Agamaku Kesaksianku

Saat Menderita di Dunia Ini

Posted on: Agustus 8, 2006

Dalam kehidupan ini kerap kali kita merasa kekurangan dan membuat kita menjadi menderita. Yang paling sering terjadi adalah kekurangan uang, padahal kita membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan kita sehari-hari sedangkan kita sudah berusaha dan berkeja dengan giat dan begitu kerasnya. Sering kita menjadi gelisah, takut dan tertekan oleh karenanya. Sedangkan benda-benda berharga juga sudah dijual untuk membiayai hidup ini.

Masalah yang klise? Lalu, apa yang harus kita lakukan?

  1. Berserah diri kepada Allah.
  2. Berbagi kasih kepada sesama.
  3. Berharap keselamatan Allah.

 

Berserah Diri Kepada Tuhan

Kita memiliki kemampuan untuk berpikir dan bertindak. Kita juga berhak memutuskan sesuatu, bekerja dan memperjuangkan kehendak kita. Tetapi kita tidak boleh lupa dan harus mengakui bahwa hanya Tuhanlah yang menciptakan segalanya, mengatur segalanya dan menentukan apa yang terjadi. Apapun yang kita lakukan, seberapa kuatnya kita berusaha, tetapi jika Allah tidak merestui, maka semua yang kita lakukan hanyalah sia-sia belaka.

Demikian juga sebaliknya, seringkali kita tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan limpahan berkat dan rahmat Allah. Untuk itu kita harus mempertebal iman kita untuk dapat terus berjuang sekaligus berserah diri kepada kehendak Allah.

Kita juga harus sadar dan yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan Kasih setia Tuhan selalu menghiasi sejarah manusia sepanjang jaman. Ketika Allah melawat manusia di bumi ini lewat Karya Keselamatan Yesus Kristus, Allah banyak menghibur kita yang dalam dalam keadaan kuatir, takut dan gelisah. Lihat saja ajaran Yesus Kristus berikut ini:

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan dan minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di Sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”

“Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Solomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” (Mat 6:25-30).

Allah jauh mengasihi umat manusia dan memberikan kelimpahan berkat dan rahmat bagi manusia melebihi segala mahluk ciptaan lain di bumi ini. Yang harus kita lakukan hanya: percaya dengan iman yang teguh dan mulai berserah diri kepada kehendak Allah.

 

Berbagi Kasih

Tetapi bagaimana supaya kita bisa mendapatkan kasih Allah yang melimpah tersebut? Untuk mendapatkan kasih berkat dan rahmat dari-Nya, Allah menghendaki kita juga memberikan kasih kepada sesama seperti Allah telah memberikan kasih-Nya kepada kita secara cuma-cuma. Kasih yang kita beri kepada sesama dapat berupa apa saja, misalnya: memberi makan sesama yang kelaparan, memberi minum, memberi tumpangan, memberi pakaian, melawat yang sakit, mengunjungi yang dipenjara, dan lain-lain (Mat 25:35-40).

Intinya kita harus murah hati dalam segala hal bagi sesama, terutama bagi sesama kita yang paling hina, karena: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40).

Kita tidak boleh memilih-milih dalam membagikan kasih dan berkat bagi sesama. Tidak hanya bagi keluarga, saudara atau teman dekat, tetapi juga bagi orang yang tidak dikenal yang sangat berkekurangan. Dengan membagikan sebagian dari berkat dan rejeki yang telah Allah berikan kepada kita bagi sesama, berarti kita juga telah membagikan kasih bagi mereka.

Tetapi seperti halnya Allah memberikan kasih-Nya kepada kita secara cuma-cuma, kita juga harus membagikan kasih kita dengan cuma-cuma: tanpa pamrih atau berharap imbalan dalam bentuk apapun. Kita harus memberinya dengan tulus ikhlas. Bahkan Yesus Kristus memberikan tips berikut ini: “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Mat 6:3)

Artinya kita harus rela dalam memberi. Tidak perlu publikasi, tidak usah berharap untuk mendapatkah pamrih, bahkan orang lain tidak perlu tahu apa yang telah kita perbuat dalam menolong sesama kita.

Seringkali orang berdebat mengenai jumlah yang pantas yang dapat kita berikan untuk berbagi berkat dan rejeki. Seringkali jumlah ini dikaitkan dengan angka sepersepuluh dari rejeki kita seperti yang telah terjadi turun temurun sejak jaman purba. Tetapi Yesus Kristus sendiri mendobrak aturan itu dengan berkata bahwa:

  1. Sepersepuluhan menjadi tidak berarti jika itu dilakukan dengan pamrih atau dengan penuh kemunafikan. Bahkan Allah akan mencelanya! (Mat 23:23; Luk 11:42)
  2. Jumlah yang kecil menjadi sangat berarti jika itu diberikan dari segala kekurangan kita dengan penuh kerelaan hati. (Mar 12:44; Luk 21:4)

Yang harus dipahami adalah: bukan jumlahnya, tetapi kerelaan dan kesesuaiannya. Percuma jika kita sengaja menyisihkan sepersepuluh dari rejeki kita yang melimpah tetapi ketika ada orang lain yang membutuhkan kita tidak bersedia menolongnya hanya karena menganggap telah memberikan persepuluhan yang jumlahnya cukup besar. Atau percuma juga ketika kita memberikan sepersepuluh dari rejeki kita tetapi kita banyak menceritakan derma tersebut dan menjadi bangga dan bermegah diri oleh karenanya.

Tetapi hendaknya kita memberikan pertolongan bagi siapa saja dan kapan saja walau pun kita juga sedang di tengah kesulitan dan kekurangan. Dan kita harus memberikannya dengan penuh kerelaan dalam hati yang dipenuhi kemurahan tanpa berharap imbalan atau pamrih apa pun.

 

Berharap Keselamatan Allah

Kita harus menyadari bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah berupa peziarahan hidup. Kita harus menyadari bahwa kehadiran kita di dunia ini hanya sementara dan sekejap saja. Kita harus mengisinya dengan penuh tanggung jawab dan penuh kasih. Untuk apa? Tentu saja untuk dapat kembali ke rumah Allah dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.

Seperti ketika kita mengendarai mobil malam hari dari kantor ke rumah, tentunya kita ingin dapat tiba di rumah dengan selamat, bukan? Kita sangat berharap dapat segera bertemu dengan keluarga kita di rumah. Demikian juga dengan hidup ini. Kita tentu ingin kembali ke rumah Allah dengan selamat, bukan? Apa yang harus kita lakukan?

  1. Selalu berdoa. Bahkan Yesus Kristus telah mengajarkan kepada manusia doa terbaik sepanjang masa yang ditujukan kepada Allah Bapa. Doa ini adalah doa yang paling efektif dan efisien, yaitu Doa Bapa Kami.
  2. Selalu berhati-hati dan berjaga-jaga. Walau pun telah berdoa, tetapi kita juga harus proaktif dalam berpikir, berbicara dan bertindak. Yesus Kristus telah memberikan banyak sekali perumpaman dan ajaran agar kita selalu berhati-hati dan berjaga-jaga dalam hidup ini.

Jadi peziarahan kita di bumi ini bukanlah ajang pencarian materi atau pun popularitas yang hanya dapat dikonsumsi oleh dunia dan manusia yang hidup. Karena jika demikian, mungkin kita tidak memperoleh keselamatan. Tetapi jadikanlah hidup kita ini berguna bagi Allah dan bagi seluruh manusia tanpa pandang bulu supaya kita beroleh keselamatan yang kekal yang dari Allah. Itulah harapan kita.

 

Penutup

Keseluruhan rangkaian di atas terjadi secara bersamaan. Sangat tidak bijaksana jika kita hanya berpegang pada 1 atau 2 bagian, sedangkan yang lain diabaikan. Banyak sekali kelompok yang mengutamakan point 1 dan 3, sedangkan point 2 diabaikan. Yang terjadi adalah arogansi dan tidak adanya toleransi. Bahkan menjurus ke terorisme demi memaksakan pemahamannya sendiri.

Sedangkan hanya berfokus pada point 3 membuat kita menjadi manusia yang tidak berguna. Demikian juga jika kita hanya berfokus pada point 2. Apa yang terjadi? Kita bisa kehilangan arah. Yang ekstrim adalah seperti paham komunisme atau sosialisme yang seolah kehilangan arah dan pedoman.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Kita harus mengemasnya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dilepaskan. Semuanya harus kita lakukan bersamaan dan seketika sehingga membentuk keseimbangan. Jika kita melakukan semuanya itu dengan seimbang, maka tidak hanya selamat dalam ziarah kehidupan di dunia ini, tetapi kita juga akan selamat sampai tiba kembali di rumah Allah.

Itulah Tritunggal Mahakudus Allah.

8 Tanggapan to "Saat Menderita di Dunia Ini"

pencerahan yang dahsyat! namun susah kalau mau merealisasikan🙂

Dear kw,
Benar, memang sangat sulit sekali. Tetapi selalulah berserah diri kepada Allah.

Salam.

Tapi ingat ya…berserah diri bukan berarti tidak berbuat apa-apa lho. Mari kita artikan berserah diri dengan “selalu memohon bimbingan Tuhan” dalam setiap masalah kita dan keputusan yang akan kita ambil.

Btw, aku sih percaya penuh akan Kasih Tuhan. Dan Dia tidak akan pernah membiarkan kita kelaparan bila kita percaya DIA ada.

Aku sendiri belum pernah kecewa oleh Tuhan….tapi aku sering mengecewakanNya. Untungnya Tuhan itu MAHAKASIH.

Iya, Mbakyu Lina.

Salam.

Setuju KW, ini tulisan yang dahsyat!

Tapi kenapa di akhir harus menyebut komunisme dan sosialisme seolah kehilangan arah?
Bukankah semua isme itu pernah kelihatan seolah kehilangan arah? Apalagi dimata mereka yang tidak suka.

Cuma sekedar tanya sih, entah arahnya kemana….
*menghilangkan arah*

@Wadehel:
Iya, karena komunisme & sosialisme tidak memiliki pedoman hidup karena tidak memiliki point 1 & seolah tidak memiliki harapan seperti yang terdapat di point 3.

Salam.

Pertanyaan yang aku mau lontarkan.
Tolong jawab di hati kita masing2 aja.

1. Siapa di dunia ini yg tidak ada masalah ?
2. Apakah anda yg paling menderita di Dunia ini ?
3. Sudahkah anda melihat di sekeliling kita yang lebih menderita dari kita ?

AKu hanya mau membagi sedikit apapun itu yg kita dapati maupun suka maupun duka coba kita tindaklanjuti atapun menanggapi semua itu dengan satu kata yg sangat mulia yakni BERSYUKURLAH.

INTI dari semua itu adalah BerSYUKURLAH Apapun yang terjadi di muka bumi ini pasti akan indah pada waktunya.
Terima Kasih

Tuhan memberkati

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Stat

Blog Stats

  • 395,785 hits
%d blogger menyukai ini: