Posted by: agamaku on: Nopember 22, 2008
Saya sangat tertarik ketika ada seorang blogger menulis topik bertema “KUHP Tentang Pelecehan Terhadap Segolongan Masyarat (Di Antaranya Agama).” Saya tidak akan mempermasalahkan isi dari tulisan tersebut karena isinya sebagian berupa kutipan dari KUHP pasal 156. Sebagai informasi, blog tersebut banyak berisi tulisan-tulisan religius.
Kemudian saya tertarik untuk melemparkan sebuah diskusi. Saya melemparkan pertanyaan sederhana saja:
Kalau ada sebuah kaum kemudian menyebut “kafir” kaum lain, itu sudah merupakan pelecehan belum?
Saya cukup terkesan karena akhirnya penulis blog meluangkan waktunya untuk membuat sebuah artikel terpisah untuk membahas istilah “kafir” dengan panjang lebar. Judulnya cukup menggugah dengan 3 tanda tanya: “Kafir???” Sayangnya saya tidak dapat memperoleh kesimpulan tegas antara “pengkafiran” dengan “KUHP tentang Pelecehan…” di artikel yang ditulisnya.
Saya pun tertarik untuk berdiskusi lebih lanjut dengan penulis blog tersebut. Saya menduga jika penulisnya, yang rajin menuliskan hal-hal religius, maka paling tidak memiliki kedewasaan yang cukup dalam berdiskusi.
Karena saya tidak bisa narik benang merah “pengkafiran” dan “KUHP tentang Pelecehan…” dalam artikel tersebut, maka saya memberanikan diri lebih lanjut berdiskusi dengannya. Pada jawaban pertama rupanya beliau masih terpaku pada ayat-ayat sucinya. Ya, saya tahu, itu memang pondasi baginya, tapi saya ingin mendobrak cara berpikirnya dengan lebih mengedepankan hati nuraninya. Maka saya pun mengambil contoh yang cukup menguras perasaan, yaitu dengan perumpamaan anak autis. Kebetulan putera beliau dan saya sama-sama autis.
Saya:
Hehehe… penjelasan yang panjang lebar tetapi tetap tidak kena esensinya karena seolah “membela diri.” Pertanyaan saya yang lalu adalah berkenaan dengan “KUHP Tentang Pelecehan Terhadap Segolongan Masyarakat (Di Antaranya Agama)”
Sedangkan di artikel ini tidak disebutkan sama sekali kaitan penyebutan “kafir” bagi kaum lain dengan KUHP tersebut. Bagi kaum lain yang disebut sebagai “kafir” tentu akan “terlecehkan.”
Oh iya, mungkin Anda bisa menukilkan ayat2 AQ yang lain yang terkait dengan kafir. Siapa tahu masih ada ayat-ayat lain (yang belum dinukil) berkenaan dengannya.
Tetapi dari ayat2 yang Anda nukil pun, di situ sudah jelas bahwa agama Anda telah mengkotak-kotakkan manusia ke dalam agamanya dan memperlakukan kaum lain dengan berbeda, bahkan cenderung lebih kejam.
Seandainya saja tidak perlu ada pengkotak-kotakkan seperti itu, alangkah indahnya hidup di dunia ini dalam hidup berdampingan, apa pun warna bajunya (warna baju = kiasan).
Tuhan memberkati.
Beliau:
He he he (sambil nyengir) mohon maaf jika ditafsirkan demikian.
Sebetulnya komentar anda telah saya jawab… memang kesannya saya “samarkan”.. agar tidak terlalu vulgar. Yah.. kalau anda ingin jawaban saya yang jujur.. adalah “Bisa jadi Ya..” (melecehkan dan terkena pasal dalam KUHP tersebut) jika niatannya memang untuk tujuan pelecehan… dan ini harus dibuktikan dengan proses peradilan dengan dukungan data maupun saksi.dan “bisa jadi tidak…” jika memang hal ini diucapkan sebagai penegasan atas keadaan dari orang yang dikenai ucapan tersebut.. bukan untuk maksud pelecehan. Oleh karena itu.. dalam penjelasan yang panjang lebar… saya ingin mengajak sahabat-sahabat disini memahami dulu.. istilah kafir..(murni berdasarkan petunjukNYA.. DIA Yang Maha Mengetahui) dan sekaligus bagaimana bersikap menghadapi kaum kafir.. menurut Islam agar tidak ada sikap atau pemikiran yang hanya semata-mata berdasarkan nafsu manusia.. dan nafsu iblis.
