Agamaku Kesaksianku

Tema APP 2006: Korupsikah Aku?

Posted on: Maret 14, 2006

Tema APP 2006 ini adalah: “Korupsikah aku?” Suatu bentuk pertanyaan yang reflektif. Pertanyaan itu ditujukan kepada kita sendiri. Sebenarnya apa saja yang telah kita korupsi? Dan kita harus menjawabnya dengan jujur. Tetapi yang penting dari itu semua adalah: mampukah kita untuk tidak korupsi dan berusaha untuk dapat memperbaikinya?

Biasanya orang mengkonotasikan korupsi sebagai penyelewengan uang untuk kepentingan lain dari pada yang seharusnya/semestinya, biasanya untuk kepentingan pribadi atau golongan. Tapi arti korupsi ini, dan apa yang dikorupsi, telah berkembang belakangan ini sesuai dengan perkembangan jaman. Menarik mendengar kotbah Pastor yang menunjukkan ada 3 korupsi yang sering terjadi, yaitu:

  1. Korupsi uang/materi,
  2. Korupsi waktu, dan
  3. Korupsi cinta.

Korupsi Uang

Kalau korupsi uang atau materi sih sudah umum. Kalau dulu dikenal banyak dilakukan oleh para petinggi atau pejabat, sekarang malah sudah menjalar ke tingkat/strata yang lebih rendah. Sudah jamak pegawai rendahan pun ikutan korupsi, walau pun tingkat kerugian atau kerusakan yang ditimbulkannya lebih rendah dari pada yang dilakukan oleh para petinggi atau pejabat.

Dan Indonesia secara nasional telah mulai tegas menindak para pelaku korupsi ini, terutama dari kalangan atas yang konon dapat merugikan negara triliunan. Negara lain seperti China dan Malaysia malah tidak tanggung-tanggung dalam menindak para koruptor ini. Di China hukumannya adalah: mati!

Sayangnya di Indonesia masih sangat permisif terhadap tindak kejahatan ini. Banyak koruptor yang dapat bebas asal membayar sejumlah uang. Padahal kita tidak tahu kemana uang ini, apakah dikembalikan ke negara atau malah masuk kantong oknum? Wah… koruptor bisa mempengaruhi dan mengajak orang lain jadi koruptor juga. Itulah kekuatan UANG.

Korupsi Waktu

Sedangkan kalau korupsi waktu? Wah… Boleh dikatakan, kita ini jagonya. Bahkan sampai timbul istilah “jam karet” yang menunjukkan bahwa kita itu selalu terlambat. Ya, betul, terlambat adalah salah satu bentuk dari korupsi waktu. Jadi kalau kita selalu terlambat bekerja, terlambat janji, terlambat rapat, dan lain-lain, itu artinya kita sudah korupsi waktu. Kalau alasannya tepat atau semisal ada alasan yang sangat penting dan genting, maka keterlambatan bukanlah suatu bentuk korupsi. Tetapi kalau misalnya kita terlambat karena kesiangan, malas-malasan, menunda-nunda, dan lain-lain, maka sudah pasti keterlambatan itu merupakan korupsi waktu.

Bentuk lain dari korupsi waktu adalah pulang atau pergi sebelum waktunya padahal pekerjaan kita belum selesai. Misalnya adalah ketika seharusnya kita pulang kerja jam 17.00 tetapi kita sudah kabur dari kantor jam 15.00 padahal pekerjaan kita belum selesai dengan maksud menunda pekerjaan untuk besok. Banyak perusahaan yang menuntut jam kerja karyawannya. Dalam arti karyawan sudah dibayar sejumlah uang dan mereka harus bekerja sesuai dengan jam kerjanya.

Korupsi waktu juga dapat berupa penipuan lembur. Ngakunya lembur padahal dalam jam lembur tersebut kita tidak bekerja dengan sungguh-sungguh. Atau pada jam kerja kita menunda-nunda pekerjaan sehingga akhirnya kita harus lembur untuk menyelesaikannya.

Tetapi tidak dipungkiri bahwa ada juga perusahaan yang lebih menekankan pencapaian (achievement). Mereka tidak peduli seberapa cepat kita menyelesaikan pekerjaan, yang penting kita harus dapat menyelesaikannya tepat waktu. Nah, kalau sudah begini, kita harus disiplin dan jangan sampai pekerjaan kita tidak selesai dan berakibat molornya waktu untuk menyelesaikannya dibanding dengan waktu yang telah ditentukan.

