an secara cermat dan hati-hati, maka akan banyak ditemui Ayat yang menerangkan “Ardhu” yang didahului “Samawat”.
Oleh karena itu pastilah ada hubungan arti antara Samawat dan Bumi, maka tepatlah kalau Samawat itu adalah planet-planet yang semisal atau sama dengan Bumi sebagaimana dimaksudkan pada Surat At-Tholaaq (65) ayat 12
Dari keterangan beberapa ayat tersebut, maka diperoleh pengertian bahwa sesungguhnya memang benar bahwa Samawat itu adalah planet-planet dan bukan langit. Di planet-planet selain Bumi yang disebutkan Samawat tadi ternyata telah berkembang masyarakat manusia yang kondisinya sama dengan yang ada di Bumi sebagaimana yang diterangkan menurut Surat Ali-Imron (3) Ayat 83.
Jadi sudah cukup jelas Ayat-ayat tersebut, oleh karena itu apakah kita masih akan berdalih dan mendasarkan laporan dari ahli ruang angkasa dari Amerika?
Semua itu berpulang kepada hati nurani kita masing-masing, maka otak memang tugasnya suka berdalih, suka membantah, suka menyanggah, dan bersikap arogan. Tetapi hati nurani itu sebenarnya jernih dan lugu, mau menerima kebenaran. Karena itu bukalah hati nurani agar mau menerima kebenaran tanpa disanggah oleh pikirannya sendiri. Semua itu berpulang kepada hati nurani kita masing-masing.
Ad.3. DABBAH
Kalau kita memperhatikan pada terjemahan Al Qur’an bahwa “dabbah” diartikan “binatang melata”. Memang sepertinya banyak ayat-ayat Al Qur’an yang sulit diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan tepat benar. Terbukti banyak ayat-ayat yang dari masing-masing penterjemah memberikan arti yang berbeda satu sama lainnya. Hal demikian menandakan bahwa bahasa Al Qur’an memang tidak sama persis dengan bahasa Arab biasa. Al Qur’an merupakan wahyu sudah pasti punya gaya bahasa yang sangat khas dan punya nilai estetika yang tinggi pula.
Seperti kita ketahui bahwa Al Qur’an merupakan petunjuk dan diberikan keterangan dari semua petunjuk itu. Padahal keterangan tentang petunjuk itu ada dalam Al Qur’an. Oleh karena itu kalau memang ada istilah atau kata-kata yang sulit dipahami menurut kaidah-kaidah bahasa Arab, maka sebaiknya dicari keterangannya yaitu Ayat lain yang berhubungan dengan istilah yang sama yang saling menerangkan, maka disana akan ketemu persoalan yang dicari atau yang ditanyakan.
Kalau diperhatikan dengan teliti bahwa sesungguhnya dabbah itu bukan hanya binatang melata, tetapi termasuk di dalamnya binatang yang berkaki bahkan termasuk juga manusia. Untuk mendapatkan pengertian dabbah yang sebenarnya, perlu dihubungkan beberapa ayat dalam Al Qur’an yang mengandung dabbah, maka dia akan saling menerangkan tentang pengertian dabbah itu sendiri secara jelas. Kalau pemahaman tentang sesuatu hanya dengan satu ayat terpisah, maka pengertiannya tidak bisa utuh, karena jarang Al Qur’an menerangkan sesuatu hanya dengan satu ayat yang berdiri sendiri, tetapi harus dihubungkan dengan ayat lain yang berhubungan.
Memang ada juga ayat yang sudah jelas tanpa penjelasan misalnya ayat-ayat muhkamat, namun biasanya hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan atau ayat mutasabihat harus merangkaikan beberapa ayat yang saling menerangkan. Sebagai bahan kajian tentang dabbah maka perhatikan petunjuk Allah berikut:
Surat As-Syuuro (42) ayat 29 oleh Departemen Agama Pelita III/81-82:
Artinya :
Dan diantara Ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)Nya ialah menciptakan langit dan Bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang DIA sebarkan pada keduanya. Dan DIA maha kuasa mengumpulkan apabila dikehendakiNYA.
Dalam Ayat tersebut yang diterjemahkan “makhluk-makhluk yang melata” adalah Ayat aslinya berbunyi “dabbah”. Sementara yang lainnya diartikan “binatang melata”.
Perhatikan Terjemahan pada Ayat yang sama yaitu (Proff. H. Mahmud Yunus, penerbit PT. Al Ma‘Arif Bandung):
Diantara ayat-ayat (tanda-tanda) Allah, ialah kejadian langit dan Bumi dan apa-apa yang bertebaran pada keduanya diantara binatang-binatang (apa-apa yang melata di muka Bumi). DIA maha kuasa menghimpunkan mereka bila dikehendaki-Nya.
Jadi istilah dabbah diartikan binatang melata. Tapi perlu diketahui bahwa kalau binatang melata bisa hidup di Samawat itu, maka manusiapun seharusnya juga bisa hidup.
Berdasarkan pengkajian sebaiknya Ayat tersebut berarti:
Dan dari Ayat-ayatNya ialah penciptaan Samawat (planet-planet) dan Bumi, serta yang DIA kembang biakkan pada keduanya (Samawat dan Bumi) dari dabbah (makhluk berjiwa) dan DIA atas pengumpulan ketika DIA kehendaki adalah menentukan.
Kalau orang mau memperhatikan dengan teliti, maka sesungguhnya dabbah itu bukan hanya binatang melata saja, tetapi termasuk binatang lain yang tidak melata yaitu yang berkaki termasuk di dalamnya adalah manusia.
Oleh karena itu yang ditebarkan atau dikembangkanbiakkan di Samawat (planet-planet) dan di Bumi ini terdiri makhluk yang berjiwa termasuk di dalamnya manusia itu sendiri. Dengan demikian maka jelas bahwa di planet-planet itu pun telah berkembang masyarakat manusia seperti halnya yang ada di Bumi ini. Berikut ini Ayat yang menjelaskan tentang pengertian “dabbah”.
Surat An-Nuur (24) ayat 45
Artinya :
Allah menciptakan setiap dabbah dari Alma’i. Diantara mereka (dabbah) itu ada yang berjalan atas perutnya, dan diantara mereka ada yang berjalan atas dua kaki, dan diantara mereka ada yang berjalan atas empat kaki. Allah menciptakan yang DIA kehendaki dan sesungguhnya Allah menentukan atas tiap sesuatu.
Surat Al-Anfal (8) ayat 22 :
Artinya :
Bahwa sejahat-jahat dabbah pada Allah adalah orang-orang pekak dan tuli dan mereka tidak berpikir.
Surat Al-Anfal (8) ayat 55
Artinya :
Bahwa sejahat-jahat dabbah pada Allah adalah orang-orang kafir dan mereka tidak beriman.
Kalau kita perhatikan surat An-Nuur (24) ayat 45, cukup jelas dan tegas bahwa diantara dabbah itu ada yang berjalan atas perutnya (ular, buaya, cecak, kadal dan lain-lain), dan diantara dabbah itu juga ada yang berjalan atas dua kaki (ayam, bebek, MANUSIA dan lain-lain) dan ada pula yang berjalan dengan empat kaki (kerbau, sapi, kambing, unta dan lain-lain). Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud dengan dabbah bukanlah hanya binatang melata, tetapi termasuk manusia dan binatang berkaki lainnya.
Pada Surat Al-Anfal (8) ayat 22 dan 55, menyatakan bahwa sejahat-jahat dabbah menurut pandangan Allah adalah orang-orang pekak, kafir, tidak berpikir dan tidak beriman. Jelas yang dimaksud disini adalah manusia, bukan binatang melata, karena memang semua binatang melata tidak bisa berpikir apalagi beriman. Inilah yang dimaksud dengan pemahaman tentang suatu istilah dalam ayat Al Qur’an. Kalau dalam memahami istilah dalam ayat kurang tepat apalagi kalau salah, maka arti dan kedengarannya pun janggal, tidak ratio, tidak bisa dimengerti oleh semua orang, akibatnya sasaran yang dimaksudkan pun tidak tepat.
Jelaslah kiranya bahwa yang dimaksud dabbah adalah makhluk berjiwa (makhluk bernyawa) termasuk MANUSIA. Dengan begitu didapatkan kunci dan petunjuk yang diperoleh dari pengertian beberapa ayat yang saling menjelaskan bahwa di planet lain selain Bumi ini juga bermasyarakat manusia dan juga berkembang biak berbagai binatang termasuk juga binatang melata tadi.
Jika sekiranya yang dimaksud “dabbah” itu adalah binatang melata, dan bisa hidup di planet (Samawat) itu, maka mestinya makhluk lain termasuk manusia juga bisa hidup disana, karena mereka sama-sama bernapas dengan paru-paru, yang berarti disana ada oksigen untuk bernapas binatang melata itu.
Akan tetapi kalau istilah “dabbah” itu diartikan binatang melata, maka berarti bertentangan dengan maksud petunjuk Allah pada surat Al-Anfal (8) ayat 22 dan 55 serta surat An-Nuur (24) ayat 25. Maka dari itu dabbah bukanlah hanya binatang melata tapi termasuk juga manusia. Kemudian timbul pertanyaan, apakah manusianya juga sama dengan manusia yang ada di Bumi ini? Jawabnya adalah: sama, dan memang benar sama.
Coba perhatikan semua manusia yang ada di muka Bumi ini apakah yang ada di Amerika, Arab Saudi, Jepang, Inggris di Indonesia semuanya mempunyai naluri yang sama. Hanya saja berbeda bahasa, warna kulit, adat istiadat dan yang lainnya karena sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memang juga berbeda, misalnya faktor iklim, lingkungan dan sebagainya tetapi pada dasarnya mereka mempunyai naluri yang sama dengan kita yang di Indonesia.
Selama ini orang-orang Barat membuat imajinasi bahwa seolah-olah manusia dari planet lain itu seram, menakutkan dan mengerikan, padahal semua itu hanyalah dugaan tanpa menggunakan dalil dan petunjuk.
Jika orang sudi memperhatikan ayat-ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan sejarah manusia, maka akan diketahuilah bahwa manusia di planet lain itu sama dengan kita ini. Mereka terdiri dari berbagai bangsa, bahasa dan warna kulit, ada yang Islam ada yang kafir, ada yang baik ada pula yang jahat, ada yang pintar ada pula yang bodoh, karena mereka semua adalah berasal dari diri yang satu yang merupakan satu garis keturunan dengan semua manusia yang ada di wilayah Tata Surya kita ini. Sementara orang boleh saja tidak percaya, tetapi Al Qur’an datang dari Allah pasti benar 100 persen. Jika orang masih juga ngotot bahwa dalam penganalisaan ini tidak benar, maka silahkan diadakan koreksi agar dengan begitu persoalannya menjadi jelas.
Memang selama ini orang beranggapan bahwa kehidupan manusia itu hanyalah di Bumi ini saja, padahal sebenarnya Bumi ini hanyalah sebuah planet kecil jika dibandingkan dengan Yupiter yang besarnya 318 kali besar Bumi ini, untuk apa semua itu diciptakan Allah kalau dibiarkan kosong tanpa penghuni? Kalau diperhatikan dengan cermat, Al Qur’an menyatakan bahwa Bumi itu banyak dan Bumi ini juga disebut planet. Perhatikan petunjuk Allah berikut ini:
Surat Az-Zumaar (39) ayat 67 :
Artinya :
Dan mereka tidak menentukan (tentang Hukum) Allah dengan ketentuan yang haq (logis), sedangkan Bumi-Bumi semuanya adalah pemadatannya pada hari kiamat. Dan Samawat (planet-planet) itu berputar dengan tata hukumNya. Maha suci DIA dan Maha Tinggi tentang apa yang mereka sekutukan.
Dari keterangan ayat tersebut sangatlah jelas bahwa Bumi ini banyak (Ardhu Jami’an) berarti dia lebih dari satu sehingga benarlah bahwa keadaan planet-planet itu sama dengan Bumi ini (lihat Surat At-Tholaaq (65) ayat 12 dan Al-Baqoroh (2) ayat 29). Sebagai pembanding perhatikan ayat berikut ini :
Surat Al-Hadiid (57) ayat 21 :
Artinya :
Berlombalah kepada ampunan Tuhanmu, dan sorga seluas BUMI ANGKASA dan BUMI ini disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya. Itulah karunia yang diberikan kepada siapa yang dikehendakiNya, dan Allah memiliki karunia yang besar.
Ayat tersebut menerangkan adanya Bumi angkasa, maka dia adalah planet-planet itu yang keadaannya disamakan dengan keadaan Bumi ini. Itulah penjelasan Al Qur’an yang membutuhkan pemikiran secara cermat dan hati-hati untuk mendapatkan pengertian yang sewajarnya serta sejalan dengan keadaan yang berlaku di alam sekitar kita.
Dengan begitu hendaklah orang lebih giat mengadakan pengkajian yang sebenarnya, bukan membaca secara tradisional tanpa mengetahui arti yang dibaca sehingga orang hanya dibius dan dipesona dengan iming-iming PAHALA tanpa mengetahui apa sebenarnya pahala yang dimaksud itu.
Coba perhatikan dengan kepala dingin dan hati yang jernih, pada beberapa ayat Al Qur’an yang menerangkan tentang Surga. Dinyatakan bahwa surga itu luasnya sama dengan luasnya Bumi angkasa dan Bumi ini, sedangkan semua surga itu diciptakan Allah pastilah untuk ditempati atau disediakan bagi orang-orang Muttaqin (perhatikan Surat Al-Hadid (57) ayat 21 di atas tadi). Selanjutnya perhatikanlah Ayat berikut ini dengan teliti:
Surat Ali-Imron (3) ayat 133:
Artinya :
Bersegeralah kepada ampunan Tuhanmu dan Sorga seluas Samawat (planet-planet) dan Bumi ini, disediakan untuk orang-orang Muttaqin.
Allah menyatakan bahwa Surga itu luasnya sama dengan Samawat dan Bumi ini. Jika sekiranya masyarakat manusia itu hanya ada di Bumi ini saja, lantas siapa yang akan menempati surga yang luas sama dengan Samawat tadi, untuk apa Allah menciptakan semuanya itu?
Perlu diketahui bahwa di semesta raya ini jumlah Samawat itu milyaran dan tidak bisa dihitung. Setiap bintang itu adalah satu SOLAR SISTEM yang masing-masing bintang itu dikitari oleh planet-planet seperti halnya Surya kita yang juga dikitari oleh planet-planet, dengan istilah Samawat. Padahal semuanya itu nantinya merupakan jumlah dan ukuran sorga di Akhirat, sedangkan kita ini berada pada bagian dari Solar System tadi yaitu Bumi, sedangkan Tata Surya kita ini hanyalah bagian kecil dari Bima Sakti dengan istilah gugus Bima sakti.
Kalau kita memperhatikan susunan Tata Surya kita yang planetnya sebenarnya ada 10 planet, tapi baru 9 yang diketahui oleh manusia Bumi. Itu semua pertanda bahwa sebenarnya kita ini belum apa-apa jika dipandang dari segi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Ada dua planet yang lebih besar dari Bumi yang kita diami ini yaitu yang ada di atas Mars, orang menamakan Yupiter dan Saturnus. Menurut penelitian para ahli atronomi bahwa Yupiter itu besarnya sama dengan 318 kali besar Bumi dan Saturnus 95 kali besar Bumi kita ini. Dinyatakan juga bahwa Yupiter memiliki Bulan jumlahnya 12, dan Saturnus ada 9 buah. Dengan begitu sudah bisa dibayangkan bahwa keberadaan kedua planet itu sama dengan Bumi ini hanya dia lebih besar. Maka wajarlah kalau Bulan yang bertindak sebagai satelitnya jumlahnya banyak, sebab kalau Bulannya hanya satu mungkin tidak akan mencukupi wilayah yang sangat luas itu. Lalu untuk apa semua itu diciptakan Allah kalau sekiranya disana tidak ada penghuninya dan dibiarkan kosong? Rasanya sangat janggal dan tidak logis.
Lagi pula bahwa surga di Akhirat nanti merupakan penyempurnaan dan jumlahnya sama dengan semua planet yang ada di dunia atau di semesta raya ini. Maka benarlah pernyataan Al Qur’an kalau di setiap planet itu berpenduduk manusia seperti halnya di planet Bumi ini. Demikian itu adalah petunjuk Allah yang ada dalam Kitab Suci Al Qur’an dan memang sejalan dengan Ilmu Pengetahuan serta cocok dengan keadaan yang berlaku dan pemikiran secara wajar.
Apakah dengan penjelasan yang logis seperti itu orang masih akan berusaha menolak dan menyanggah, maka semua itu kembali kepada hati kita masing-masing. Kalau orang meyakini bahwa Al Qur’an itu merupakan petunjuk hidup bagi manusia baik tentang hukum maupun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, seharusnya kalau kita mendapatkan informasi tentang Al Quran mengenai sesuatu yang dianggap tidak sama dengan pemahaman yang selama ini kita peroleh, justru merupakan bahan pemikiran baru agar kita meneliti lebih jauh lagi agar memperoleh pengertian yang sebenarnya, dengan begitu kita akan senantiasa maju dan berkembang.
Kenapa planet-planet itu disebut “Samawat” karena memang dia posisinya selalu kelihatan diatas dipandang dari manapun. Dan planet-planet yang menjadi “langit”nya Bumi Al Qur’an menyatakan ada 7 (tujuh). Planet yang berada di atas orbit Bumi mestinya ada 7 (tujuh) yaitu : Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Sampai di Pluto baru ada 6 planet di atas Bumi maka mestinya masih ada satu lagi tetapi sarjana Bumi belum menemukan. (lihat Surat At-Tholaaq (65) Ayat 12). Untuk memperjelas dan memantapkan pengertian, maka perhatikan ayat berikut:
Surat Al-Mu’minun (23) ayat 17:
Artinya :
Dan sungguh telah Kami Ciptakan diatas kamu (diatas Bumi) tujuh (7) jalan, dan tidaklah kami lengah tentang ciptaan-Ku itu.
Ayat ini memperkuat keterangan Surat At-Tholaaq (65) Ayat 12 yang menyatakan bahwa diatas Bumi ini Allah menciptakan tujuh jalan, artinya jalan di ruang angkasa yang terletak di atas Bumi pastilah di wilayah Tata Surya kita juga, karena yang diberi petunjuk itu adalah manusia Bumi.
Maka jalan yang dimaksud adalah “GARIS ORBIT” yaitu jalan yang dilalui oleh Samawat yang jumlahnya juga ada tujuh. Semakin jelas bukan, bahwa memang benar Samawat itu adalah planet-planet yang jumlahnya di atas Bumi ada tujuh. Maka oleh sebab itu pastilah diatas Pluto masih ada satu dan kita sudah diberi tahu tinggal mencari dan meneliti. (Tim astronomi dari Amerika mengumumkan baru saja memastikan menemukan planet ke-10 yang sementara diberi nama planet Xena. Planet itu di atas Pluto dan lebih besar dari Yupiter. Planet yang baru diketahui yang masuk dalam sistem tata surya matahari itu jarak dari Pluto yaitu 3 kali jarak matahari ke Pluto).
Berdasarkan penelitian dan analisa bahwa planet yang ke 7 di atas Bumi adalah yang menurut Al Qur’an dinamakan dengan “SIDRATUL MUNTAHA”. Itulah kiranya planet sangat besar yang berada di urutan ketujuh di atas Bumi. Maka kini lengkaplah bahwa planet yang menjadi langitnya Bumi ada tujuh. Sedangkan Venus dan Mercury bukanlah merupakan langitnya Bumi karena dia berada di bawah orbit Bumi.
Perhatikan Surat Thohaa (20) ayat 6) berikut ini :
Artinya :
Kepunyaan-Nya apa-apa yang ada di Samawat dan apa-apa yang ada di Bumi dan apa yang diantara keduanya dan apa-apa yang ada di bawah Bumi (dibawah orbit Bumi)
Berikut ini beberapa ayat Al Qur’an sebagai bahan penganalisaan bahwa di setiap planet berpenduduk manusia seperti halnya di Bumi ini:
Surat Al-Isro’ (17) ayat 55 :
Artinya :
Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang diSamawat dan di Bumi, dan sungguh Kami kurniakan setengah Nabi atas setengahnya, maka Kami datangkan zabur kepada Daud.
Surat Al-A’roof (7) ayat 185 :
Artinya :
Tidakkah mereka perhatikan kerajaan di Samawat dan di Bumi serta tiap sesuatu ciptaan Allah? Mungkin telah dekat ajal (waktu) atas mereka, maka dengan Hadis mana lagi sesudahnya (AlQur’an) mereka akan beriman?
Dari Ayat tersebut dapat dipahami bahwa baik di Samawat maupun di Bumi juga diutus Nabi-Nabi yang menyampaikan wahyu Allah untuk masyarakat manusia. Karena Nabi itu diutus oleh Allah yang SATU, maka sudah pasti ajaran yang disampaikan sama, hanya mungkin saja berbeda dalam bahasanya sesuai dengan masing-masing kaumnya. Kemudian dijelaskan bahwa baik di Samawat maupun di Bumi ada kerajaan, maka pastilah rajanya adalah manusia, karena tidak mungkin binatang melata itu ada rajanya dan diutus para Nabi. Semakin jelas bukan? Selanjutnya perhatikan Ayat-ayat berikut ini dengan cermat:
Surat As-Syuura (42) ayat 12 :
Artinya :
KepunyaanNya perbendaharaan Samawat dan Bumi, DIA lapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki dan menyempitkannya. Bahwa DIA mengetahui atas tiap sesuatu.
Surat Saba’ (34) ayat 22 :
Artinya:
Katakan: “panggilah yang kamu katakan Tuhan selain Allah, mereka tidak memiliki seberat zaroh (atom) di Samawat dan Bumi dan tiada sekutu bagi mereka pada keduanya (Samawat dan Ardh) dan tidak pula penolong selain DIA.
Surat An-Naml (27) ayat 25 :
Artinya :
Apakah tidak sujud kepada Allah yang mengeluarkan rahasia Samawat dan Bumi serta mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
Dari Ayat-ayat tersebut juga bisa dipahami bahwa Allah memberikan rizqi kepada yang di Samawat dan Bumi ini terhadap semua makhluk-Nya yang terdiri dari binatang dari berbagai jenis dan juga manusia yang ada disana. Lebih jelas lagi pada surat Saba’ (34) ayat 22 dikatakan ”tidak ada sekutu bagi mereka pada Samawat dan Bumi”, padahal yang biasanya menyekutukan Allah itu adalah manusia dan tidak mungkin binatang melata.
Disamping itu dikatakan pula bahwa baik yang di Samawat maupun yang di Bumi ini banyak yang patuh kepada Allah ditandai adanya “sujud kepada Allah” maka sudah bisa dipastikan bahwa yang sujud kepada Allah di Samawat itu pastilah manusia seperti halnya kita ini.
Maka tidak diragukan lagi bahwa memang benar pada setiap Samawat (planet-planet) itu telah berkembang masyarakat manusia dan juga berbagai binatang dari berbagai jenis. Dengan keterangan demikian orang masih juga akan berusaha untuk mengelak dengan mengatakan bahwa katanya yang sujud itu bukannya manusia tapi para Malaikat, karena kata mereka ayat yang berbunyi “MAN” itu belum tentu berarti “MANUSIA”. Baiklah memang untuk menundukkan OTAK di kepala yang memang suka bersikap “ANGKUH” itu haruslah dengan menjernihkan “HATI NURANI”, maka perhatikan ayat berikut ini:
Surat As-Syuura (42) ayat 11 :
Artinya :
Yang menyusun Samawat dan Bumi, DIA jadikan bagimu atas dirimu pasangan (jodoh) begitupun pasangan dari binatang ternak, sehingga kamu menjadi ramai. Tidak satupun yang menyerupaiNYA. DIA Maha mendengar dan melihat.
Surat An-Nahl (16) ayat 49 :
Artinya :
Dan bagi Allah Sujud apa-apa yang di Samawat dan apa-apa yang di Bumi dari dabbah dan Malaikat dan mereka tidak menyombongkan (diri).
Ayat-ayat tersebut dapatlah dipahami sebagai berikut:
1. Allah yang menyusun (menciptakan) Samawat dan Bumi, dan keadaan di Samawat itu juga terjadi perkembangbiakan baik binatang ternak maupun manusia, sehingga keadaan di sana menjadi ramai karena mestinya jumlah penduduknya semakin lama semakin banyak.
2. Diantara masyarakat manusianya yang ada di sana juga melakukan sujud kepada Allah dalam arti Shalat dalam rangka melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang ada di Bumi ini. Dari Surat An-Nahl (16) ayat 49 itu dibedakan antara dabbah dan Malaikat, padahal pengertian dabbah itu termasuk di dalamnya adalah manusia.
3. Maka tidak ada alasan bahwa yang sujud disana hanyalah Malaikat tetapi juga termasuk di dalamnya adalah manusia. Lagi pula apakah Malaikat itu harus berpasang-pasangan sebagaimana yang dimaksud pada Surat As-Syuura (42) ayat 11 tadi. Maka yang berpasangan (jodoh) dan kemudian menjadi banyak adalah manusia dan binatang-binatang.
Selanjutnya perhatikan analisa Ayat berikut ini :
Surat Ali-Imron (3) ayat 190 :
Artinya :
Sesungguhnya pada penciptaan Samawat dan Bumi serta pergantian siang dan malam merupakan pertanda bagi ulul albab (para peneliti/ahli pikir).
Surat Ruum (30) ayat 22 :
Artinya :
Dan dari ayat-ayatNYA penciptaan Samawat dan Bumi serta perbedaan lidahmu (bahasamu) dan warnamu, bahwa pada yang demikian adalah ayat bagi orang-orang yang ingin tahu.
Surat Al-Ma’aarij (70) ayat 40 :
Artinya :
Maka janganlah AKU bersumpah dengan Tuhan timur-timur dan barat-barat, bahwa Kami adalah menentukan.
Perhatikanlah bahwa di Samawat yang diciptakan Allah itu juga terjadi adanya pergantian siang dan malam seperti halnya di Bumi ini. Di sana juga manusianya terdiri dari bermacam-macam bahasa serta perbedaan warna kulitnya, sebagaimana yang kita saksikan di muka Bumi ini, ada yang berkulit putih, ada yang sawo matang, ada yang hitam dan lain-lain.
Istilah timur-timur dan barat-barat menandakan bahwa timur dan baratnya itu banyak (tidak hanya satu), maka disetiap Samawat itu juga ada timur dan baratnya, seperti juga yang ada di Bumi ini. dan semua timur dan barat yang ada di sana itu juga merupakan daerah kekuasaan Allah yang satu. Arah timur dan barat itu ada karena adanya kutub utara dan selatan, yang kemudian berbentuk globe seperti Bumi ini, maka kemudian timbulah suatu arah yang orang mengatakan timur dan barat itu.
Kalau sekiranya Samawat itu diartikan langit, maka orang akan kesulitan bahkan tidak mungkin bisa menentukan arah yang dinamakan dengan timur atau barat itu. Itulah makna Al Qur’an sebagai petunjuk bagi semua manusia yang suka memikirkan. Dalam keterangan ini juga merupakan pemahaman tentang istilah dalam Ayat yang harus dipahami berdasarkan pemikiran secara wajar sehingga bisa dimengerti oleh semua pihak dan sejalan dengan keadaan yang berlaku di jagad raya ini.
Kalau setiap keterangan tidak bisa dipahami menurut akal sehat, maka siapapun akan selalu bertanya-tanya, bahkan selalu dibayangi keraguan, akibatnya muncul sikap masa bodoh dan tidak ada kepastian. Hal demikian terjadi karena hampir sebagian besar orang-orang Islam kurang serius dalam menganalisa dan mendalami Al Qur’an, bahkan cenderung monotone secara tradisional secara turun temurun dengan doktrin yang mematikan kreatifitas. Orang lebih suka mengikuti apa yang sudah ada tanpa ada keberanian untuk melakukan pendalaman dan pengkajian secara teliti, walaupun pengertian yang di dapat selama ini banyak yang bertentangan dengan alam pikirannya sendiri. Ironisnya para Sarjana kita pun masih banyak yang mengikuti cara-cara seperti itu, walaupun tidak semuanya. Selanjutnya perhatikan Ayat-ayat berikut:
Surat Luqman (31) ayat 10 dan 20
Artinya :
10. DIA ciptakan Samawat (planet-planet) tanpa tiang seperti yang kamu lihat, dan DIA tempatkan di Bumi rawasia untuk memberi kekuatan padamu, dan DIA kembang biakkan padanya dari dabbah dan Kami turunkan air dari angkasa lalu Kami tumbuhkan padanya dari setiap pasangan yang mulia.
20. Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah mengedarkan untukmu apa-apa yang di Samawat dan apa-apa yang di Bumi serta mencukupkan atasmu nikmat-NYA lahir batin? Dan dari manusia itu ada yang menyanggah Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab yang menerangkan.
Surat Saba’ (34) ayat 24
Artinya:
Katakanlah : “Siapakah yang memberi rezki padamu di Samawat dan Bumi? Katakanlah: “ALLAH”, Kamikah atau kamukah atas petunjuk atau pada kesesatan nyata.
Surat Al-Jatsiyah (45) ayat 13
Artinya :
Dan DIA edarkan bagimu apa-apa yang di Samawat dan apa-apa yang di Bumi semuanya dari-NYA. Bahwa yang demikian adalah Ayat bagi kaum yang berpikir.
Surat Ali-Imron (3) ayat 83
Artinya :
Apakah selain agama Allah yang mereka cari? Padahal bagiNYA telah Islam orang-orang yang di Samawat dan di Bumi dengan patuh dan terpaksa, dan kepadaNYA mereka akan dikembalikan.
Surat Yusuf (12) ayat 105
Artinya :
Banyak diantara Ayat-ayat di Samawat dan di Bumi mereka melewatinya dan berpaling padanya.
Surat Ad-Dukhaan (44) ayat 38
Artinya :
Tidaklah Kami ciptakan Samawat dan Bumi serta diantaranya dengan main-main. Tidaklah Kami ciptakan semua itu kecuali secara haq tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Surat Jaatsiyah (45) ayat 22
Artinya :
Dan Allah menciptakan Samawat dan Bumi secara haq agar dibalas setiap diri menurut usahanya dan mereka tidak didzalimi.
Kalau diperhatikan dengan cermat Ayat-ayat tersebut maka dapat dipahami sebagai berikut :
1. Bahwa Planet-planet maupun Bumi sebenarnya melayang di angkasa mengitari Surya, tanpa tiang dan tanpa ikatan yang bisa dilihat langsung oleh mata setiap orang. Coba perhatikan pada malam hari, maka anda akan melihat planet-planet itu memang benar-benar melayang tanpa ikatan, namun diterangkan bahwa pada setiap planet itu ditempatkan rawasia (proton) untuk memberikan kekuatan padanya. Kalau planet-planet itu tanpa rawasia maka dia akan melayang tanpa tujuan entah kemana. (lihat Surat Luqman (31) ayat 10).
2. Bahwa di planet-planet itu juga telah berkembang berbagai makhluk yang terdiri dari bermacam-macam makhluk bernyawa seperti binatang dan manusia yang diistilahkan “dabbah”.
3. Diantara manusia itu ada yang suka menyanggah dan membantah keterangan Allah, tanpa dasar ilmu dan tanpa petunjuk tetapi hanya atas dasar katanya si Anu dan lain-lain (Surat Luqman (31) ayat 20).
4. Di sana juga diturunkan hujan sehingga menimbulkan banyak berbagai tetumbuhan dari berbagai macam untuk kebutuhan hidup bagi manusia dan makhluk lainnya di planet itu.
5. Semua makhluk yang ada di sana juga diberikan rezki atas ketentuan Allah. Dan diantara manusia yang ada disana ada juga yang sadar akan hukum Allah tapi ada juga yang sesat seperti halnya yang ada di Bumi (Surat Saba’ (34) ayat 24).
6. Diantara manusia yang ada disana ada yang Islam secara taat, ada juga yang Islam terpaksa (tidak sungguh-sungguh) (Surat Ali-Imron (3) ayat 83).
7. Banyak disampaikan Ayat-ayat Allah sebagai peringatan bagi manusianya, tetapi nyatanya juga banyak yang lewat dan berpaling menolak. (Surat Yusuf (12) ayat 105).
8. Allah menciptakan itu bukanlah untuk main-main tetapi sengaja diciptakan memang untuk ditempati manusia dan juga merupakan ujian tentang baik dan buruk untuk nanti di balas di Akhirat (Surat Ad-Dukhaan (44) ayat 38 dan Surat Jaatsiyah (45) ayat 22).
Maka cukup jelas bahwa ternyata memang di setiap planet itu telah berkembang dari masyarakat manusia seperti yang ada di Bumi ini dengan naluri yang sama, sikap dan perilaku yang sama pula hanya saja berbeda bahasa dan warna kulit.
Kalau sekiranya manusia itu teliti dan memperhatikan Ayat-ayat Al Qur’an dalam penganalisaan, maka akan diperoleh keterangan dan petunjuk bahwa nantinya manusia itu akan mampu menjelajah antara planet asal saja mereka mampu menciptakan atau mewujudkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ruang angkasa yang dalam Al Qur’an disebut “SULTHON” atau “DAYA” yang mestinya berupa pesawat ruang angkasa berupa “PIRING TERBANG” yang anti gravitasi, perhatikan Ayat berikut:
Surat Ar-Rohmaan (55) ayat 33 :
Artinya :
Wahai masyarakat jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi daerah Samawat dan Bumi (ruang angkasa) maka lintasilah. Tidaklah kamu bisa melintasi kecuali dengan sulthon (daya – IPTEK).
Ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa nantinya jin maupun manusia akan mampu melintasi ruang angkasa dalam arti mampu menjelajah antar planet ketika dia sudah mampu menciptakan sulthon yaitu daya atau kekuatan yang berupa pesawat ruang angkasa (mestinya sejenis Piring Terbang, karena dengan bentuk seperti cakram akan bergerak ke segala arah dengan cepat. Bentuk itu mirip dengan bentuk galaksi).
Dengan penjelajahan antar planet demikian akan diketahui bahwa ternyata disana juga berpenduduk manusia sebagaimana yang ada di Bumi ini. Jika hal itu telah dibuktikan berarti orang mau tidak mau harus mengakui akan kebenaran Al Qur’an. Kalau sekarang ini orang baru mempercayai, tapi nantinya akan meyakini. Maka dengan begitu juga akan muncul teori-teori baru dan bahkan mungkin akan menggagalkan teori lama yang semula sudah dianggap benar, karena sudah tidak cocok lagi dengan kenyataan yang ada.
Sekarang ini manusia Bumi baru bisa mendarat di Bulan dan ada yang mendarat di Planet Mars tetapi tanpa awak. Tunggulah perkembangan berikutnya kalau memang anda tidak percaya dengan informasi dari Ayat Al Qur’an. copyright (c) 2005
Karanganyar, Muharam 1423 H
Yayasan Tauhid Indonesia
Jl. Tentara Pelajar No.9 Telp. 0271-610234
Karanganyar – Surakarta, Jawa Tengah
aku setuju
sangat menarik.tulisan yang bagus.membuka cakrawala pikiran kita.
Mengenai pembahasan adam adalah manusia pertama memang sangat menarik dan telah dibahas oleh banyak orang.
yang menjadi pertanyaan jikalau benar adam adalah manusia pertama bagaimana dengan keberadaan manusia yang lain??karena tidak mungkin antara sesama orang afrika bisa menghasilkan keturunan selayaknya orang china yang mempunyai kulit yang putih.
adam diciptakan untuk menjadi kholifah atau pemimpin kalo adam tidak mempunyai ummat maka siapakah yang akan beliau pimpin?apakah sekumpulan kera?
mungkin ini dulu jawaban dari saya.
paling mudah sekali….akur saja ucapan Allah…
tak perlu terlalu diperkatakan/dibincangkan…
kalau Allah kata “Adam manusia pertama” siapa lagi
boleh membantah ?…dan lagi…mungkin saja fosil
tersebut adalah orang tanpa sifat ‘kemanusiaan’ atau sifat ‘ insan ‘….kita semua harus ingat…yang diperkatakan ialah ‘MANUSIA’ bukan ‘ORANG’. ‘INSAN’ bukan ‘HAIWAN’…
wow…
bener2 detail yah…
gmana kalo tentang yang katolik yah???
bisakah anda yang katolik menjelaskan hal ini??? sekolah saya sedang memperdebatkan teori mana yang benar Teori Adam dan Hawa ataukah Teori Darwin dengan evolusi manusia. saya harap bantuan pada saudara/saudari sekalian
menurut saya kita tidak usah meributkan tentang adam manusia petama ato bukan yang jelas sekarang kita saling intropeksi diri saja, mana yang mo kita utamakan apakah kita percaya pada tuhan ato ga? karena percuma saja kita meributkan perihal adam sedang kita sendiri masih meributkan agama mana yang benar,contohnya islam ato katolik? yang jelas menurut saya, mengapa kita memperdebatkan hal itu bila kita merasa agama kita benar mengapa saling menuding agama lain sesat? padahal yang saya tau dalam agama islam ato kkristen mengajarkan kedamaian. so mengapa kita ga menyebarkan kedamaian malah membuat kerusuhan?yang tuhan nilai itu ibadah kita. bukannya sampai mana kita bisa menghancurkan agama yang lain bahkan membunuh orang lain yang tidak seiman, sekian dari saya mudah2an bisa diterima sodara2 semua, amin.
salam……
saya setuju dengan mas atau apa nih panggilnya elfarid dan ryan. karena semua agama tuh mengajarkan kedamaian kenapa kita harus memperdebatkan masalah yang mungkin saya anggap sepele, karena adam & hawa diciptakan yang pertama atau bukan kita tidak tahu dan menurut semua kitab yang dimiliki oleh para pengikut menceritakan hal yang berbeda2, misalnya Agama Islam yang menceritakan bahwa adam & hawa manusia pertama, sedang menurut yang lain ada yang menceritakan bahwa adam & hawa bukan manusia yang pertama sehingga kita tidak perlu memperdebatkan masalh tu. lebih baik kita merujuk kembali kepada kitab kita masing2 karena kitab itulah yang menjadi panutan kita. sebaiknya masalh itu hanya urusan kita dengan Allah (wallahu’alam bishawab) wassalam.
Ada yang tertulis berbahagialah bagi orang yang tidak melihat namun percaya.
Kalau mau di telusuri otak kita yg sangat minim ini mau menindak lanjuti tentang Pencipta anda sendiri.
Terima kasih
Tuhan memberkati
Iman dan hikmat tidak selalu berjalan selaras. Tidak semua yang lahir dari iman dapat dipahami dengan hikmat manusia. Karena itu I Korintus 2:5 menasihatkan kita agar iman kita jangan bergantung pada hikmat manusia. Walau ada orang yang mengaku-aku dapat memahami apa yang dikerjakan Allah di dunia ini, tetapi Raja Salomo dalam Pengkotbah 8:16-17 jelas menyatakan tidak mungkin bisa paham. Hanya secuil pengetahuan tentang dunia ini yang kita tahu, selebihnya hanya Allah yang tahu.
Berapa usia Bumi?
Tentang umur bumi ini, bukan hanya 6.000 tahun saja. Perlu kita ingat, bahwa Adam dan Hawa hidup di taman Eden, hidup seperti malaikat. Tidak ada umur dan tidak sakit dan tidak mati, jadi mereka disana bisa mencapai jumlah tahun yang takterbatas. Sampai mereka memakan buah yang membuat mereka mati (Kejadian 2:17). Setelah mereka keluar dari taman Eden karena dosa (Roma 6:23), barulah usia Adam mulai dihitung oleh Allah sampai matinya, demikian juga dengan keturunannya. Kita semua akan mati. Bukankah kita menghitung umur adalah menghitung kematian kita?
Kejadian 1:1 sampai Kejadian 2:3 adalah satu bagian tentang penciptaan bumi ini. Kejadian 2:4-25 adalah cerita tentang penciptaan Adam dan Hawa. Selama 6 hari Allah menciptakan bumi ini dan hari ke-7 Allah berhenti dari segala yang dikerjakanNya. Hampir semua penafsir Alkitab menyamakan 1 hari penciptaan dengan 2 Petrus 3:8 dimana 1 hari dihadapan Allah sama dengan 1.000 tahun. Sehingga disimpulkan proses penciptaan terjadi 6.000 tahun.
Saya yakin anda percaya kalau Allah sanggup menyelesaikannya hanya dalam waktu 1 detik waktu manusia jika Allah menghendakiNya. Tidak ada yang mustahil bagiNya. Tetapi Allah menghendaki semua ini diselesaikan dalam 6 hari, atau 6 tahap. Allah tidak bicara tentang jumlah tahun, tetapi tentang tahapan penciptaan. Dimana pada hari ke-7, Allah berhenti dari segala yang dikerjakanNya. Sesungguhnya Allah tidak pernah sekalipun berhenti bekerja, apalagi selama 1.000 tahun.
Menurut pendapat saya, perdepatan tentang waktu penciptaan dan usia bumi, perdepatan antara pengukuran dengan metode ilmiah apakah jutaan tahun dengan penafsiran Alkitab tentang usia bumi apakah hanya 6.000 tahun, tidak perlu lagi. Sebab memang Alkitab tidak menulis detil tentang hal ini dan memang tidak semua hal ditulis dalam Alkitab. Ulangan 29:29, menjelaskan kalau hal-hal tersembunyi itu bukan bagian kita dan hanya yang dinyatakan saja yang menjadi bagian kita. Alkitab itu bukan buku ensiklopedi yang memuat seluruh misteri dunia tetapi surat cinta Allah kepada manusia, yang memuat janji-janji Allah tentang keselamatan dan cintaNya. 6 hari penciptaan dan hari ke-7 Allah berhenti bukan bercerita tentang bumi ini, tetapi tentang cinta Allah kepada kita. Seperti yang dijelaskan dalam II Korintus 3:14-15, bahwa kalau kita baca kitab Musa tersebut, selubungnya harus dibuka terlebih dahulu. Hanya Kristus yang dapat membuka selubung tersebut sehingga kita dapat memahami hal tersebut bukan secara hurufiah tetapi secara rohani. Bukan menghitung berapa lama penciptaan terjadi, tetapi apa yang ingin Allah sampaikan kepada kita tentang 6 hari dan 1 hari tersebut.
Demikian, sedikit ini semoga dapat mencerahkan mereka yang memiliki Roh Kristus didalam dirinya.
Adam apakah manusia pertama?
Pendapat saya ya. Ingat bahwa Allah hanya menuliskan nama anak laki pertama saja disetiap keturunannya. Anak laki kedua dan seterusnya juga perempuan tidak dihitung. Jadi anak Adam itu banyak (Kejadian 5:4) bukan hanya Kain dan Set saja.
Umur mereka rata-rata seribu tahun, sekitar umur 100 tahun mereka menikah dan memiliki anak, selama ratusan tahun sisanya berapa banyak anak yang dapat dihasilkan? Jangankan mereka, kakek dan nenek kita walau usianya jauh lebih singkat bisa memiliki anak 6 sampai 9 orang bahkan ada yang diatas 10 orang. Hanya kita saja generasi sekarang, lebih menyukai 1 sampai 3 anak saja. Anak 4 sudah dibilang banyak.
Karena itulah tidak mengherankan jika dari banyaknya anak Adam dan anaknya anak Adam dan seterusnya mereka cepat berbiak dan cepat memenuhi bumi. Coba lihat benua Amarika yang padat, kota New York yang tidak kenal siang dan malam, beberapa ratus tahun yang lalu tidak seorangpun tinggal disana. Jakarta yang macet setiap hari, berjubel disana-sini, beberapa ratus tahun yang lalu, penduduknya satu sama lain saling mengenal.
Saya percaya Allah membantu mereka berkembang biak dengan capat dan menyebar keseluruh penjuru bumi. Hanya anak pertama saja yang menetap karena kehendak Allah.
Tentang Kain dalam Kejadian 4:14, bukan berarti ada manusia lain sehingga takut dibunuh. Pada saat itu ketakutan yang dipikirkan oleh Kain adalah pembalasan dendam. Kita semua tahu, pada saat itu dosa telah bekerja pada tubuh manusia. Siapa yang membunuh? Kain adalah pembunuh pertama di dunia, rasa takut dibunuh juga ada di pikirannya.
Tentang Kain, tidak ada tertulis kain pergi kesuatu komunitas, Kejadian 4:16-17 menyebutkan bahwa kain pindah kesuatu tempat di tanah Nod dan memiliki anak dengan istrinya. Pada saat itu perkawinan antar saudara kandung bukan sesuatu yang ganjil, bahkan perkawinan antara sanak saudara terus berlangsung sampai jaman Yakub bahkan juga bilehan dunia lain dari anak-anak Adam yang tidak tertulis namanya.
Juga tentang raksasa, tidak perlu heran jika ada orang yang dapat berkembang biak lebih besar, bahkan fisik saya jauh lebih besar dari pada ayah dan ibu saya. Anak saya juga masih kelas 1 SD tetapi tinggi dan besarnya sudah seperti anak kelas 5 SD. Beberapa orang bilang karena perbaikan nutrisi, beberapa orang dapat menjadi lebih besar dan beberapa menjadi kecil. Juga perkawinan antar keluarga telah lama diketahui dapat menciptakan mutasi kromosom, baik positif maupun negatif, apakah itu membuat perubahan permanen dan menurun ataukah dapat menimbulkan keluarga raksaksa, masih belum ada yang membuktikan secara ilmiah, namun hal ini jaga dapat dipikirkan.
Intinya, kita harus percaya bahwa Alkitab menuliskan kebenaran, jika dalam I Korintus 15:45 dikatakan Adam adalah manusia pertama. Maka benarlah demikian dihadapan Allah dan manusia. Mari kita melihat Adam sebagai suatu janji tentang kehidupan kekal didalam Kristus bukan sebagai perdebatan manusia pertama dan manusia lain sebelum atau seangkatan dengan Adam.
namanya agama adalah sebuah jalan iman yang hanya melibatkan individu dengan tuhannya saja sehingga apapun agamanya dan keyakinannya itu berpulang ke dirinya sendiri karena dia yang memahaminya
++
adam & hawa = laki2 & perempuan
adam & hawa = penis & vagina
bahasa yang simbolistik…
simpelnya Tuhan menciptakan perbedaan untuk meneruskan keturunan
(please dewh, kok pada gak ngarti sewh klo kitab suci itu penuh dengan bahasa sastra manusia…. )
++
Menurut Iqbal, Adam bukan manusia pertama. Kisah Adam dalam al qur’an hanyalah legenda/mitos, bukan sebuah kisah historis dalam sejarah umat manusia.
Kejatuhan Adam dari “jannah” pun buakn terusirnya adam dari surga karena memakan buah khuldi (bodoh sekali Adam). Tetapi adalah proses pencerahan manusia dari sifat primitif selera naluriah (”basyar”) kepada kesadaran diri akan kebebasan (”insan”).
Thanks
Kita dianugerahi pikiran untuk dipergunakan semaksimal mungkin, bukan sebagai hiasan pelengkap isi kepala saja, dan kita tidak perlu takut pendapat kita bertentangan dengan apa yang kita imani karena Tuhan memberikan kebebasan yang luas bagi kita semua untuk berpikir tanpa dihantui perasaan berdosa.
Hanya masalahnya adalah bagaimana Nabi-nabi menuliskan kisah penciptaan itu didalam Alkitab, dan relevansinya bagaimana terhadap perkembangan tehnologi saat ini.
Sedikit gambaran saja dari referensi yang saya baca, bahwa Mitos Penciptaan ini yaitu penciptaan jagat raya dan seisinya ini khabarnya mirip dengan Mitos-mitos yang ada di Mesopotamia.
Selanjutnya ada yang pernah mendengar ini? tlg kontribusinya.
SAMPAI SEKARANG SAYA MASIH BELUM YAKIN BAHWA ADAM DAN HAWA ADALAH MANUSIA PERTAMA.
herman :__________________________________________
Kesimpulannya : Adam BUKAN manusia pertama yang DICIPTAKAN Tuhan, melainkan manusia pertama yang DIBENTUK Tuhan (dari Tanah). Manusia pertama adalah manusia sebelum Adam, yang kita tahu kapan Tuhan menciptakannya. Tapi yang jelas, manusia pertama TIDAK dibuat dari tanah melainkan diciptakan Tuhan lewat ucapannya (Firmannya). Manusia pertama langsung ada dari sebelumnya tiada karena Tuhan menghendakinya. Itulah yang disebut DICIPTAKAN.
Sedangkan Adam, Alkitab memberitahu kita bahwa ia dibentuk (bukan DICIPTAKAN) dari debu tanah. Jadi, Adam dibentuk dari material yang sudah ada di bumi ini yakni debu tanah, BUKAN tercipta atas perkataan Tuhan.
Namun ada perbedaan yang jelas antara manusia YANG DICIPTAKAN (manusia sebelum Adam)dengan Adam (plus Hawa).Manusia sebelum Adam hanya terdiri dari raga dan jiwa (Tidak memiliki Roh), sehingga kehidupan mereka seperti hewan, tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Oleh karena itu, Tuhan tidak meminta pertanggung jawaban terhadap perbuatan mereka selama hidup. Dalam arti, tidak ada surga dan neraka untuk mereka.
Sebaliknya Adam. Dia adalah manusia yang sempurna. Punya tubuh, jiwa dan ROH sehingga bisa membedakan mana yang baik - mana yang jahat dan yang lebih penting lagi, TAHU dan mengenal Tuhan !!
Argumen yang cukup masuk akal,
————————————————————————–
Selama ini saya memiliki argumen demikian :
ADAM DAN HAWA KEMUNGKINAN HANYA SEBUAH MITOS SAJA DAN BENAR-BENAR TIDAK ADA SAMA SEKALI.
Adam dan Hawa hanyalah sebuah mitos yang terpelihara, faktanya :
1. Saksi penciptaan hanyalah Allah sendiri, manusia masih
belum ada sebelum jagat raya ini diciptakan.
2. Budaya tulis menulis dengan perkiraan masa penciptaan
sangat jauh sekali.
3. Ada komunitas lain diluar Adam.
yang jadi pertanyaan adalah Mengapa Kisah Adam dan Hawa bisa muncul di Alkitab, pembenaran yang mungkin bisa saya pahami adalah kemungkinan para Nabi terdahulu juga seperti kita yang ingin memahami keberadaan alam ini, namun karena keterbatasan cakrawala tehnologi, hingga mencapai suatu kata sepakat demikian yang bisa juga diartikan sebagai suatu “Pembatasan Maksimal” terhadap spekulasi keberadaan alam ini. beda sekali dengan saat ini, tehnologi sudah berkembang sangat pesat bahkan sampai kita bisa perkirakan konsep terjadinya Tata Surya (Walaupun proses terjadinya manusia juga awalnya masih belum diketahui sampai saat ini).
Lihat saja umur Adam yang hampir 1000 tahun
————————————————————————–
Maaf, saya juga masih belum yakin umur manusia bisa mencapai 1000 tahun, rasanya inipun adalah bagian dari mitos belaka karena kalenderisasi/sistim penanggalan yang tertua yang saya ketahui rasanya lebih tua kalenderisasi china daripada yunani dan romawi, itupun masih sekitar 2500an tahun (bulan) yang lalu. sehingga dasar pengambilan standar tahun bisa jadi atas dasar lain, rasanya lebih masuk akal kalau hitungan tahun pada masa itu didasarkan atas bulan. kalau kita estimasi adalah :
usia adam :
1 tahun = 12 bulan
1000 tahun = 1000/12 = kira2 85 tahun (hitungan Masehi)
Nah kalau hitungan saya diatas bisa diterima, usia 85 tahun itu lebih masuk akal
salam.
@Dear Yoseph (#27),
Jika menurut Anda:
Saya tidak sependapat. Keberatan saya adalah:
1. Benarkah saksi penciptaan hanya Allah sendiri? Kalau di Kitab Kejadian Allah itu menyebutkan diri sebagai “KAMI”, maka kemungkinan Allah tidak sendiri. Kristen mengimani bahwa Allah adalah Tritunggal. Jadi paling tidak “KAMI” di Kitab Kejadian adalah Allah Tritunggal.
Tetapi keberatan saya yang paling besar bukan karena jumlah saksinya, tetapi karena Anda meragukan Allah. Keraguan Anda berarti keraguan Anda akan Allah. Anda menganggap Allah berbohong ketika Anda menganggap bahwa kisah Adam-Hawa adalah mitos.
2. Budaya tulis menulis memang jauh sekali dari masa penciptaan. Tetapi orang Kristiani percaya bahwa penulisan Alkitab adalah karena dorongan Roh Kudus. Hanya karena Roh Kudus sajalah sehingga manusia bisa menuliskan kisah kasih Allah dan sejarah manusia.
3. Banyak orang yang sepaham dengan Anda, yaitu ada “manusia” lain di luar Adam-Hawa. Mereka beranggapan bahwa “manusia” lain ini adalah manusia tanpa roh dan hanya memiliki jiwa & raga. Dan banyak yang berpendapat bahwa terbentuknya bangsa manusia adalah hasil perkawinan keturunan Adam dengan “manusia” ini. Betulkah demikian?
Sekarang saya balik pertanyaannya: “Apakah manusia di luar Adam-Hawa ini memiliki biologis (genetis) yang sama dengan Adam-Hawa?”
“Benarkah manusia di luar Adam-Hawa ini adalah manusia hasil evolusi?”
Jikalau benar, maka apakah bisa manusia ini menikah dengan keturunan Adam?
Penelitian ilmiah menyatakan bahwa jika dua mahluk beda spesies, maka tidak dapat dilakukan kawin silang. Artinya tidak mungkin manusia kawin dengan kera dan menghasilkan anak. Tidak percaya? Silakan coba sendiri.
Keberatan berikutnya adalah: maukah keturunan Adam-Hawa menikah dengan “manusia” tanpa roh ini? Ini seperti ketika Anda mau menikahi kera yang tanpa roh itu. Secantik apa pun kera tersebut, pasti Anda tidak akan mau.
Penulisan kisah Adam-Hawa diilhami oleh Roh Kudus sehingga Musa (atau asistennya) bisa menuliskan kisah ini. Jika Anda meragukan kisah ini, berarti Anda meragukan Alkitab. Seperti juga kitab Wahyu yang menuliskan hal-hal surgawi dan kiamat. Benarkah ini sekedar mitos? Memang hal yang tertulis di Kitab Wahyu banyak yang belum terjadi. Tetapi bisakah kita mengklaim bahwa itu semua hanya mitos?
Hanya iman yang dapat menjawabnya. GBU.
@Dear Yoseph Henri (#28),
Saya percaya Alkitab dan saya percaya kalau Alkitab menuliskan usia Adam yang mencapai 930 tahun. Dahulu memang manusia bisa berusia rata-rata 1000 tahun. Dari sepasang manusia bisa menjadi bangsa yang besar. Pada masa itu ada juga manusia raksasa.
Tetapi rupanya manusia dengan umur yang panjang tersebut malah banyak melakukan dosa. Dan kian lama semakin parah dosanya. Oleh karena itu Allah membatasi usia manusia lewat Kejadian 6:3
Dengan usia manusia yang Anda batasi menjadi 85 tahun, mungkinkah Kain, Set dan anak-anak Adam yang lain bisa membangun suatu bangsa yang besar?
GBU.
@Dewo(29)
Sorry baru masuk bagian sini, terlalu concern di bag. depan, komunikasi gak nyambung.
Dewo
2. Budaya tulis menulis memang jauh sekali dari masa penciptaan. Tetapi orang Kristiani percaya bahwa penulisan Alkitab adalah karena dorongan Roh Kudus. Hanya karena Roh Kudus sajalah sehingga manusia bisa menuliskan kisah kasih Allah dan sejarah manusia.
===Inilah yang saya maksudkan. Saya meyakini bahwa Kitab kejadian mengenai Penciptaan ini dituliskan/disalin atas Kuasa Allah yang membimbing akal budi, hati nurani serta menggerakkan tangan-tangan penulis dengan suatu maksud tertentu dalam memperkenalkan Dirinya.
3. Banyak orang yang sepaham dengan Anda, yaitu ada “manusia” lain di luar Adam-Hawa. Mereka beranggapan bahwa “manusia” lain ini adalah manusia tanpa roh dan hanya memiliki jiwa & raga. Dan banyak yang berpendapat bahwa terbentuknya bangsa manusia adalah hasil perkawinan keturunan Adam dengan “manusia” ini. Betulkah demikian?
Sekarang saya balik pertanyaannya: “Apakah manusia di luar Adam-Hawa ini memiliki biologis (genetis) yang sama dengan Adam-Hawa?”
“Benarkah manusia di luar Adam-Hawa ini adalah manusia hasil evolusi?”
Jikalau benar, maka apakah bisa manusia ini menikah dengan keturunan Adam?
==”Manusia lain” diluar Keluarga Adam dan Hawa. bisa mas Dewo buka di :
Kej 4: 14-16 Kain takut dibunuh
Kej 4: 17 Kain bersetubuh dengan istrinya
Bukankah Anak Adam adalah Kain dan Habel? Habel telah dibunuh oleh Kain, Set belum lahir.
Jadi walaupun saya mengandalkan logika, saya juga memberikan fakta dari Alkitab. Jadi gak sampai kebablasen gitu lho mas Dewo?
Salam Damai Dalam Kistus
Mas Dewo
Mitos penciptaan Adam dan Hawa ini sy menggali dari berbagai sumber kisahnya ‘Sangat Mirip’ dengan kisah Penciptaan dewa2 dari Asal Negeri Abraham, bahkan saya sempat baca juga di China ada kemiripan, hanya saja saya masih kehilangan jejak data2nya, sudah 1 tahun ini saya coba cari2 masih blm ketemu, mdh2an kalau sdh ketemu akan saya sajikan di blog ini thks.
Salam Damai Dalam Kistus
Ralat (31)
===Inilah yang saya maksudkan. Saya meyakini bahwa Kitab kejadian mengenai Penciptaan ini dituliskan/disalin atas Kuasa Allah yang membimbing akal budi, hati nurani serta menggerakkan tangan-tangan penulis dengan suatu maksud tertentu dalam memperkenalkan Dirinya
==….DiriNya
@Elfarid (15)
Akan tetapi selama ini yang dipelajari para ilmuwan Muslim baru sebatas hal yang berkaitan dengan ibadah, dikiranya Al Qur’an tidak mampu menerangkan hal-hal berkaitan dengan segala yang ada di semesta. Padahal kalau Al Qur’an dipahami dengan sungguh-sungguh maka akan muncul Sarjana-sarjana Al Qur’an dari berbagai disiplin ilmu yang berkualitas tinggi dan handal. Dengan begitu Ilmu Pengetahuan akan maju pesat sejalan dengan tingkat kemampuan dalam pemahaman Al Qur’an oleh para pemeluk Islam atau para Ilmuwan itu sendiri.
—————-
===Panjang banget commentnya, Hebat banget mas sampai ke Planet luar angkasa segala.
Saya pengin jawaban yang pasti-pasti saja dari anda, bukan ilmu cocok-mencocok, jawabannya sudah ada baru dicocok2kan dengan Alquran, kapan nih ilmuwan muslim mulai melakukan penelitian? apa cuma mau menunggu hasil jerih payah Ilmuwan2 nonmuslim untuk kemudian anda cari-cari kesesuaiannya di Alquran? kalau seperti itu sih seperti ramalan Joyoboyo juga ada.
Sebelum manusia bisa terbang ke angkasa, Gatutkaca sudah terbang duluan ke angkasa, bahkan Sun Go Khong sudah nyampe ke angkasa Jauuuuuuuuuuuuh sebelum islam muncul.
Nah, bagaimana ini? duluan mana?
===Kalau mau diskusi disini mendingan fokus ke topik aja, Apa dan bagaimana ayat-ayat alquran yang isinya khusus mengenai Adam, baru kemudian diulas dengan logika, bukan khayalan atau dongeng2 pengantar tidur.
Salam
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sudah saatnya umat Islam bersatu dan menegakan syariat islam di indonesia, karena memang ideologi Pancasila sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc
Ada klarifikasi :
http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/7624203719-blog-fitnah-dan-provokasi.htm
salam
saya pun pernah diceritakan oleh seorang guru agama d salah satu pondok pesantren terkenal d wilayah madiun beliau mengatakan bahwa ad kehidupan manusia sebelum adam dan hawa dan itu ad d kitab suci.Banyak pemikiran2 dahulu yang dijadikan acuan saat sekarang berpedoman dalam hidup.saya pernah baca d salah kitab agama bahwa bumi itu datar pada kenyataannya bahwa bumi itu bundar.pemikiran2 dahulu memang ad benarnya,namun saat ini dengan teknologi kita dapat menjawabnya.sayapun yakin pasti ad kehidupan sebelum adam.dengan logika manusia pada saatnya waktu manusia g akan percaya dengan kitab suci yang akan menjadikan paham ATHEIS menjadi keyakinannya.matur nuwun
Bukan kemacamragaman dogma melainkan fanatik di bidang dogma, itu yang merusak. Jadi jika kita masing2 melakukan apa yang teguh kita yakini sbg “kehendak Tuhan” hasilnya akan menjadi kekacauan besar. Kepastian itu salahnya. Orang rohani itu tahu akan ketidakpastian - sikap mental yang tidak dikenal oleh orang yang fanatik dengan agamanya.
Teologi atau “agama” telah menjadi kejahatan karena teologi atau “agama” tidak lagi mencari kebenaran, melainkan sekadar mempertahankan sistem kepercayaan.
Mrk yang dipenuhi dgn pandangan2nya sendiri akan tuli pada kata2 bijak dari orang lain. Yang sering terjadi dlm diskusi antara 2 orang adalah yang satu mendesakkan pandangannya pada yang lain. Akibatnya, ia tidak belajar apa pun kecuali pandangan2nya sendiri.
Salam sejahtera christ,
Christ ko terlalu banyak psikologi, saya tak percaya ko faham Bible!
Khas untuk Dewo saya suka bagi komen lagi tentang usia Alam Semesta ni.
Sebab Al-Quran pun menegaskan tentang usia Alam Semesta melaui Relativiti masa. Menurut Bible usia Alam Semesta 6000 Tahun! Langsung tak masuk akal!
Saya malas nak ulas panjang lebar TAPI usia Alam Semesta Kajian Sains hasilnya sama dengan Keterangan Al-Quran.
Tapi saya tak mahu kongsi sekarang, kemudian saya kongsi. Saya nak refresh dulu otak saya tentang Alam Semesta.
Nabi Adam sekurang-kurangnya hidup 1 juta tahun yang lepas, tentang kesahihan wallahualam.
Macam saya kongsi sebelum ni, kajian manusia terhad tetapi BUKAN bermaksud TIaDA PENYELESAIAN/JAWAPAN tetapi semuanya bergantung kepada ketetapan Allah swt.
Kajian sains tentang Alam Semesta menunjukkan usia Alam Semesta adalah 17 ribu juta tahun yang lepas, bukan 6000 tahun lalu atau 4,5 ribu juta tahun yang lalu.
Kemudian akan saya ketengahkan tentang BIG BANG, Al-Quran dan mana-mana yang saya mampu kongsi untuk tatapan kita.
Wassalam
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
http://www.pakdenono.com
mungkin sedikit bisa menambah literatur saudara2 yang pengen tahu tentang ilmuwan muslim.
salut sama orang orang yang berfikir di blog ini, yang penting tidak bawa2 ideologi dan masalah politik yang bikin pusing. saatnya manusia mencari pencerahan dengan melihat fenomena alam sekitar dengan begitu bisa menambah tingkat keimanan kita kepada yang ESA.
Wassalam,
ass,,,
sok nyah bgt tu org….yg pertama tu nabi adam,bkn manusia purba u know!
klo tidak percaya baca noh AL_QURAN,!!!
n manusia bkn keturunan kera,,,,enak z gw disamain m kera!!
toz…akh yu mari,,,yu bye”
urun rembug, deh..
Rencana pembentukan Nabi Adam disampaikan
oleh Allah kepada para malaikatNya sebagaimana
terdapat di Al Qur’anul Karim, cuman saya lupa
ayatnya, tapi kira-kira begini bunyinya:
“Dan Allah berfirman kepada para malaikatNya:
akan Aku turunkan ke bumi seorang khalifah”
kemudian para malaikat tersebut protes, kenapa
Allah membuat makhluk yang bakal bikin kerusakan
dimuka bumi ?
Catatan 1: Nabi Adam dibentuk dengan tujuan untuk
menjadi Pemimpin di bumi, pertanyaan selanjutnya
adalah siapa yang bakal dipimpin oleh beliau?
tumbuhan, binatang, jin atau ..???
Catatan 2: Pertanyaan para malaikat tersebut
bukan bagian dari keahlian dan pengetahuan mereka
melihat masa depan, tapi kekhawatiran melihat
kenyataan di bumi bahwa sudah ada makhluk yang
sama atau minimal mirip dengan Nabi Adam
that’s all folks..
1. Benarkah adam dan Hawa manusia pertama? jangan-jangan sebelumnya pernah ada populasi manusia yang beraneka ragam dan majemuk dan modern seperti kita sekarang ini, sampai bisa bikin pesawat nuklir dll (Sinetron 1) … mungkin seperti sebuah sinetron itu, karena sudah tamat/kiamat, lalu Tuhan bikin lagi (Sinetron 2) yang tokoh utamanya Adam dan Hawa dimulai dari jaman purba jaman menengah sampai sekarang ini…. lalu pada suatu saat kiamat lagi, lalu Tuhan bikin lagi Sinetron 3