Kalo masi boleh sy bicara, saya tambahkan disini ‘Bukankah tidak ada 1 agamapun yg tidak mengkotakkan diri. Untuk itulah Islam mendirikan dakwah. Untuk itu ada istilah zending juga misionaris. Ya jujur tujuan kegiatan-kegiatan tersebut untuk mengajak masuk ’ke dalam kotak’.
sedangkan ‘kotak’ yg lain dlm Islam sendiri , yaitu fasis, munafik dsb, sungguh hanya org tsb dan Allah yg tahu, sehingga tidak mungkin manusia bisa ‘melabel’ org lain, menyatakan orang lain tersebut dalam kotak-kotak yang mana, apalagi sampai melakukan pelecehkan, (jujur, jangan pernah ada yg berani memberikan label-label tersebut.. Sungguh berat sangsi Allah.. )
Mohon dapat dipahami… Sebelumnya terima kasih untuk kesediaan anda berkomentar disini.
Lalu saya pun mulai mencoba menguras hati nuraninya dengan perumpamaan anak autis:
Terima kasih telah memberikan penjelasan dengan jujur. Saya berharap Anda sudah dapat sedikit membuka mata hati & pikiran mengenai agama Anda sendiri. Suatu saat Anda akan mengerti apa maksud saya.
Pengalaman adalah guru yang baik. Perkenankanlah saya memberikan Anda sebuah contoh kasus. Tetapi jika Anda tidak berkenan, Anda dapat menghapus komentar saya ini. Contoh kasus yang ingin saya angkat yaitu berkenaan dengan anak autis.
Apakah Anda rela jika seorang anak autis dikucilkan, dilecehkan dan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh anak lain yang normal? Apakah Anda rela jika anak autis diperlakukan dengan kasar/kekerasan oleh anak-anak normal?
Misalnya saja anak-anak (kaum) normal kemudian menyebut anak-anak autis sebagai “kaum goblokin”, apakah Anda rela?
Mohon maaf jika contoh saya ini terlalu vulgar. Tetapi dengan contoh ini, yang mungkin dapat menyentuh hati Anda, paling tidak dapat membangkitkan empati pada hati Anda.
Sekali lagi mohon maaf jika komentar saya ini sangat tidak layak untuk dimuat. Jika demikian halnya, Anda dapat menghapus komentar saya ini.
Tuhan memberkati Anda dan keluarga.
Saya senang ketika beliau sependapat dengan saya. Berikut jawaban beliau:
Subhanallah… Sayapun demikian adanya, dalam hal ini sepakat dengan pendapat anda.. dan sesungguhnya prinsip dalam Islampun demikian adanya. Tidak akan pernah rela Allah sebagai pemilik Islam.. jika ada hamba-hambaNYA.. baik itu yang “mengaku” Islam maupun yang tidak.. saling mendzholimi sebagaimana saya kutipkan diatas…
“Doa seorang yang teraniaya (diperlakukan tidak adil), meskipun ia orang kafir, tidak ada tirai yang menutupinya (untuk dikabulkan).” (HR. Ahmad dalam “musnad”nya).
Ini adalah sebuah kutipan yang nyata… bagaimana azas keadilan itu akan diterapkan. yah.. azas keadilan.. sangat-sangat dijunjung tinggi dalam Islam.
Sebaliknya… dengan pengetahuan yang anda milikipun… saya yakin anda cukup paham.. gejolak-gejolak yang timbul dibanyak bagian dunia saat ini.. karena tuntutan.. kaum muslim untuk mendapat keadilan… seperti dalam postingan “Surat dari seorang sahabat bernama Fatimah”
Yah.. Fatimah tidak hanya menanggung tudingan kata-kata tapi… jauh jauh lebih berat dari itu.Mudah-mudahan anda.. dengan kemampuan analisa dan pengetahuan yang anda miliki dapat lebih bersikap arif… bersama menjalin hubungan keagamaan yang baik.. dengan saling menyadari.. bahwa ada tengang rasa.. ada saling menghargai.. ada saatnya untuk memberikan ruang pada sebuah golongan untuk melakukan ritualnya… dan tidak saling “usil” satu sama lain… tidak saling memaksakan kehendak.. dsb-dsbnya.. baik untuk hal yang sangat kecil..(seperti memanggil dengan sebutan tertentu seperti yang anda tuliskan) hingga yang sangat krusial.. (pertumpahan darah maupun antar negara)… Jujur… didepan maupun dibelakang.. dihati maupun disikap…
Semoga Allah akan memberikan Hidayah pada kita semua.
Beliau memang sepakat dengan saya, tetapi beliau belum memahami apa yang sebenarnya ingin saya ungkapkan. Maka kemudian saya pun dengan hati-hati mulai membuka maksud saya tersebut:
Syukurlah bahwa Anda telah memahami maksud saya dalam kasus yang saya angkat. Tapi ada satu lagi hal yang harus saya utarakan berkenaan dengan contoh kasus Anda.
Ada beberapa hal yang kita sepakat, yaitu bahwa melihat kasus tersebut, Anda tidak akan pernah setuju bahwa anak autis diperlakukan seperti itu.
Mari kita berandai-andai sesuai analogi anak autis di atas. Seandainya Anda adalah Allah, apakah Anda rela jika anak-anak Anda (yang autis itu) dizolimi oleh anak-anak Anda yang lain (yang normal)? Relakah Anda jika anak-anak Anda yang Autis disebut sebagai “KAUM GOBLOKIN” oleh anak-anak Anda yang normal?
Nah, jika Anda sudah mulai dapat merasakan “PERASAAN ALLAH”, maka Anda akan mulai bisa berpikir bahwa kata “KAFIR” seharusnya bukan berasal dari TUHAN. Dan seharusnya bukan menjadi pembenaran bagi tindakan kesewenang-wenangan bagi orang lain.
Yakinlah bahwa TUHAN itu Maha Penyayang, Mahaadil, Mahabaik dan Mahakuasa yang tidak mungkin memberikan “celah” yang memungkin orang lain berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain. Mohon jangan terlalu terpaku kepada kitab, tetapi gunakanlah hati nurani Anda dapat memahami hal ini.
Semoga sedikit komentar saya ini dapat memicu pola berpikir Anda ke sisi yang lebih baik. Mohon maaf jika komentar saya ini terlalu vulgar dan terlalu berseberangan dengan ajaran Anda. Dan jika dirasa tidak berkenan, Anda dapat menghapusnya.
Terima kasih atas diskusi yang jujur dan baik.
Tuhan memberkati.
Sayangnya beliau mulai menutup diri dan menyatakan dengan tegas bahwa beliau tidak sependapat dengan saya. Jawaban beliau:
Dgn sangat menyesal sy tidak dpt sependapat dgn anda untuk soal ini. Karena kata dan arti kafir tidak dr manusia. Tp langsung dr Allah, (tidak mungkin ada manusia yg lebih tahu daripadaNYA) bagian pemahaman atas Islam yg dijadikan ‘way of life’ dan ‘life style’ seorang muslim. Maaf sekali lg.
Dan sy sungguh tidak berani berandai andai sebagai Allah. Sy tak berarti dibandingkan DIA yg Maha Agung. Ilmuku tak sebanding dgn ilmuNYA, bagaikan setetes air dgn seluruh samudra di dunia. Ada hak preogratif Allah yg tidak pernah dpt sy uraikan dgn analisaku. Jadi jelas label kekafiran adalah label darINYA, DIA pasti tidak salah sungguh kesalahan ada pada umat manusia dlm hal ini adalah dgn mengekploitasi menjadi komoditas perpecahan.