Korupsi Cinta

Wah… Korupsi yang ini sih sulit sekali didefinisikan. Tetapi mungkin aku bisa sedikit memahaminya seperti berikut ini: Yaitu kita tidak menyelewengkan cinta dari keluarga kita. Mungkin korupsi cinta ini lebih tepat ditujukan bagi pasangan suami-istri supaya tidak menyelewengkan cintanya terhadap orang lain di luar pasangan resminya.

Penyelewengan ini bisa dalam arti memiliki suami/istri kedua, ketiga, dan seterusnya. Atau dengan memiliki orang lain sebagai selewengan dan telah terjerumus ke dalam dosa zinah. Nah, itu yang disebut korupsi cinta!

Lalu Bagaimana?

Memang sulit sekali lepas dari jeratan korupsi. Apalagi jika korupsi itu sudah mendarah daging dan telah menjadi budaya. Tetapi itulah pentingnya tema APP 2006 ini yang mengajak kita untuk bercermin dan bertanya: “Korupsikah aku?”

Berusaha jujur dalam menjawab pertanyaan yang diajukan dan ditujukan untuk diri sendiri ini sudah berupa suatu kemajuan. Tetapi berusaha untuk menyadari, menyesali, bertobat dan memperbaiki adalah suatu langkah menuju kemenangan. Hadiahnya sudah menunggu kita, yaitu berkat dari Tuhan Yesus Kristus yang telah dengan setia menanti kita untuk kembali ke jalan yang benar.

3 Tanggapan to "Tema APP 2006: Korupsikah Aku?"

Renungan yang menyejukkan. Pertanyaan reflektif ini menggugah kita untuk koreksi diri, menyadari bahwa ternyata selama ini kita telah menggeluti budaya permisif sehingga menyelewengkan dana, bolos, “selingkuh” dsb sudah merupakan hal yang lumrah sehingga kita sudah kebal. Lebih luas lagi, ternyata kita juga sering korupsi perhatian, sikap ramah, senyuman, pelayanan, maaf dan sebagainya yang seharusnya kita berikan pada sesama kita. Sesama kita berhak menerima semua itu karena dalam sesama itulah Tuhan berada. Maka dalam hal ini para biarawan pun tidak luput dari budaya korupsi yang perlu ditinggalkan. Betapa banyak para pastor yang tidak ramah kepada umatnya, tidak pernah senyum, tidak memberikan perhatian, tidak berkunjung ke keluarga yang barangkali memerlukan perhatian yang menyejukkan. Sikap ramah, senyuman, perhatian, pelayanan itu semua adalah hak umat – jadi apabila semua itu tidak diberikan pada umat, maka koruplah mereka. Semoga kita semua bisa berbenah diri sehingga pada pesta Paskah kita pantas bangkit bersama Kristus. Amin.

Hallo,

Lebih luas lagi, ternyata kita juga sering korupsi perhatian, sikap ramah, senyuman, pelayanan, maaf dan sebagainya yang seharusnya kita berikan pada sesama kita.

Mungkin dapat kita masukkan sebagai korupsi cinta-kasih, kalau kita mengasihi sesama kita, maka seharusnya kita tidak sombong, rendah hati, ramah, jujur, memaafkan, melayani, dll.

Wah, kalo soal korupsi aku kena banget, nih! Korupsi waktu adalah hal yang tiap hari kulakukan🙂 Bayangkan, aku tiba di kantor bisa jam 10 – 10.30 (kecuali kalo ada hal penting yang mendesak). Tapi pulangnya kadang lebih malam, sih. Tapi berkat perenungan ini aku jadi insyaf🙂 akan berusaha lebih pagi ke kantor so pulang juga jadi lebih cepat and waktu bersama anak-anak lebih banyak (wah, jangan2 ketemu anak2 cuma sebentar termasuk korupsi cinta, ya? Hiii, jangan sampai, deh!). Thanks, ya, atas renungannya. Semoga kita bisa lebih arif dalam menyikapi masalah korupsi dalam segala hal ini. God bless U. Bye…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Stat

Blog Stats

  • 395,785 hits
%d blogger menyukai ini: