Manusia Berdosa dan Membutuhkan Penolong
Posted on: Mei 11, 2007
- In: Kita | Sharing
- 70 Komentar
(** Ini adalah sharing kedua yang diambil dari komentar pembaca. Sharing ini diambil dari komentar Sdr. Zham #28. Terima kasih atas sharing dari Sdr. Zham. GBU. **)
Istilah dosa dikenal hampir pada setiap agama. Pembahasan ini (khususnya dosal asal) tidak akan pernah mencapai kesimpulan jika makna dari term ini belum disepakati.
Agama diluar Kristen memperlakukan dosa seperti nilai/point negatif yang kita kumpulkan jika melakukan kesalahan/pelanggaran. Inilah biang permasalahannya. Pemaksaan arti dosa coba dimasukkan dalam ajaran Kristen yang jelas-jelas berbeda.
Dosa dalam ajaran Kristen adalah suatu bentuk keterpisahan antara manusia dan Allah. Keterpisahan ini bisa terjadi karena manusia melakukan pelanggaran. Efeknya berkelanjutan. Manusia cenderung melakukan kesalahan-kesalahan dan lebih suka menjauh dari Allah. Usaha manusia mengembalikan hubungan ini adalah sia-sia. Bagaikan seseorang yang jatuh ke dalam sumur, maka untuk bisa naik kembali maka dia butuh bantuan dari atas.
Apakah seorang bayi yang baru lahir lepas dari dosa? Pertanyaan sederhana yang bisa membuat kening berkerut.
Ketika Adam dan Hawa diciptakan, Allah juga memberikan pilihan kepada mereka. Mereka boleh makan semua buah yang ada di taman eden, namun JANGAN makan buah dari pohon pengetahuan.
Adam dan Hawa melanggar. Seketika mereka sadar mereka telanjang. Mereka kemudian bersembunyi dari hadapan Allah karena merasa takut dan merasa bersalah. Mereka telah memutuskan hubungan suci dari Allah.
Seorang bayi tentu belum bisa berbuat apa-apa. Namun sejalan perkembangan usianya maka diapun mulai belajar dan bertindak sesuai keinginannya. Pertanyaan besar: dari mana bayi yang ketika mulai bisa berbicara ini belajar berbohong? Well, inilah bawaan sikap dari dosa tadi. Efek samping Adam dan Hawa makan buah pengetahuan turun/terwarisi secara otomatis kepada keturunan mereka.
Jadi seorang bayi tidaklah suci, melainkan karena belum bisa berbuat apa-apa. Tidak mungkin bayi bisa berbohong, karena berbicara saja dia belum bisa. Pengetahuan yang didapatkan Adam dan Hawa diteruskan kepada turunannya.
Penelitian sampai sekarang belum bisa membuktikan apakah pengetahuan yang kita miliki masuk secara perlahan-lahan dan disimpan dalam otak seiring pelajaran yang kita dapatkan. Apalagi kalau berbicara mekanisme penyimpanan data di dalam otak. Tetapi seorang filsuf bernama Plato berpendapat bahwa ilmu pengetahuan sudah ada dalam otak. Apa yang manusia lakukan hanyalah menuliskan kembali dan terus memperbarui daftar isinya. Isinya sudah ada namun masih banyak yang belum ditemukan. Itulah kenapa jika ada hal baru disebut penemuan, bukan penciptaan.
Dari apa yang saya paparkan diatas semoga bisa menjadi jembatan untuk mengerti konsep dosa dari kacamata iman Kristen. Sehingga tidak ada lagi perdebatan kusir yang tidak ada habisnya.
Sebagai tambahan, dalam Kristen tidak mengenal dosa besar dan dosa kecil. Seperti sudah saya paparkan diatas bahwa dosa adalah keterpisahan. Jika manusia tenggelam di lautan, entah itu dalamnya 5 m, 10 m, dll, maka hal itu sudah cukup untuk membuat manusia bisa mati, kecuali ditolong. Artinya, 1 saja dosa sudah cukup untuk membuat manusia dilemparkan dalam api neraka.
Salam damai, Yesus beserta kita.
70 Tanggapan to "Manusia Berdosa dan Membutuhkan Penolong"
Dewo:”…Sebagai tambahan, dalam Kristen tidak mengenal dosa besar dan dosa kecil. Seperti sudah saya paparkan diatas bahwa dosa adalah keterpisahan…”
Kalau saya menganggap dosa adalah suatu kesalahan/pelanggaran dari suatu aturan yang sudah dibuat. Kalau peraturan itu dari manusia itu namanya pelanggaran. Kalau peraturan dari Tuhan itu namanya dosa.
Pelanggaran kecil, misalnya dalam aturan lalu lintas adalah tidak memakai helm, atau melanggar rambu. dan contoh Pelanggaran besar misalnya mengemudikan kendaraan ugal-ugalan sehingga terjadi kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa.
Nah, dosa juga begitu… ada dosa kecil dan dosa besar
di dalam agama kami contoh dosa kecil dan besar adalah hehehe…
pelajari sendiri ya?
Dewo: “….Jika manusia tenggelam di lautan, entah itu dalamnya 5 m, 10 m, dll, maka hal itu sudah cukup untuk membuat manusia bisa mati, kecuali ditolong…..”
Tidak Bung, jika manusia yang tenggelam itu masih sadar dan mampu berenang, saya pikir dia belum perlu ditolong.
Kecuali jika yang tenggelam itu tidak sadar dan tidak bisa berenang memang perlu sekali ditolong
Jadi manusia yang perlu ditolong (biar tidak mati tenggelam) bila manusia itu yang tidak sadar dan yang tidak bisa berenang.
agama kami memang sederhana Bung.
KISS: Keep It Simple Silly Stupid
CMIIW
GBU all….!!!
@Dear Blasius Ananta Kurinawan,
agama kami memang sederhana Bung.
KISS: Keep It Simple Silly Stupid![]()
CMIIW
GBU all….!!!
Iya, sayangnya agama kamu sederhana. Saya tidak akan menjawab pertanyaan Anda, nanti malah membuat kamu tambah bingung
GBU.
Sejak kecil aku lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katholik yang taat. Soal pendidikan pun aku di sekolahkan di lembaga pendidikan Katholik. Pendidikan dasar di SD Theresiana Semarang. SMP Dominico Savio Semarang, SMA Loyola Semarang. kemudian lanjutkan studi ke Universitas Katholik Atmajaya Jakarta di Fakultas Teknik jurusan Arsitektur.
Sejak remaja aku tercatat sebagai aktivis gereja, iktu aktif di organisasi Pemuda Katholik, menjadi anggota Presidium Mahasiswa Katholik Republik Indonesia(PMKRI). Pernah aktif menjadi pengurus di Paroki, Keuskupan, dan Kerasulan Awam. Aku juga penah menjadi pembina di Pimpinan Pusat Pemuda Katholik. Juga pernah menjadi ketua panitia pembangunan Gedung Bintang yang digunakan sebagai tempat perkumpulan Umat Katholik Semarang.
Disamping aktif di organisasi keagamaan, aku juga aktif di KNPI Jawa Tengah dan Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa (Bakom PKB) Kodya Semarang. Sedang ketika masih pelajar dulu aku aktif di Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KNPI), dan juga ikut dalma organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Semula, pandanganku tentang Islam sangat negatif, diataranya terbentuk opini publik bahwa umat Islam itu suka berperang. Misalnya, perang Iran-Irak. Pemeluk (umat) nya banyak yang tidak disiplin, terlibat KKN, dan prilaku buruk lainnya.
Tetapi, entah mengapa, pada tahun 1996 aku mulai mempelajari berbagai buku-buku keagamaan umat lain termasuk buku-buku Islam.
Semakin banyak membaca literatur keislaman, pengetahuanku tentang Islam makin bertambah. Setelah kurasa cukup, aku kemudian bertukar pikiran dengan seorang ustadz, namanya Habib Ahmad Syakur di Semarang. Pada pertemuan itu aku dijelaskan banyak hal tentang Islam. Penjelasan habib tentang Islam sangat rasional dan humnistik. Ternyata, nabi penyebar agama Islam, yaitu Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang jujur, rendah hati, dapat dipercaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Hal-hal yang kurang kuketahui dari agama Islam, kutanyakan langsung pada Habib Ahmad Syakur. Bahkan konsep ketuhanan dalam Islam dapat dijelaskan dengan rasional. Tidak dogmatis. Sejak itu Habib Ahmad Syakur kujadian sebagai guru pembimbing.
Mati dan Hidup adalah satu sifat yang alamiah dan suatu kodrat bagi makhluk yang bernyawa.
“There is no man that hath power over the spirit to retain the spirit; neither hath he power in the day of death.” (Ecclesiastes 8:8 from “The Restored Name King James Version of the Scriptures” http://www.eliyah.com/Scripture)
“What man is he that liveth, and shall not see death? shall he deliver his soul from the hand of the grave? Selah.”
(Psalm 89:48 dengan referensi yang sama)
Allah tidak pernah menginginkan untuk menciptakan manusia dalam keabadian, begitupun makhluk-makhluk yang lainnya, sebab dengan demikian akan mengingkari sifat alpha dan omega dari Tuhan itu sendiri bahwa hanya Allah yang kekal dan abadi
“But Yahweh is the true Elohim, he is the living Elohim, and an everlasting king: at his wrath the earth shall tremble, and the nations shall not be able to abide his indignation.”
(Jeremiah 10:10 dengan referensi yang sama)
“I am Yahweh: that is my name: and my glory will I not give to another, neither my praise to graven images.”
(Isaiah 42:8)
“I am Alpha and Omega, the beginning and the ending, saith Yahweh, which is, and which was, and which is to come, the Almighty.”
(Revelation/The Apocalypse 1:8)
“And he said unto me, It is done. I am Alpha and Omega, the beginning and the end. I will give unto him that is athirst of the fountain of the water of life freely.”
(Rev 21:6)
“I am Alpha and Omega, the first and the last, the beginning and the end.”
(Rev 22:13)
Karenanya, Allah menciptakan kehidupan makhluk menuruti kehendak-Nya dan Dia juga yang menentukan waktu bagi makhluk tersebut untuk mengakhiri aktivitasnya melalui kematian. Ini bukan satu upah dari dosa tetapi suatu kewajaran alamiah.
Hal ini juga sangat bersesuaian sekali dengan pemaparan Bible pada ayatnya yang lain dalam satu kilas balik menuju Kitab Genesis 3:22.
“And Yahweh Elohim said, Behold, the man is become as one of us, to know good and evil: and now, lest he put forth his hand, and take also of the tree of life, and eat, and live for ever.”
Terlepas dari kontekstual teks yang mungkin bisa berkembang menjadi satu perdiskusian baru namun yang jelas pada ayat diatas, Allah tidak menginginkan kekekalan ataupun juga keabadian terjadi pada diri manusia karena itu Allah mewanti-wanti (jika tidak ingin dikatakan cemas) agar jangan sampai manusia akhirnya mengambil pohon kehidupan sehingga bisa hidup immortal.
Dengan demikian maka apa yang dinyatakan dengan tersalibnya ‘Isa al-Masih untuk menebus dosa manusia warisan Adam agar mereka bisa hidup abadi adalah tidak memiliki kesinambungan dengan apa yang digambarkan oleh The Bible sendiri, karena itu doktrin ini hanyalah sandiwara yang dipaksakan
Sebenarnya Mas Dewo sudah tahu kalau keyakinannya telah membuatnya ragu, tetapi bagaimana lagi… Hanya Mas Dewo yang dapat menjawab berbagai pertanyaan yang berkecamuk dipikirannya serta selanjutnya mengambil keputusan.
Saya berharap Mas Dewo diberikan kekuatan untuk melihat kebenaran, tidak tertutup oleh emosi semata.
Mas Dewo,
Kalau dlm agamaku, kan setelah kematian ada perhitungan dosa dan pahala. Kalau lebih banyak amal baiknya maka akan masuk surga, kalau banyak kejelekannya bisa masuk neraka.
Kalau dalam Katolik gimana mas?
Maksud saya, Bagaimana dengan orang katolik yang taat dan yang tidak taat? apa ada surga neraka bagi mereka?
Terimakasih mas
“..Jujur-sejujur-jujurnya: saya tidak ragu kok. Keputusan saya tetap satu, dari dulu hingga sekarang…”
Summum bukmun umyun fahum laa yarjiun
@8 Dewo:
Jujur-sejujur-jujurnya: saya tidak ragu kok. Keputusan saya tetap satu, dari dulu hingga sekarang.
Iya lah.. kenapa harus repot2 mikir tentang siapa Tuhanku lagi?
tinggal menurut apa kata bapakku, ibuku, guruku, pastor dan romoku.
Ini kan sudah diajarkan pada ku dari dulu waktu aku masih kecil, sampai sekarang aku punya anak kecil lagi?
Nanti juga anakku akan aku ajarkan demikian.
@Dear Watie Djogjakarta Hadiningrat (#9),
Kalau dlm agamaku, kan setelah kematian ada perhitungan dosa dan pahala. Kalau lebih banyak amal baiknya maka akan masuk surga, kalau banyak kejelekannya bisa masuk neraka.
Kristus mengajarkan pertobatan dan pengampunan dosa. Segala dosa dapat diampuni oleh Allah sepanjang kita bertobat secara sungguh-sungguh. Tetapi sekali lagi bahwa Allah yang begitu Maha Pengasih dan Penyayang yang akan memberikan ampunan-Nya.
Masalah dosa dan pahala tidak merupakan hubungan langsung di Kristen. Tidak seperti agama lain yang mengajarkan bahwa dosa adalah memiliki poin negatif dan pahala memiliki poin positif sehingga ketika Anda banyak memiliki pahala dari pada dosa, maka dosa-dosa Anda akan dihapus.
Umat Kristen murni berharapkan kasih dan ampunan Allah dari segala dosa. Jadi: imanlah yang menyelamatkan. Tentu saja orang beriman harus berbuat baik (atau yang sering disebut sebagai berbuat pahala). Inilah yang sering disebut sebagai buah dari iman.
Jadi kalau orang Kristen berbuat baik, itu karena buah dari iman, bukan dari menabung pahala untuk mengurangi dosa.
Kalau dalam Katolik gimana mas?
Maksud saya, Bagaimana dengan orang katolik yang taat dan yang tidak taat? apa ada surga neraka bagi mereka?
Terimakasih mas
Neraka tetap ada. Di sanalah tempat orang-orang jahat. Orang Kristen pun bisa saja berakhir di sana. Tetapi tentu saja orang Kristen KTP.
Tetapi setiap orang Kristen yang mengikuti ajaran Kristus dan mengimaninya dengan sungguh-sungguh dan berbuah dari imannya, dia pasti diberkati oleh Allah dan beroleh kehidupan kekal di surga.
Semoga dapat menjawab Mbak Watie. GBU.
@Dear Anthonysteven (#12),
Kasih yang membuat saya tidak dendam kepada orang yang memaki-maki iman dan kepercayaan saya, meskipun itu sangat mengesalkan saya.
Betapa saya harus belajar banyak mengasihi sesama seperti Anda. Setiap hari saya dihujat dan dicaci lewat blog ini. Setiap kali pula saya belajar untuk tidak kesal, melainkan harus tetap sabar dalam kasih. Bahkan saya selalu menahan diri untuk tidak terjebak dalam hujatan dan caci makian tersebut dengan tidak membalas menghujat dan memaki orang lain.
Setiap kali dihujat dan dicaci, saya langsung teringat Yesus Kristus yang dulu banyak sekali dihujat dan dicaci, tetapi Yesus malah tetap mengajarkan dan mengabarkan berita suka cita dari Allah.
Terima kasih Pak AnthonySteven yang memberi motivasi baru. Selamat berkarya. GBU.
@anthonysteven
Dosa harus dibayar, seperti hutang yang harus ditanggung, siapa yang bisa membayar dosa manusia? Disinilah Kristus hadir menjadi juruselamat.
Ya, saya juga mengerti bahwa dosanya orang kristen sudah dilunasi oleh Yesus.
Cuma saya mendapatkan bahwa hal itu bertentangan dengan banyak sekali hukum2 yang berlaku di dunia ini.
bahkan dengan pepatah saja bertentangan.
contohnya:
Siapa menabur akan menuai.
manusia yang menabur dosa, Yesus yang menuai penebusan.
Coba kita pikirkan:
1. Allah adalah kasih, dia maha penyayang.
2. Allah itu kekal, artinya dia ada sebelum waktu, sebelum para malaikat, sebelum ada apa-apa.
Yang namanya kasih adalah tindakan aktif, karena itu kalau Allah adalah kasih, Dia mengasihi siapa kalau belum ada apa-apa selain diriNya?
Jawabnya: ketiga pribadi dari Allah tersebut saling mengasihi.
Logika NGAWUR saja!!!
kasih itu kata sifat. Jadi nggak perlu objek.
ada tidaknya objek tidak berpengaruh pada sifatNya
sekolah SD mu dulu dimana?
Lagian sifat Allah yang Esa jadi gimana kalo gitu?
pernah diajari apa itu Maha Esa?
Emang Allah hasil kloning? pakai 3 pribadi yang berlainan tetapi tetap satu.
ESA itu adalah selain tunggal (tidak bisa dibagi2 lagi) juga tidak ada sesuatupun yang menyamainya.
“..Satu hal yang ingin saya katakan. Saya sudah melihat dan bahkan ngobrol langsung dengan orang yang langsung menuduh bahwa iman saya adalah hasil indoktrinasi dan kebodohan saya…”
Ya, saya juga sudah membacanya lewat blog anda. Memang itu bukan obrolan kok,
Betapa saya harus belajar banyak mengasihi sesama seperti Anda. Setiap hari saya dihujat dan dicaci lewat blog ini. Setiap kali pula saya belajar untuk tidak kesal, melainkan harus tetap sabar dalam kasih. Bahkan saya selalu menahan diri untuk tidak terjebak dalam hujatan dan caci makian tersebut dengan tidak membalas menghujat dan memaki orang lain.
Bung Dewo, maaf kalau anda merasa dihujat dan dicaci lewat blog ini. Bukan maksud saya begitu.
Seperti halnya ada sales yang menawarkan barang dagangan, dan kebetulan ada yang tahu bahwa dagangannya adalah barang busuk
maka kewajiban orang itu yang membuktikan bahwa dagangannya itu tidak layak diperjualbelikan.
dan selayaknyalah sales itu berhenti dan berganti dengan menawarkan hanya dengan barang yang berkualitas baik dan bermutu.
Jadi saya ingin anda MEMBUKTIKAN kalau klaim2 anda tentang Tuhan adalah benar,
karena setahu saya
Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia
“..Setiap kali dihujat dan dicaci, saya langsung teringat Yesus Kristus yang dulu banyak sekali dihujat dan dicaci, tetapi Yesus malah tetap mengajarkan dan mengabarkan berita suka cita dari Allah….”
Benar Bung, yang membawa kebaikan dengan mengajarkan dan mengabarkan berita suka cita dari Allah pasti akan dicaci dan dimusuhi. Terutama oleh orang2 yang ingkar kepada Allah.
Nabi Ibrahim dan Nabi Musa dulu juga demikian.
Akan tetapi bung Dewo belumlah dicaci dan dihujat dalam blog ini. Anda bisa melihat dengan membandingkan pada blog ataupun forum lain yang kata2nya lebih menyakitkan, baik untuk agama A maupun agama B.
Jadi marilah kita baca ataupun mengomentari semua postingan disini dengan kepala dan hati yang dingin.
GBU
“…Pertanyaanya, darimana kita (ketika masih kecil) mendapatkan ide (yang pertama kali) untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar?…”
Seperti yang saya katakan, Seorang anak mulai belajar berbohong (mungkin) ketika usia 5 tahunan, ketika dia sudah terampil berkomunikasi dan intensif dalam pergaulan dengan orang lain.
Bohong ini juga karena kalau ada contoh dari orang tua ataupun dari teman-temannya.
Seingat saya anak saya tidak pernah bohong. dia hanya belum tahu maksud pertanyaan kita saja.
contohnya: ketika ditanya “adik sudah makan apa belum?” dia jawab “belum”, tetapi ketika ditanya “adik sudah makan?” jawabnya “sudah”
demikian pula jika ditanya hal lain tentunya akan banyak salahnya dan meskipun juga kadang ada benarnya, dan apakah bila anak yang demikian disebut sudah pinter berbohong?
saya jawab “TIDAK!!”
“…Saya bingung, anda tidak menjelaskan simple yang anda maksud. Terlalu luas dan abstrak….”
Ya, sederhana bung dibandingkan kepercayaan saya sebelumnya.
Maaf kalau membuat anda bingung karena menurut anda terlalu luas dan abstrak.
@dewo
“..Tidak ada nabi yang dihujat oleh ajarannya selain Yesus Kristus. Nabi Ibrahim dan Musa pun tidak pernah dihujat. Mereka memang berperang tetapi bukan karena ajaran mereka melainkan karena memang musuh-musuhnya…”
Wah kalau yang ini “Tidak ada nabi yang dihujat oleh ajarannya selain Yesus Kristus.” Saya baru tahu, bisa diterangkan lebih lanjut?
@zham
“…Namun silahkan jawab dengan jujur, sampai sejauh mana anda mengerti apa yang anda baca dan se-valid apa bacaan anda? Sudahkah anda membaca sumber-sumber tertuanya? Maksud saya adalah sumber-sumber yang bukan sumber sekunder atau tertier dan seterusnya….”
Kalau valid mungkin bung, karena saya tidak hanya membaca tetapi juga bertanya pada SEJUMLAH orang yang sudah lebih mengetahui daripada saya. Dan hasilnya sama seperti yang saya baca.
dan itu tidak saya dapatkan pada kepercayaan saya sebelumnya yang jawabannya kadang tidak tidak pas dengan pertanyaan saya, bahkan sampai melarang saya menanyakan lebih lanjut.
“…Lantas kenapa ada akal? Oh ternyata Allah gagal menciptakan manusia agar menurut kehendaknya….”
Anda salah mengerti. kehendak-Nya disini adalah untuk selalu menetapi kebenaran yang ada di Al Qur’an dan Hadist, dan itu tidak hanya dosa dan pahala an sich.
Sehingga persepsi anda tentang Allah begitu gila hormat dan butuh disembah-sembah. Allah palsu yang tidak percaya diri. Hubungan bisnis dengan Allah. Adalah persepsi keliru.
‘…Waduh, kata-kata anda penuh dengan emosi dan kebencian. Tapi tidak mengapa, karena jawaban apapun yang akan diberikan tidak akan pernah anda cerna dan pikirkan….”
Ooops.. maaf kalau kata-kata saya terkesan demikian pak. Tapi saya tetap mencerna dan pikirkan semua jawaban anda. Bagaimana saya bisa menjawab kalau saya tidak mencerna dan memikirkan jawaban anda?.
Saya hanya mengomentari “Dosa harus dibayar, seperti hutang yang harus ditanggung”
Setahu saya barang siapa yang berhutang maka wajib mengembalikan/membayar.
dan saya belum pernah melihat peraturan yang kurang lebih begini “Barang siapa yang tidak hutang/tidak menikmati hutang harus wajib membayar/mengembalikan”
Dimana ada peraturan yang sedemikian bung?
apakah Yesus ikut menikmati dosa manusia sehingga Beliau yang membayar dosa manusia?
“…Seperti yang sudah-sudah, seorang ayah yang baik dan mencintai anak-anaknya akan selalu mencintai anak-anaknya dengan tulus. Ayah yang baik tidak akan membeda-bedakan anak-anaknya. Demikian juga Allah akan tetap setia dan mengasihi semua manusia….
Ya, Tapi Allah adalah Tuhan. Bukan Ayahnya manusia. Terlalu menyederhanakan sekali kalau hubungan Tuhan-Manusia seperti Ayah-Anak.
“..Allah bukanlah tipikal penguasa yang tidak percaya diri sampai harus membakar ciptaanya yang tidak menyembah Dia….”
Saya pikir juga demikian, Allah membakar ciptaannya yang tidak menyembah Dia, bukan karena Dia tidak percaya diri.
“…Allah senantiasa memberikan petunjuk. Petunjuk yang jelas, bukan yang membingungkan…”
Benar Bung, Petunjuk Allah sangat jelas dan tidak membingungkan.
shalom bung dewo,
Sebenarnya manusia yang BUTUH Pertolongan Allah atau ALlah yang berinisiatif menolong manusia???
Tolong mas yah,
Shalom Bro Dewo,
Selamat beragama buat semua, masih beragama masih untung dari pada atheis kan
, masalah sapa yang benar dan sapa yang salah kita serahkan saja sama pengadil kita nanti setelah mati oke, bagi saudara seiman kewajiban kita hanya menyampaikan, diterima atau tidak kembalikan saja kepada ALLAH, yang penting jangan menghujat coz AL-QUR’AN sendiri melarang untuk menghujat.
Buat Bro Dewo, saya ga setuju kalo dibilang bayi bisa berbohong karena dosa asal, buat saya bayi adalah suci, tidak ada dosa melekat padanya coz bayi kan lom tau mana benar mana salah, Anda jadi katolik sebagian besar karena faktor dibesarkan dalam keluarga katolik, saya jadi muslim sebagian besar karena faktor dibesarkan dari keluarga muslim. Begitulah bayi, berdosa atau tidak tergantung dari orang disekitarnya, nanti setelah berakal (AQIL BALIG) baru bisa dibilang nanggung dosa. Anda jadi katolik adalah pilihan anda coz anda dah dewasa walaupun sebagian adalah pengaruh keluarga anda, saya jadi muslim adalah pilihan saya sebab saya dah bisa memilih mana benar mana salah walaupun tidak dipungkiri ada juga pengaruh dari keluarga.
Justru Tantangan buat saya adalah bagaimana anak saya kelak coz saya dan ibunya anak – anak berbeda dan saya harus mempertanggung jawabkan hal ini dunia akhirat.
Syalom.
Dear All,
ALLAH mampu dan bisa membuat semua manusia jadi baik, tidak pendosa, semua sama dan seragam, ALLAH mampu dan pasti mampu tanpa perlu misi penyelamatan apapun, hanya manusia yang perlu melakukan misi apabila sesuatu tidak sesuai kehendaknya sebab manusia berkehendak ALLAH yang menentukan, sementara ALLAH bila berkehendak pasti terjadi sebab ALLAH juga yang menentukan jadi ga perlu misi – misian.
ALLAH berkehendak manusia menentukan sendiri jalanya, mau jadi baik dan beriman bisa, mau jadi jahat tanpa iman juga bisa, apalagi cuma mau milih iman mana yang diyakini juga bisa dan dipersilahkan. Tentu ada konsekwensi nantinya dari apa yang kita pilih. ALLAH juga berkehendak manusia berbeda – beda, baik secara RAS, Keyakinan, juga isi kepala, begitu pula JIN dan keturunanya seperti iblis, setan, dll. jadi ALLAH ga perlu perang sama mereka, wong ALLAH yang menciptakan mereka dan membiarkan mereka memilih sendiri apa yang mau mereka lakukan. Kecuali nanti ketika dunia ini sudah selesai, Kiamat sudah datang maka semua makhluk ALLAH sudah tidak dibiarkan lagi memilih dan melakukan, saat itu adalah saat pembalasan dari apa yang dipilih dan dilakukan.
Salam.
@Dear Salu (#25),
Maaf baru bisa membalas.
Sebenarnya manusia yang BUTUH Pertolongan Allah atau ALlah yang berinisiatif menolong manusia???
Manusia itu telah jatuh ke dalam dosa dan memiliki kecenderungan berbuat dosa yang berakibat MAUT. Jelas bahwa manusia BUTUH pertolongan. Tetapi Allah dengan penuh kasih BERINISIATIF menolong manusia. Dahulu Allah selalu mengirim nabi & malaikat-Nya untuk menolong manusia, tetapi manusia tetap selalu jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu Allah berkenan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk memperbaharui Janji-Nya sehingga manusia dapat kembali kepada Allah.
GBU.
@Dear Bro Ferry (#26),
Di sinilah beda iman kita. Ajaran Kristiani berbeda dengan Islam. Jika Islam memandang dosa itu adalah perbuatan negatif sedangkan perbuatan baik memberikan pahala dan dianggap positif sehingga jika umat muslim banyak berpahala sehingga nilai positifnya lebih banyak sehingga dosanya bisa dihapus, maka berbeda dengan umat Kristiani yang memiliki ajaran bahwa dosa itu adalah bentuk dari keterpisahan manusia dari Allah. Dan pengampunan dosa di Kristen bukan karena dihapus oleh perbuatan baik, tetapi karena kerahiman Allah semata. Untuk memperoleh kerahiman Allah dalam pengampunan dosa, kita perlu beriman (berserah total), bertobat dengan sungguh-sungguh dan berjalan di jalan Allah.
Selama konsep Kristen tentang dosa ini tidak bisa dipahami oleh umat muslim, maka debat tentang dosa akan selalu berkepanjangan.
GBU.
Yup, seperti Iit bilang perbedaan kan bisa jadi indah… coba kalo pelangi satu warna ga asyik lagi dilihat, pelangi justru enak dilihat karena berbeda – beda warnanya
Tp sekedar meluruskan Bro Dewo, di ISLAM sendiri tidak benar bahwa perbuatan dosa bisa dihapus oleh perbuatan baik atawa pahala, sekali berbuat dosa seribukali berbuat pahala belum tentu menghapus dosa yang sekali tadi, semua kembali kepada ALLAH nanti yang menentukan setelah hari berbangkit.
Sekedar hanya bertanya nehhh, menurut iman katolik kan klo kita lagi berbuat dosa kan kita terpisah dengan Allah jd klo lagi tidak berbuat baik apakah kita menyatu dengan Allah ? klo kita menyatu dengan Allah apakah itu berarti kita Allah juga ?
@ zham
-> ” Anda setuju poligami? ”
Kalau anda tidak setuju poligami maka itu lebih baik buat anda coz ngurus satu bini aja susah apalagi dua, tapi boleh bukan berarti harus, anda bisa jadi muslim tanpa harus poligami, gus dur bilang gitu aja koq repot
-> “Anda setuju perempuan harus “dibungkus” karena merupakan sumber tindakan perkosaan? ”
Anda setuju klub bugil ??? atawa anda penikmat rok mini and baju u can see ??? saya akui kalau saya iya
tapi saya sadar itu dosa dan dalam ISLAM saya dibantu dengan memerintahkan perempuan menutupi pembangkit nafsu laki – laki, kalo ga dosa saya juga sukaaaaaaaaaaa berhubung saya masih normal je he… he…
-> “Anda setuju dengan penyebaran agama menggunakan kekerasan?”
Sejak kapan ISLAM menganjurkan penyebaran agama dengan kekerasan ? anda harus belajar banyak dari sejarah lama bung, coba sering – sering ke perpus, jangan hanya dengerin ocehan profokatif dari orang saja, pada dasarnya dalam ISLAM kewajiban hanya selesai pada menyampaikan kebenaran selebihnya adalah kehendak ALLAH semata. Apakah anda pernah mendengar bahwa Paus Yohanes Paulus II pernah meminta maaf kepada umat muslim atas perang salib yang pernah terjadi ?
-> “Anda setuju dengan PLURALITAS?”
Kenapa tidak setuju ??? kalau tidak setuju trus mo apa ? aneh ! bukankah ALLAH sudah berkehendak bahwa manusia itu berbeda – beda baik dari suku, ras, agama, dll. Tapi bung Pluralitas bukan pluralisme coz maknanya dah beda.
Salam Damai
@ Zham
Tentang poligami mungkin anda perlu membaca postingan bor Dewo terdahulu… silahkan, monggo…
Salam
@Dear Zham (#28),
Mas Dewo, maaf kepanjangan.
Tidak apa-apa Pak Zham. Tulisan Anda sangat mencerahkan. Terima kasih telah berpartisipasi dalam diskusi ini. Selamat menjadi garam & terang dunia.
Salam.
@Dear Bro Ferry (#33),
Postingku yang dimana? Di blog-ku http://dewo.wordpress.com? Hihihi… ya sudah, kalau begitu aku sertakan link2nya sekalian di sini. Tapi bukan untuk ajang debat di thread ini ya?
- Mengapa Anda Menikah?
- Poligami Menjadi Senjata Para Suamin?
- Fong Saik Yuk Pun Poligami
- Aa Paradoks
- Dewo Pun Berpoligami
Hihihi… Sekali lagi: jangan untuk debat di thread ini.
Salam.
@Dewo And Zam
Maaf nimpali
Kenapa KASIH kalian begitu membutakan mata dan hati anda2 dengan terus menuduh bahwa kami umat Islam banyak berbuat kekerasan!!! sekali lagi betul apa yg dikatakan ferry lihat dong SEJARAH dulu hingga SAAT INI, kejahatan kemanusiaan bukanlah dari kalangan umat Islam, Umat Islam terus terus diadu domba, difitnah, dibunuh hingga dirayu untuk dikuras kekayaan alamnya. Pemimpin Umat tertinggi kalian aja mengakui kesalahan2 terhadap apa yg telah dilakukan umat Islam, saya tidak habis pikir apakah iman kalian melebihi pemimpin umat tertinggi kalian sehingga kalian begitu sombong. Kenapa kita melihat suatu permasalahan kemanusiaan dengan dogma buta….bukan dgn mata hati kita..Heraaaan deeeh.
@Dewo And Zam
Maaf nimpali
Kenapa KASIH kalian begitu membutakan mata dan hati anda2 dengan terus menuduh bahwa kami umat Islam banyak berbuat kekerasan!!! sekali lagi betul apa yg dikatakan ferry lihat dong SEJARAH dulu hingga SAAT INI, kejahatan kemanusiaan bukanlah dari kalangan umat Islam, Umat Islam terus terus diadu domba, difitnah, dibunuh hingga dirayu untuk dikuras kekayaan alamnya. Pemimpin Umat tertinggi kalian aja mengakui kesalahan2 umat KRISTIANI (sorry) terhadap apa yg telah dilakukan kepada umat Islam, saya tidak habis pikir apakah iman kalian melebihi pemimpin umat tertinggi kalian sehingga kalian begitu sombong. Kenapa kita melihat suatu permasalahan kemanusiaan dengan dogma buta….bukan dgn mata hati kita..Heraaaan deeeh.
Bro Dewo, koreksi ini bukan anda tp si zham # 28
oh iya hihihi sorry deh
halo sahabat semua……..
ehm,sy cm mau tanya sm yg punya blog ini…..
“Tujuan Anda membuat blog ini untuk apa??”
- klo tujuan Anda untuk menciptakan forum perdebatan,
maka Anda BERHASIL!!
- tp klo tujuan Anda untuk menciptakan forum diskusi dengan harapan menambah pengetahuan dan bisa menjadi berkat bagi pembacanya,
saya kok blom liat tujuan itu tercapai…..
sy sdh baca 2 artikel di blog ini, yg 1 tentang Tri Tunggal Maha Kudus dan yg ke 2 adlh artikel ini….
dari 2 artikel tsb,sy dapati akhirnya kok selalu debat antara pihak kristen dgn pihak islam, dimana masing2 pihak tidak berdiskusi tp malah mengeluarkan pendapat masing2 yg saling menyerang dan dgn pengetahuan yg kurang cukup..
sy tdk memihak siapa2 disini, sy hny mau memberi masukan
pada pemilik blog ini, utk lebih mengarahkan coment2 yg masuk, spy blog ini bisa menjadi berkat bagi org bnyk…..
blog ini isinya bagus, hanya saja coment2 nya itu lho….
tidak saling membangun, tp malah saling membandingkan dan menjatuhkan……
- bagi penanya : boleh aja bertanya, tp klo udah dijawab, mbok ya dihargai… klo merasa blm jelas, silakan nanya lagi, tp jangan membantah jwbn yg uda dikasi dgn cara membandingkan dgn kepercayaan laen yg sdh Anda pegang teguh…. nanti jadinya malah debat kyk diatas itu……
klo ini memang forum debat, ya berarti Anda benar, dan monggo dilanjutkan debatnya…..
tp ini forum diskusi to?!?!
-bye-
Semua berdebat seolah hidup pada jaman itu, seolah hidup saat semua kitab tersebut dalam proses menjadi Kitab masing-masing. Seolah yang paling benar.
Semua tidak salah, tetapi menjadi salah apabila terbawa dendam, benci dan merendahkan yang lain.
Sebenarnya semua agama tidak akan dapat memuaskan pikiran dan pertanyaan manusia tentang :
- Mengapa manusia harus berdosa, sengsara, saling perang, bunuh dan perbuatan keji lainnya.
- Bukankah Tuhan Maha Tahu, bahwa si A, B atau C sebelum dilahirkan nantinya pada saat hidup akan menjadi atheis, muslim, kristen, kong hu cu dan lainnya. Atau nanti ketika mati si A, B atau C penuh dosa atau langsung masuk surga.
- Bukankah Tuhan Maha Kuasa, dengan kuasaNya Dia dengan mudah menjadikan semua manusia tidak berdosa, damai, saling mengasihi dan menjadikan setan baik seperti malaikat.
- Jika begitu, apakah Tuhan sedang menikmati panggung dunia yang Dia ciptakan, yang Dia sutradarai, yang Dia tahu betul cerita seluruh manusia yang memerankan peran masing-masing dari awal manusia ada hingga kiamat dan hari akhir nanti ?
- Jika begitu, betapa jahatnya Tuhan, yang membiarkan manusia dalam kegelapan, ketidaktahuan, kebodohan dan ketidakberdayaan memilih?
- Bagiku jelas Tuhan itu ada, karena tidak mungkin awal mula dunia ini ada dengan sendirinya. Jadi aku ngga mau jadi atheis.
- Bagiku hidup ini misteri, pikiran manusia tidak akan bisa menggapai rencana Tuhan. Aku jadi ingat kisah Santo Antonius yang bertemu anak kecil di pantai.
- Bagiku Tuhan juga bukan Tuhan yang jahat, egois dan tidak mau tahu kesusahan umat manusia. Bahkan Dia rela sengsara demi umat manusia, bukan Tuhan yang menikmati sandiwara dunia ini.
- Dia menyayangi semua manusia, baik yang : atheis, Islam, Hindu, Budha, Katolik, Kristen, Kong hu cu dan semuanya. Tapi mengapa kita justru yang memusuhi, membenci, membunuh, menyiksa, merendahkan dan perbuatan jahat lainnya kepada sesama kita.
- Dia sungguh menyerahkan kepada kita semua, Dia sungguh demokratis.
- Mungkin malah menjadi seolah-olah Tuhan tidak berdaya, tidak Maha Kuasa dan tidak hebat.
Aku adalah Adrianus :
- Yang telah mengembara mencari kebenaran
- Yang hidup tidak pamrih untuk masuk surga atau neraka, semua kuserahkan kepada Tuhan
- Yang telah menjatuhkan pilihan terakhir pada Yesus
- Yang kudapatkan kedamaian dan kepasrahan ketika kuterima tubuh dan darahNya
- Bukan karena surga yang kuinginkan, tetapi karena ajaran-ajaranNya :
o Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri
o Apabila ditampar pipi kirimu, serahkanlah pipi kananmu
o Apabila diminta bajumu, serahkanlah jubahmu
o Ampunilah dan doakanlah musuh-musuhmu
o Dan ajaran kasih lainnya
- Surga adalah kedamaian, kasih dan saling membantu
TUHAN KUSERAHKAN HIDUP DAN MATIKU UNTUKMU, DALAM TANGANMU, DALAM KASIHMU.
AKU MERINDUKANMU
Hmmm…..
Debat kusir Diskusi yang menarik…
Sebenarnya gampang aja…
Kalau mau mencari informasi ya silahkan bertanya, tapi kalo dijawab jangan malah nentang.
Kalau kurang jelas tanyakan yang kurang jelas apa. Tapi jangan maksakan pendapat.
Tanya ya tanya saja, berpendapat ya berpendapat saja, jangan dicampur-campur. Gitu aja kok repot…
*niru gaya Gus Pur*
Nah sekarang saya berpendapat:
1. Iman itu masalah kepercayaan. Saya termasuk orang yang cukup beruntung lahir di keluarga Kristen yang baik.
Tapi seperti umumnya orang Kristen lainnya, saya harus lahir baru untuk benar-benar menghayati arti kekristenan.
Artinya, Kekristenan adalah suatu pencarian akan Kebenaran, kawan. Maka wajar saja jika kami terus mencari Kebenaran yang sejati itu. Belum ketemu? Kami percaya bahwa kami telah menemukan Sumbernya, tapi Kebenaran itu selalu memancar dan kami selalu haus untuk belajar.
2. Memang benar bahwa banyak umat Kristen yang bersalah dalam penyiksaan kaum Islam. Contohnya Inkuisisi. Tapi yang dibahas di sini kan ajaran, bukan perilaku individu2 pelaku ataupun metode penyebaran.
Kalau mau fair, gara-gara penyebaran agama Protestan itu sempat perang di Eropa selama 30 tahun, orang2 Puritan di Inggris harus lari ke Amerika karena di Inggris mereka dimusuhi oleh kaum Anglikan. Sama-sama Kristennya tapi beda keyakinan bisa perang sendiri. Tapi itu kan manusianya, bukan ajarannya. Bedakan dong….
3. Setahuku di toleransi masih merupakan nilai universal. Jika seseorang tidak berpikir seperti cara anda berpikir, maka tidaklah bijak memaksakan cara pikir anda pada orang lain atau memaksa orang lain untuk menggunakan cara pikir anda.
Misal, A yang menganggap Tuhan itu satu tapi kok B bilang Trinitas itu Esa, 3 kok dibilang satu? Lalu A memaksakan itung2an logikanya ke B, padahal B melihat dari prespektif yang berbeda dengan A, wah nggak baik ini…. Artinya berusahalah memahami prespektif seseorang sebelum berusaha untuk dipahami. Maka diskusi akan lebih enak.
Just a little thought!
Btw, salam kenal buat Mas Dewo, yang punya blog ini…. Saking asyiknya ngikutin diskusi sampai lupa kenalan…
*kenalan*
MOHD HEILMEY BIN JANUDIN
(KinG_7petala@yahoo.com)
(BACA DISKUSI ISLAM KRISTIAN INI DISAMPING ANDA SEDIA SEMUA JENIS BIBLE JIKA ANDA MEMILIKI BERBAGAI VERSI)
Dosa Waris
B: Saya ingin menerima penjelasan dari Bapak kyai, tentang kepercayaan kepada dosa waris yang disebabkan karena dosa Adam dan Hawa.
A: Baiklah, saya akan berikan jawabannya, tetapi sebelumnya saya ajukan pertanyaan: Betulkah menurut kepercayaan Kristen bahwa anak cucu Adam dan Hawa dari sejak dilahirkan sudah membawa dosa?
B: Betul begitu, karena Adam dan Hawa berdosa, maka cucunya menerima warisan dosa dari keduanya.
A: Mengapa dosa Adam dan Hawa diwariskan kepada cucunya? Mestinya setiap manusia memikul dosa dari perbuatannya sendiri, bukan memikul dosa orang lain.
B: Tetapi menurut ajaran Kristen, setiap manusia pada sejak waktu dilahirkan sudah memikul dosa, atau menerima warisan dosa dari dosa Adam dan Hawa. Oleh karena kedatangan Yesus itu adalah untuk menebus dosa-dosa manusia dari warisan Adam dan Hawa tersebut.
A: Kalau keterangan Saudara benar pada ajaran Kristen, silahkan Saudara periksa kitab Nabi Yehezkiel pasal 18 ayat 20.
B: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “orang berbuat dosa, ia itu juga akan mati; maka anak tiada akan menanggung kesalahan bapaknya, dan bapak pun tiada akan menanggung kesalahan anak-anaknya; kebenaran orang yang benar akan tergantung atasnya dan kejahatan orang fasik pun akan tergantung atasnya”.
A: Jelas Bibel sendiri menyebutkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri perbuatan baik maupun buruk, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka dosa Adam dan Hawa harus ditanggung sendiri oleh keduanya. Tetapi mengapa dosa Adam dan Hawa harus diwariskan atas anak cucunya, sehingga anak cucunya ikut serta menanggung dosanya? Padahal Kitab Injil sendiri tegas menyebutkan bahwa setiap perbuatan baik atau buruk yang dikerjakan oleh seseorang tidak dapat dibebankan atas orang lain. Baiklah, saya teruskan pertanyaan saya pada Saudara; sejak umur berapa Saudara dibaptis?
B: Kata orang tua saya, sejak umur tiga bulan dibawa ke gereja dan di sana dibaptis, oleh karena setiap manusia sejak dilahirkan sudah membawa dosa Adam dan Hawa yang disebut Dosa Waris, jadi sejak bayi pun sudah membawa dosa; oleh karenanya saya dibaptis waktu masih kecil.
A: Apakah perbuatan demikian itu berdasarkan Kitab Bibel?
B: Saya berkeyakinan demikian. Sebagaimana saya terangkan bahwa bayi yang baru dilahirkan itu tidak suci, yakni sudah membawa dosa Adam dan Hawa.
A: Kalau begitu, bayi yang belum dibaptis sekiranya ia meninggal dunia (mati) tentu tidak akan masuk surga, sebab matinya ada membawa dosa Adam dan Hawa.
B: Ya, mestinya demikian.
A: Silahkan periksa Matius pasal 19 ayat 14.
B: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Tetapi kata Yesus. “Biarkanlah kanak-kanak itu, jangan dilarangkan mereka itu datang kepadaku, karena orang yang sama seperti inilah yang empunya kerajaan surga”.
A: Nah, perhatikanlah di ayat itu nyata-nyata Yesus sendiri yang berkata ia mengakui kesuciannya kanak-kanak. Sedangkan mereka belum mengakui kesalibannya Yesus dan juga belum dibaptiskan, tetapi mempunyai kerajaan surga. Jadi berdasarkan pengakuan Yesus sendiri bahwa kanak-kanak itu tidak membawa dosa waris dari Adam dan Hawa, oleh karena itulah Yesus berkata: Mereka adalah suci dari dosa dan dengan sendirinya masuk surga. Saya ingin bertanya lagi, Saudara waktu umur tiga bulan itu sudah membawa dosakah atau belum?
B: Kalau berdasarkan perkataan Yesus yang Bapak katakan tadi, tentu tidak.
A: Jadi masih suci dari dosa walaupun tanpa dibaptiskan?
B: Ya, betul demikian.
A: Kalau begitu, apakah gunanya Saudara dibaptis pada waktu umur tiga bulan itu?
B: Waktu umur tiga bulan tentu saya tidak tahu apa-apa.
A: Saya bertanya sekarang, bukan bertanya kepada Saudara di waktu Saudara berumur tiga bulan, Jadi apakah sekarang Saudara sudah menyadari tentang tidak adanya dosa waris?
B: Seperti Bapak terangkan tadi, berdasarkan pengakuan Yesus sendiri tentu saya menyadarinya. Karena, Yesus sendiri yang mengatakan bahwa anak-anak itu suci pada waktu dilahirkan.
A: Nah, bagaimanakah sekarang, masih adakah pandangan Saudara terhadap dosa waris?
B: Tentu saja harus menyadari berdasarkan perkataan Yesus sendiri bahwa anak-anak yang baru dilahirkan itu suci tidak membawa dosa sedikit pun.
A: Tidak membawa dosa yang bagaimana?
B: Ya, tidak membawa warisan dosa dari Adam dan Hawa.
A: Kalau begitu Saudara telah mengakui bahwa dosa waris itu tidak ada?
B: Ya, demikianlah harus saya akui berdasarkan Kitab Bibel sendiri.
A: Syukur Saudara telah mengakui tidak adanya dosa waris, kalau dosa waris itu turun-temurun, maka anak yang baru lahir yang belum tahu apa-apa belum bisa memisahkan antara yang baik dan buruk, kalau bayi itu mati ia membawa dosa dan masuk neraka, dan di manakah letak keadilan Tuhan kalau demikian?
B: Ya, saya bisa terima keterangan Bapak.
A: Nah, coba pikirkan dengan penuh kesadaran. Kalau ada seorang tua dari beberapa orang anak, dan orang tua itu menjadi penipu, pencuri, penghianat, berbuat aniaya, kejam, dan bermacam-macam dosa ia kerjakan, lalu ia dihukum masuk penjara, apakah anak-anaknya juga diharuskan menanggung dosa orang tuanya, lalu anak-anak itu harus dihukum juga masuk penjara dengan alasan dosa waris. Apakah pengadilan semacam itu akan dikatakan penegak keadilan?
B: Terima kasih, saya sudah menyadari, bahwa dosa itu tidak bisa diwariskan atau dioperkan kepada orang lain.
A: Syukur kalau begitu.
B: Akan tetapi kalau dosa itu tidak bisa diwariskan mestinya pahala juga tidak diwariskan. Bagaimanakah menurut ajaran agama Islam dalam hal itu?
A: Tidak bisa, malah tidak boleh, baik pahala maupun dosa dioperkan pada orang lain.
B: Jawaban “tidak boleh” itu apakah menurut pendapat Bapak sendirikah atau menurut ajaran Islam?
A: Menurut ajaran Islam, pahala seseorang tidak boleh diwariskan atau dioper kepada orang lain, begitu juga dosanya seseorang tidak boleh diwariskan kepada orang lain. Setiap orang menanggung sendiri pahala dan dosanya atas perbuatannya sendiri.
B: Akan tetapi saya pernah membaca sebuah buku agama Islam yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad pernah berkorban seekor kambing buat umatnya sekalian dan buat familinya. Ini berarti bahwa Nabi Muhammad mewariskan atau mengoperkan pahala kepada orang lain, yakni kepada umatnya dan familinya. Yang demikian itu bukan dosa waris, tetapi jelas pahala waris. Jadi di dalam ajaran Islam ada juga pahala waris, maka saya kira Bapak tidak perlu urus tentang dosa-dosa waris dalam ajaran Kristen, kalau di dalam ajaran Islam terdapat ajaran pahala waris atau ajaran oper pahala.
A: Kalau buku agama Islam yang Saudara baca mau dijadikan pokok tentang bolehnya warisan pahala, mestinya orang Islam boleh sembahyang dan berpuasa, lalu diwariskan pahalanya buat sekalian umat Islam yang masih hidup dan yang mati, tetapi tidak ada umat Islam yang berbuat demikian, kalaupun ada, mungkin karena mereka tidak tahu, bahwa perbuatan yang demikian itu, bertentangan dengan kitab sucinya: Al Qur’an. Jadi bukan kitab sucinya yang salah, tetapi penganutnya sendiri, dan berbeda dengan Kitab Bibel yang mengandung banyak perselisihan antara satu ayat dengan yang lain. Di dalam kitab suci Al Qur’an, tidak terdapat ajaran pahala waris maupun dosa waris. Akan tetapi dalam kitab Bibel (Kristen) antara satu ayat dengan ayat yang lain bersimpang siur.
B: Saya pernah membaca kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia, kalau tidak keliru di dalam surat Ath Thurr ayat 21 ada menyebutkan yang maksudnya bahwa anak-anak orang mukmin akan dimasukkan surga lantaran ibu bapaknya. Jadi lantaran amalan ibu bapaknya anak-anak itu masuk surga. Kalau yang demikian itu bukan pahala waris, lalu apakah namanya?
A: Ayat Al Qur’an yang Saudara maksudkan itu bunyinya akan saya bacakan sebagai berikut: Yang artinya: “Dan mereka yang beriman dan diikuti oleh anak-anak cucunya (keturunannya) dengan keimanan pula. Kami (Allah) kumpulkan anak cucu itu dengan mereka dan tiadalah kami kurangi pahala amalan mereka sedikit jua pun” (Surat Ath Thurr ayat 21). Di ayat ini jelas menyebutkan tidak adanya pahala waris, malah tanggungan mengenai pahala waris pun tidak ada. Yang masuk surga bersama ibu bapaknya itu adalah anak-anak yang belum baligh, karena yang sudah baligh tentu bertanggung jawab sendiri. Oleh karenanya dalam ayat tersebut ada sambungannya. Yang artinya: “Setiap orang bertanggung jawab (terikat) oleh amalannya sendiri-sendiri (masing-masing)”. Jadi setiap orang menanggung dosa dan pahala atas perbuatannya masing-masing bukan warisan dari orang lain.
B: Apakah di dalam Kitab Al Qur’an ada yang lebih tegas menyebutkan bahwa dosa dan pahala itu tidak dapat diwariskan atau dihadiahkan pada orang lain?
A: Ada, cukup banyak.
B: Maafkan, kami ingin mengetahui di surat apa, dan di ayat berapa, kami akan cocokkan di rumah, karena kami ada mempunyai kitab terjemahan Al Qur’an bahasa Indonesia. Mungkin juga Saudara-Saudara yang hadir di sini juga memerlukan juga.
HADIRIN: Perlu diterangkan, karena memang penting diterangkan.
A: Apakah tidak sebaiknya kita bersama-sama memeriksa di sini saja, kalau Saudara menyetujui saya suruh ambilkan Al Qur’an lalu saya tunjukkan surat dan ayatnya sekali. Bagaimana, apakah sekarang juga?
B: Kalau Bapak hafal lebih baik sebutkan sekarang saja ayat-ayatnya, akan kami catat: lalu akan kami cocokkan di rumah dengan Al Qur’an kami. Tapi kalau Bapak tidak hafal kami minta besok malam untuk menghemat waktu.
A: Insya Allah saya hafal ayat-ayatnya.
B: Baik, silahkan Bapak sebutkan, kami akan catat.
A: Saya akan sebutkan nama-nama surat dan nomor ayatnya, lalu saya akan beri keterangan dan Saudara catat nama surat dan nomor ayatnya yang sebut, lalu cocokkan lagi di rumah.
B: Baik, kami setuju.
A: Surat Al Baqarah, ayat 286. “Kepada dirinya apa yang ia kerjakan, dan atas dirinya apa yang dia lakukan”. Maksudnya, baik dan buruknya suatu perbuatan harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya, tidak boleh dibebankan atas orang lain.
Surat Al Baqarah, ayat 123. “Dan Hendaknya kamu takut pada suatu hari (kiamat) tidak berkuasa seorang membebaskan sesuatu atas orang lain”. Maksudnya, kelak di hari kiamat, seseorang tidak berkuasa menebus dosanya orang lain, dan pahala tidak diperbolehkan atas orang lain. Masing-masing harus menanggung sendiri perbuatannya baik maupun jahat.
Surat Al Ankabut, ayat 6 “Siapa yang giat berusaha maka usahanya itu untuk dirinya sendiri”.
Surat Yaasiin, ayat 54 “Maka pada hari kiamat, tidak seorang pun akan teraniaya, dan kamu tidak akan dibalas, melainkan apa yang kamu sendiri telah kerjakan”.
Surat Al Isra’, ayat 15 “Dan seseorang tidak berkuasa memikul dosanya orang lain”.
Surat An Najm, ayat 38 dan 39 “Bahwa seseorang tidak berkuasa menanggung dosanya orang lain dan sesungguhnya seorang pun tidak akan menerima pahala melainkan daripada perbuatannya sendiri”.
Surat Luqman, ayat 33. “Hai Manusia hendaklah kamu takut kepada suatu hari (kiamat) seorang Bapak tidak berkuasa membebaskan anaknya (dari perbuatan anaknya), seorang anak tak akan berkuasa membebaskan perbuatan bapaknya”.
Ayat-ayat yang saya sebutkan di atas tadi jelas sekali menunjukkan bahwa seseorang tidak berkuasa menebus dosanya atau mengambil oper pahala orang lain. Jadi dalam Islam, tidak ada manusia yang berkuasa menebus dosa, atau seorang pejabat menebus dosa, perbuatan baik atau jahat harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya. Saya kira sudah cukup ayat-ayat yang saya sebutkan, tetapi kalau Saudara masih memerlukan, saya akan sebutkan lagi ayat-ayat yang lain.
Hadits Sahih Bukhary-Muslim yang Bertentangan Dengan Al-Quran?
B: Sudah cukup, dan kami sudah mengerti, akan tetapi kami pernah membaca sebuah kitab yang menyebutkan sebuah Hadits Nabi Muhammad, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa: “Mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya”. Berdasarkan Hadist tersebut berarti bahwa siksaan atas mayit itu disebabkan perbuatan orang lain, bukan dari perbuatan dirinya sendiri. Mayit itu disiksa lantaran “perbuatan” tangisnya orang lain. Kami telah tanyakan kepada beberapa orang yang kami pandang mengerti tentang agama Islam, dan salah seorang guru agama Islam mengenal susunan Hadist tersebut memberikan jawaban bahwa hadist itu benar (sahih), oleh karena yang meriwayatkan adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim.
A: Hadist Nabi yang Saudara bawakan itu susunannya demikian: “Telah berkata Umar dan Ibnu Umar: Bersabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh keluarganya (riwayat Bukhari dan Muslim)”. Akan tetapi hakekatnya Hadist itu tidak sahih, oleh karena berlawanan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Walaupun oleh karena Saudara yang beragama Kristen, mungkin belum mengetahui tentang hadist-hadist sahih dan hadist-hadist palsu, maka agar Saudara yang hadir di pertemuan ini dapat mengikuti juga, merasa perlu saya terangkan bahwa menurut kitab-kitab Ushul Fiqih dan kitab Musthalahul Hadist, yang disebut Hadist Nabi, bukan saja mesti sah riwayatnya malah mesti beres susunannya dan arti daripada hadist itu HARUS tidak berlawanan dengan kitab Al Qur’an. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim jelas diterangkan demikian. Maksud Hadist tersebut, tatkala hadist yang menerangkan bahwa mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya didengar oleh Siti Aisyah (Istri Nabi), maka Siti Aisyah menolak kebenaran Hadist tersebut. Aisyah berkata: “Cukuplah buat kamu Ayat Al Qur’an; Dan tidak berkuasa seseorang menanggung dosa orang lain.”
B: Nah, kalau begitu Pak Kyai, sekarang kami telah mengerti bahwa berdasarkan Kitab Bibel sendiri dan Kitab Al Qur’an pada hakekatnya dosa waris dan pahala waris itu tidak ada. Yakni setiap manusia menanggung sendiri dosanya, dan pahalanya menurut perbuatannya masing-masing. Ini adil namanya.
A: Ya, seharusnya begitu, sebagaimana tersebut dalam Kitab Bibel dan Al Qur’an yang telah kita baca tadi. Akan tetapi supaya lebih jelas dan tambah meyakinkan Saudara, silahkan Saudara periksa di Injil: “Surat kiriman Rasul Paulus kepada orang Rum Pasal 2 ayat 5 dan 6.
B: Baik, surat dan ayat ini menyebutkan sebagai berikut: “Tetapi menurut degilmu dan hati yang tiada mau bertobat, engkau menghimpunkan kemurkaan ke atas dirimu untuk hari murka dan kenyataan hukum Allah yang adil, yang akan membalas ke atas tiap-tiap orang menurut perbuatan masing-masing”.
A: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris?
B: Tidak, malah sebaliknya setiap orang akan dibalas menurut amalnya masing-masing.
A: Periksa lagi Matius pasal 16 ayat 27.
B: Ayat ini menerangkan/menyebutkan: “Karena anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya, pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap orang menurut perbuatannya.”
A: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris?
B: Tidak ada, menurut ayat ini perbuatan dosa dan perbuatan baik akan ditanggung sendiri, tidak boleh dibebankan atau diwariskan pada orang lain.
A: Jadi di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan tidak adanya dosa waris.
B: Ya, dari mana asalnya ada sebutan dosa waris itu?
A: Apakah Saudara masih memerlukan penjelasan lebih lanjut?
B: Sudah sangat jelas sekali.
A: Kalau begitu, baiklah kita lanjutkan. Di ayat Saudara bacakan tadi ada sebutan “Anak manusia”. Bapanya silahkan Saudara bacakan sekali lagi.
[kemungkinan ada kesalahan ketik pada paragraph di atas?, red]
B: Baik, awal ayat tersebut menyebutkan: “Karena Anak Manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya … “.
A: Bagaimana menurut pengertian Saudara yang dimaksudkan dengan “Anak Manusia dan Bapanya”?
B: Anak manusia itu tentulah Yesus, sedang Bapa ialah Tuhan.
A: Periksa lagi: “Surat kiriman yang kedua kepada orang Kristen” pasal 5 ayat 10.
B: Baik ayat ini menyebutkan: “Karena tak dapat tiada kita sekalian akan jadi nyata di hadapan kursi pengadilan Kristus, supaya tiap-tiap orang menerima balasan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tubuh itu, baik atau jahat”.
A: Ayat Injil sendiri yang menyebutkan, bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing, baik maupun jelek, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain.
B: Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang Bapak tunjukkan bahwa perbuatan baik atau jelek seseorang tidak dapat diwariskan kepada orang lain. Oleh karenanya, kepercayaan saya kepada dosa waris itu mulai luntur.
A: Kalau begitu lantas bagaimana dosa Adam dan Hawa, apakah dapat diwariskan kepada orang lain, tegasnya kepada anak cucunya?
B: Berdasarkan ayat Bibel tersebut di atas tentu tidak. Jadi dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, seharusnya ditanggung sendiri oleh keduanya, tidak bisa diwariskan kepada anak cucunya.
Pengakuan Dosa = Membeli Ampunan dari Rahib?
A: Dalam sejarah agama Kristen kita kenal yang disebut: “biechten” ialah orang yang berbuat dosa, dan “de biechtafleggen” ialah orang yang meminta ampun atas kesalahannya, dan “Biecht-vader” ialah orang-orang yang diberi wewenang memberi ampun. Setiap orang merasa menyesal atas kesalahannya dapat menerima ampunan dengan jalan membeli selembar surat yang menyebutkan bahwa orang yang berdosa sudah diberi ampun atas dosanya. Surat ampunan itu disebut “Aflaat-brieven” atau “Indul gences”, yang artinya kemurahan Tuhan.
B: Ya, saya menyadari soal itu, keterangan Bapak memuaskan saya.
A: Bukan hanya demikian, akan tetapi Aflaat-brieven itu pada zaman dulu dipropaganda (gepredicht) di Negara Jerman oleh seorang rahib (nonnik) bernama “Tetzel” dalam tahun 1517 atas perintah Paus Leo, yang menjadi Paus pada tahun 1513-1521. Sebagian daripada hasil penjualan Aflaat-brieven itu digunakan untuk pendirian bangunan gereja “Saint Pieter Kerk” di kota Roma. Terlalu panjang kalau saya uraikan sejarah pemerintahan gereja di Eropa pada permulaan abad pertengahan.
B: Terima kasih, kita lanjutkan saja soal yang lain, sekarang sudah larut malam, lain kali kami akan datang lagi.
salam kenal..!
pertama tama saya akan membedakan antara Dosa waarisan dan orang berdosa, dosa warisan maksudnya adalah tabiat dosa adam dan hawa yang di wariskan bukan hasil pernuatan mereka, jd semenjak adam dan hawa berdosa mereka diusir dari taman eden, dikutuk dan putus hubungan dengan Allah, sedangkan berdosa dah jelas anda2 ketahui..! gak perlu saya terangkan….!
so..seorang bayi yang baru lahir betuuullllllll sekali tidak berdosa alias succciiiiii..! tp TTAABBIIIAATTTT dosa akan selalu dibawa oleh manusia sekalipun bayi yang gak mengerti, tp satu hal bayi gak berdosa..!
jd bila bayi baru lahir meninggal, itu mah bukan urusan kita apa dia masuk neraka apa surga..itu hak Tuhan.
makanya dalam kristen bayi yang meninggal pasti di doain..!
Pembabtisan bukan penhapusan dosa, itu adalah bukti perjanjian manusia kepada ALLAH…!
jadi tolong dibedakan antara dosa warisan dengan berdosa..jadi dosa warisan itu adalah sifat/tabiat dasa yang kekal diwariskan adam, sedangkan berdosa adalah hasil perbuatan kita,…!
so kalo mengartikan alkitab itu bo ya jangan separoh2, seperti wawancara diatas dengan kiya..!
aturannya kalian yang mencari kesalahan pada ayat2 alkitap, berkaca, kenapa kalian mencari kesalahan agama orang lain untuk membenarkan agama kalian, apa alquran gak bisa ngebuktiin atau gak cukup bukti untuk membenarkan alquran itu sendiri, atau harus beberapa banyak hadist lg gak cukup untuk membuktikan alquran benar, sehingga kalian mencari kesalahan dari alkitap, padahal kesalahan itu kalian anggap salah karena pemahaman kalian yang kurang..! lg kalian gak percaya ama alkitap, tp kalian pakai untuk membenarkan alquran, berarti alquran lebih gak benar lg dong, tp dah apalah itu hak anda, kami gak perlu mencari kesalahan alquran demi membenarkan alkitap..!
lg kalian lucu lebih mengerti isi alkitap dari alquran, oh..ya..ya kalian kan haram mengartikan alquran…gimana kalian dapat mengatakan alquran benar, ngartiaja gak bisa, taroh lah kalian ngarti tp kalian ngarti tafsirannya aja,
kalian bilang alkitap kontrakdiksi, teliti dulu dong, alquran
saya rasa lebih kontradiksi, turunnya ayat gak jeas, mana ayat pertama yang diterima pertama oleh MOH. coba teliti dong surat pertama, itu firma tuhan apa omongan ustaman,
terus kita penutupnya jg gak ada, tp aku rasa sih kalian gak bisa menemukan itu, karena kalian jg gak bisa tau, alias buta..!
coba tanyakan uastak kalian yang paliang jago dah..!
isa almasih dibunuh allow atau diangkat..! pasti bingung dah..!
huahahaah lucu ya kalo orang ga tau tapi sok tau ![]()
utk # jali-jali (jj..11) anda keliatan sekali kurang banyak baca sumber2 yg begitu banyak di Gramedia.
Untuk semuanya, percaya ga Tuhan Maha Adil?
percaya ga Tuhan Maha Adil? tahu ga arti Adil yg seadil2nya?
Kalo Tuhan Maha Adil, apa mungkin dia menimpakan kesalahan si A ke si B?
Adil ga kalo bayi yg gatahu apa2 di tanggungin dosa?
jadi kalo ada org bilang Bayi mewarisi dosa itu ngawur?
jadi kalo ada org bilang manusia mewarisi dosa itu Adam & Hawa, itu ngawur?
Dosa Adam ditanggung Adam, dosa loe ya ditanggung loe sendiri, ga ada orang menanggung dosa org lain. Karena Tuhan Maha Adil. Dia tidak menimpakan dosa seseorg ke org lain. Itu hanya pikiran kalian yg dipengaruhi pikiran org lain yg sama2 ngawur.
Yg namanya Kitab Suci itu bukannya kumpulan cuplikan catatan sekumpulan orang, jadi Kitab2 suci itu perlu diuji asal-asal kutipannya. Dan itu sudah ada ilmunya yg disebut Hermeneutika utk kitab2 suci, cari aja di Gramedia.
sebelum loe2 pada ngomong baca dulu yg banyak, jangan cuma kitab loe doang, karena kecap ga ada yg no2.
ciao,
sam kusir (elo kudanya)
@sambodjo (yg katanya kusir) “kasihan amat yah”
baca baik2 postingan anda, anda sudah meng”kotak-kotakkan
tuhan yg anda sembah,
drmn anda tahu, tuhan yg anda sembah tidak akan menimpakan kesalahan orang lain ke orang lain?
anda sudah meng”kotak-kotakkan eksistensi tuhan yg anda sembah,
drmn anda tahu mengenai adil? hanya yg berbuat adil-lah tahu mengenai adil,
karena manusia berdosa, maka ia mengetahui ttg dosa,
aduh.. repot2 ngomong sama kusir,
ps:
ternyata anda hanya membaca di gramedia saja, pantesan!
@XY
“Dosa anak tidak bisa ditimpakan kepada orang tua begitupun dosa orang tua tidak bisa ditimpakan kepada anaknya”
Keterangan di atas ada baik di dalam Al Quran maupun di dalam Injil
Nongol lagi ahhhh disini….
Kali ini baca dari awal sampai akhir….
Dan dari sekian banyak pertanyaan dari saudara non Kristen, banyak yg tidak terjawab dan yg terjawabpun seringkali ngelantur.
Seperti jawaban/pernyataan saudara yg terhormat “jj..11″. Namanya sendiri saja disembunyikan …!!!!
Ngomong ngalor ngidul gak karuan juntrungane ..!!!. Ma’af kalo saya agak kasar, sekali lagi ma’af.
DEWO : Pertanyaan besar: dari mana bayi yang ketika mulai bisa berbicara ini belajar berbohong?
Coba saja bayi anda yg pertama anda titipkan ke pencopet/perampok untuk dididik, dan bayi anda yg kedua anda titipkan ke seorang alim ulama.
Pertanyaannya, besar manakah kemungkinan bayi pertama dan kedua untuk menjadi orang baik ????
Cangkir tidak akan berisi susu jika anda menuangkan kopi kedalamnya ???
Salam damai,
Edi
saya mo nanya di dlm AQ sebelum adam memakan buah terlarang itu (membuat adam jatuh kedalam dosa) apakah adam dianggap suci atau tidak?
Saudara ku Edi,
Saya sering lihat bayi-bayi akan saling berebut sesuatu (makanan, mainan) kalau tidak dinasehati. Kesimpulannya memang sudah ada naluri untuk saling menguasai apabila tidak ada aturan.
Salam,
Peace
Dear Peace,
Klo gitu kambing juga seperti itu, apa itu berarti kambing punya dosa asal/dosa turunan ???
Tingkah laku / perbuatan kita yang bikin kita berdosa, dan bukan sebaliknya, dosa yg menentukan tingkah laku kita. Bukannya begitu ????
Sekarang mana yg benar ??? (1 atau 2)
1. Karena kita mencuri, maka kita berdosa
2. Karena kita berdosa, maka kita mencuri
Salam damai,
Edi


1 | blasius ananta kurniawan
Mei 23, 2007 pada 9:14 am
Dewo:”..Pertanyaan besar: dari mana bayi yang ketika mulai bisa berbicara ini belajar berbohong? Well, inilah bawaan sikap dari dosa tadi…”
Bung Dewo, anak saya usia 3 tahun. Sudah bisa ngomong banyak.
Seingat saya anak saya tidak pernah bohong. dia hanya belum tahu maksud pertanyaan kita saja.
contohnya: ketika ditanya “sudah makan apa belum?” dia jawab “belum”, tetapi ketika ditanya “adik sudah makan?” jawabnya “sudah”
demikian pula jika ditanya hal lain tentunya akan banyak salahnya dan meskipun juga kadang ada benarnya, dan apakah bila anak yang demikian disebut sudah pinter berbohong?
saya jawab “TIDAK!!”
Seorang anak mulai belajar berbohong (mungkin) ketika usia 5 tahunan, ketika dia sudah terampil berkomunikasi dan intensif dalam pergaulan dengan orang lain.
Bohong ini juga karena kalau ada contoh dari orang tua, ataupun dari teman-temannya.
yang memaksanya untuk berbohong. Misal, kalau tidak bohong akan dimarahi, atau dikucilkan teman dan hal-hal lain yang menurut pengalamannya dibutuhkan bohong untuk menyelamatkan dirinya. istilahnya dulu pernah jujur tetapi malah dihukum/punya pengalaman tidak menyenangkan saat mengungkapkan kejujuran.
Jadi menurut saya bohong itu karena pengaruh lingkungan, bukan bawaan.
“….Jadi apakah karena bayi yang mulai belajar berbohong itu bisa menjadi jembatan untuk mengerti konsep dosa dari kacamata iman Kristen?…”
Silakan saja bagi yang percaya.
“…Sehingga tidak ada lagi perdebatan kusir yang tidak ada habisnya….”
Benar Bung.. silakan percaya bagi yang percaya. Sebelumnya gunakan pikiran dan hati yang jernih…