Masalahnya bukanlah “hati nurani”-nya tetapi ada pintu yang tertutup dan jendela yang tertutup yang tidak memungkinkan saya menggugah hati nuraninya lebih lanjut. Walau pun demikian saya tetap mencoba lebih memperjelas maksud saya, tentu dengan pemilihan kata-kata yang lebih hati-hati.
Saya:
Iya, tidak mengapa jika Anda tidak sependapat dengan saya. Dan juga tidak mengapa jika Anda tidak berani berandai-andai sebagai Allah. Lagi pula saya tidak berupaya membandingkan saya atau Anda dengan DIA yg Maha Agung. Dan tentu saja ilmu kita tidak ada apa2nya.
Namun saya mengajak Anda berempati kepada Allah. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Seperti kita juga bisa turut merasakan rasa suka/duka dari para sahabat kita. Rasa empati itu bisa terbentuk jika kita juga turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Saya pun mengajak Anda melakukan proses empati kepada Allah.
Mungkin bahasan saya ini terlalu sulit bagi Anda, atau Anda tidak berani “berempati” kepada Allah. Tetapi tidak mengapa. Komentar saya ini sekedar mendobrak pola pikir Anda saja. Saya hanya berharap Anda dapat mulai memahami apa yang saya maksud. Itu dulu saja.
Terima kasih atas diskusi yang baik & jujur.
Tuhan memberkati.
Dan saya pun kecewa karena tanggapan beliau yang kemudian menuduh saya “TOO MUCH” dan menuduh saya “melecehkan secara halus.” Hiks…
Beliau:
Saya kira anda sudah mulai memasuki area “TOO MUCH”… 3 komentar terakhir anda mulai bernada pelecehan dengan cara yang halus…
Sekali lagi saya sampaikan bahwa :
1. Sebagai seorang beragama.. kita punya keyakinan yang berbeda baik dari cara kita memahami, menjalankan dan menjadikan itu sebagai jalan hidup kita. (Ini sebuah kenyataan yang jelas dan jujur…)
2. Sebagai seorang warga negara dari sebuah negara.. yang sama dimana saling toleransi terhadap setiap pemeluk agama dinegara Indonesia ini sangat dijunjung. Dengan sikap anda yang…..(gituuuu) yaitu berusaha menyampaikan pendapat dengan “pemaksaan” dari berbagai macam sudut kepada pemeluk agama lain.. dan sikap anda yang…. (gituuu) walaupun saya sudah coba jelaskan dengan sangat hati-hati dan penuh penghargaan kepada anda sebagai “sesama manusia” bahwa pemikiran anda “TIDAK AKAN PERNAH MASUK” kepada saya (Insya Allah.. karena hanya kepada DIA aku bergantung) telah anda abaikan.
3. Postingan yang saya tulis.. adalah jawaban pertanyaan anda tentang kafir.. cukup jelas adanya dari sudut pandang saya. Siapapun dia orangnya pasti akan jelas memahami tulisan saya.. bahkan telah diperjelas lagi dalam jawaban atas komentar anda.(Yang anda tuntut.. adalah jawaban saya berdasarkan pandangan saya ataukah jawaban berdasarkan pandangan anda???)
Maaf kalau akhirnya saya menilai anda sebagai orang yang ternyata… tidak mampu bersikap dewasa dan mampu menghargai pendapat orang lain.. bahkan cenderung memancing emosi pembaca…
Oleh karena itu.. mempertimbangkan ini adalah forum terbuka.. dimana berbagai macam tingkat pemahaman dan kedewasaan terlibat didalam sini.. saya akan menutup seluruh komentar yang berkaitan dengan ini.. (kecuali komentar-komentar yang tahu unggah-ungguh… tata krama.. tepa slira… sebagai manusia yang bermasyarakat, warga negara Indonesia yang baik juga sebagai umat agama..) Agar.. postingan ini tidak digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab… sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
Jika anda tetap merasa tidak terpuaskan dengan apa yang telah saya tulis… dan masiiihhh saja penasaran. tolong baca tulisan saya dibawah ini, begitulah pandangan saya terhadap agama dan pola pikir anda.:
1. Bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku.
2. Kebenaran hanya dapat dibuktikan nanti… Sebaiknya kita bersabar dan menunggu hari pengadilan itu tiba untuk membuktikan sesungguhnya kebenaran itu.
3. Ada sebuah kaum.. yang bagaimanapun engkau berikan pengertian kepada mereka.. itu tidak berarti apa-apa.. karena Allah telah tutupkan mata. telinga dan hati mereka dari kebenaran… Bahkan mereka dengan sewenang-wenang akan merubah kebenaran itu sesuka hati mereka.
Sungguh siksa Allah sangat lah pedih.Semoga.. setiap muslim.. akan selalu dijaga dan berada dalam jalan illahi
Yah, saya sebenarnya sudah tahu, pintu dan jendelanya telah tertutup bagiku. Apa pun yang saya coba jelaskan tidak akan beliau dengarkan. Bahkan di artikel beliau selanjutnya malah menuduhkan pemutarbalikan ayat-ayat yang padahal saya pun tidak mengutipnya satu pun, dari kitab suci mana pun.
Rupanya beliau telah membanting pintu dan lebih senang mengunci diri dalam kubusnya yang dirasanya lebih nyaman selama hidupnya.
Saya rasa pandangan beliau yang seperti ini sangatlah keliru. Saya telah mencoba mendobrak cara berpikirnya dengan mengajaknya keluar dari kubusnya. Tapi apa daya karena beliau telah mengurung dan mengunci dirinya dalam kubus.
Saya pun dalam berdiskusi dengannya tidak bisa terlalu berharap banyak. Saya tetap “kafir” baginya. Dan apa pun yang saya utarakan selalu saja dianggap “melecehkan” bagi beliau. Padahal tidak ada maksud saya melecehkan beliau sedikitpun. Kata-kata saya pun saya rasa cukup santun.
Ini bukan yang pertama bagi saya. Saya banyak menghadapi diskusi-diskusi sejenis yang berakhir mentok. Tetapi saya rasa diskusi seperti ini bukanlah yang terakhir bagi saya.
Suatu ketika saya pernah berhasil membuka hati nurani seseorang. Dan saya ingin itu bisa terjadi lebih banyak lagi. Bukan berarti saya melakukan Kristenisasi, sekali lagi BUKAN. Toh saya tidak mengajak siapa pun untuk murtad dan memeluk agama saya. Saya hanya ingin membuka hati nurani setiap orang supaya dari sana KASIH itu hadir dan dapat dirasakan setiap orang.
Tuhan telah memberikan KASIH-NYA kepada setiap manusia. Tetapi apakah setiap orang dapat merasakannya? Apakah setiap orang sadar bahwa KASIH Tuhan juga diberikan kepada setiap orang? Apapun agamanya. Apapun atributnya. Dimana pun mereka tinggal.
Kalau KASIH Tuhan telah diberikan dengan cuma-cuma kepada setiap manusia, lalu kita pun perlu membagikan KASIH itu kepada orang lain yang KEKURANGAN KASIH. Saya rasa setiap orang yang masih memperlakukan orang lain dengan semena-mena adalah orang-orang yang KEKURANGAN KASIH. Demikian juga setiap orang yang mengamini tindakan semena-mena kepada orang lain juga orang yang KEKURANGAN KASIH.
Orang yang TIDAK MEMILIKI bagaimana DAPAT MEMBERIKAN kepada orang lain? Tetapi orang yang MEMILIKI DENGAN BERKELIMPAHAN akan dengan suka cita MEMBERIKANNYA kepada setiap orang. Kita harus MEMILIKI KASIH untuk dapat MEMBERIKAN KASIH kepada orang lain. Mintalah kepada TUHAN karena TUHAN ITU KASIH.
1 | pasdequoi
Februari 16, 2009 pada 1:14 pm
@irlander
Saya katakan pada h2204:
> ngomong opo to iki bocah…….
kalau anda tidak mengerti, tidak usah anda tanggapin bung. anda hanya akan saya anggap orang tolol yg tidak punya kerjaan. Kalau bisa debat, debat yg baik dengan saya. jangan suka ngejunk. atau saya akan generalisasi kalau muslim kelas kampung kayak anda ini hanya bisa teriak bermodal dengkul.
God bless.